Just little girl named Xiao Ai

Sabtu, 18 Januari 2014

FF To Late

Title : To Late
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
genre : romance gagal
Cast : Oh Sehun, Jung Jaejin

-story



-Jaejin line-

            Aku terus melihat ke arah jam tangan antik yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam antik dengan warna biru tua yang kusam itu menunjukan pukul 3:40.

            Dia, dia sudah terlambat 40 menit. Seperti kebiasaannya, selalu terlambat. Dia kira aku apa? Selalu harus sabar menungguinya yang egois tak mau disiplin waktu.

            Tanpa di duga, seorang lelaki tampan dan tinggi berdiri di hadapanku sambil bernafas tersenggal senggal.

“kau terlambat lagi..”
“mianhae chagiaa.. aku harus mengantar adikku les terlebih dahulu.. aku baru ingat kalau ada janji denganmu..”
“alasan saja.. kemarin mengantar ibumu belanja, sekarang mengantar adikmu les, besok mau kemana lagi?”
“jinjja mianhae chagiaa.. aku janji takkan mengulanginya lagi..”
“janji.. janji.. aku lelah dengan janjimu yang tak pernah kau tepati Oh Sehun!!”

            Namja tampan bernama Oh Sehun terdiam sejenak. Kemudian ia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Hangat.

“jeongmal mianhae chagiaa.. aku janji tidak akan terlambat lagi..”
“tapi kau kebiasaan Hunnie..”
“tidak.. aku akan merubahnya mulai sekarang..”
“bohong..”
“hehe..”

            Benarkan, jelas pasti dia berbohong. Mana mungkin seorang Oh Sehun mampu menepati janjinya, apalagi untuk disiplin waktu.

            Sebenarnya aku tidak suka dengan orang yang selalu mengulur waktu, tapi entah kenapa. Setiap melihat Sehun memohon maaf, aku tak kuasa melihatnya.

“jadi sekarang kita kemana?”
“kemana? Kau hanpir terlambat 1 jam.. toko itu sudah tutup..”
“ahh mianhae..”

            Bahkan aku harus merelakan sebuah baju diskon karena toko sudah tutup karena keterlambatan Sehun. Ini menyebalkan.

“aku akan membelikan baju itu untukmu..”
“itu tidak akan ada lagi Oh Sehun..”

            Aku duduk di bangku taman. Dia juga ikut di sampingku

“mianhae chagi..”

            Katanya sambil menggenggam tanganku lembut, terpancar dari wajah innoncentnya bahwa ia benar benar menyesal.

“nae.. kali ini aku maafkan.. tapi tidak untuk lain kali..”
“ahh gomawo chagiiaa..”

            Dia memelukku lagi dengan erat. Aku membalasnya sambil tersenyum.

“gajja.. aku akan mentraktirmu makan daging..”
“jinjja? Gajja..”

            Kami berdua pun pergi ke sebuah restoran daging.

“wahh.. aku sangat kenyang..”

            Ucapnya sambil mengusap usap perutnya setelah kami selesai makan bersama.

“kau benar benar tidak rapi.. lihat bibirmu..”
“waeyo?”

            Dia menjilati sekitar bibirnya, namun nodanya masih ada. Aku hanya mendecak kesal.

“itu di pipimu..”

            Sehun pun mengusapnya dengan tangannya

“jorok..”
“kau sih.. tidak mau membersihkannya..”
“kenapa aku? Manja sekali kau..”

            Ehh dia malah mehrong

“hunnie..”
“hmm?”
“aku akan meneruskan sekolahku..”
“tentu saja.. aku juga..”
“tapi aku tidak meneruskan disini..”
“mwo?”
           
            Sehun menatapku dengan tatapan bingung dan innoncent.

“aku akan ke Jepang..”
“andwee!!”

            Larangnya sambil memegang tanganku

“kau tetap disini bersamaku.. nanti siapa yang akan menemaniku?”
“aku..”
“tidak.. kau tidak boleh pergi.. selangkahpun dariku.. tidak!!”

            Aku hanya menelan ludahku sendiri, Sehun menatapku tajam, seakan dia akan membunuhku jika aku pergi.

“kau mengerti?!”
“tapi.. aku sudah di terima disana.. dan kepergianku.. tinggal besok..”

            Namja tampan dihadapanku ini terdiam, ia melepas genggamannya dna menunduk. Aku bisa melihat air matanya jatuh.

“tapi aku tidak bisa tanpamu.. hiks..”
“hunnie..”

            Aku benar benar tersiksa jika harus mengucapkan perpisahan dengannya. Aku ganti memegang tangannya.

“kau pasti bisa hunnie.. kau adalah namja chinguku yang kuat bukan.. aku akan kembali secepatnya saat liburan nanti..”
“tapi.. kau terlalu cepat.. kau.. kau jahat.. tak memberi tahuku sebelumnya.. ini terlalu mendadak jaejin..”

            Sehun masih terisak, astaga kenapa namja ini cengeng sekali? Pasti Tao yang sudah menularinya*lirik Tao (Tao : bukan aku kok T.T)

“sudah jangan menangis.. besok datanglah jam 8:30 di Bandara.. kau akan mengantarku kan?..”
“nae..”

            Aku tersenyum dan menghapus air mata yang ada di pipi tirusnya.

“gajja pulang..”
“kau yang traktir.. aku lupa bawa uang..”

            Aishh dasar kebiasaan!

“nae arraseo..”

            Akhirnya aku pun pasrah, membayar makan bersama namja chinguku lagi. Memang menyebalkan, tapi anggap saja sebagai traktir terakhir sebelum aku pergi ke Jepang.

            Malamnya, aku benar benar khawatir, akankah namja ini akan datang tepat waktu? Semoga saja Tuhan bisa menyadarkan dirinya.

            Aku menghampiri Appaku yang sedang sibuk dengan berkas berkas kantornya. Dia akan pindah tugas ke Jepang. Makanya aku dan eomma dan juga kakak laki lakiku juga ikut pindah.

“appa..”
“ya?”
“apa aku juga harus ikut pindah ke Jepang?”
“tentu saja, di sana sekolahnya juga bagus bagus seperti disini..”
“tapi..”
“Sehun tak mengizinkanmu, eoh?”

            Astaga, bagaimana appa bisa tahu? Ya sudahlah, aku hanya mengangguk pasrah. Memang hanya itu alasannya.

“terkadang kita perlu pengorbanan untuk yang namanya cinta.. setelah nanti kau pergi jauh dan lama darinya.. saat kau kembali.. jika kalian saling mempercayai kalian bisa bersatu lagi..”

            Jelas appa panjang lebar kali tinggi, aku menghela nafas

“apa appa sedang bermaksud melarangku?!”
“kau tahu itu sayang.. appa takut jika nanti kau disini sendirian dan.. yahh kau tahu kan? Kau anak perempuan.. kau gadis cantik yang masih rentan dengan pergaulan..”
“kan ada Sehun..”
“Sehun tak mungkin memantaumu 24 jam kan? Tidak mungkin Sehun akan sehari semalaman penuh berada di sampingmu..”
“aku bisa jaga diri..”
“kau yakin? Kau adalah gadis kecil appa yang sangat manja dan masih kekanak kanakan.. jadi appa dan eomma sulit melepasmu..”
“tapi aku..”
“jaejin..”

-Sehun line-

            Jam menunjukan pukul 7:30. WHAT? 7:30? Dan aku baru bangun tidur. Sementara keberangkatan Jaejin jam 9.. Oh my god oh my no oh my WOOWW.

            Langsung aku buru buru ke kamar mandi, memakai pakaian serapih mungkin, mengenakan prafum sewangi mungkin, dan berdandan setampan mungkin. Mungkin saja ini akan membuat Jaejin enggan meninggalkanku. Kekke >.<

            Aku baru saja hendak mengenakan helmku, tiba tiba

“SEHUN!!”
“nae eomma??”
“antarkan eomma ke rumah kim ahjumma..”
“mwo? Sireoo.. aku ada urusan penting eomma!!”
“tidak ada penolakan.. palli..”

            Astaga eomma, aku benar benar akan kehilangan kekasihku kali ini.

            Setelah sampai mengantar eomma, aku langsung menancap gas pergi ke Bandara. Air mataku terus mengalir saat ponselku terus berbunyi di perjalanan. Jam sudah menunjukan pukul 8:21.

          Sampai di Bandara aku langsung memarkir motorku dan berlari mencari Jaejin. Namun apa? Yang ku temukan hanyalah sebuah pengumuman dari pengeras suara.

‘perhatian perhatian.. pesawat Korean Air menuju Tokyo, Jepang, akan segera meninggalkan lapangan landasan..’
*ini pengumuman author ngawurin lhoo yaa :3*

#deghhh

            Nyaris jantungku berhenti saat ini juga, aku jatuh terduduk menutupi wajahku dan mulai menangis. Tidak peduli banyak orang yang memperhatikan ku, yang penting sekarang. Aku sudah tak bisa melihat wajah cantik kekasihku lagi.

“hunnie..”

            Suara ini, apa karena saking sedihnya aku, aku menjaid berhalusinasi seperti ini.

“sehunnie.. oh sehunnie..”

            Seseorang menepuk pundakku, aku pun menoleh. Astaga, aku tidak tau kenapa halusinasi menjadi seperti ini.

“ch.. chagiaa..”

            Yeoja cantik di hadapanku ini langsung memelukku, dan aku pun membalasnya.

“aku tidak jadi pergi hunnie..”
“mwo? Wae?”
“karena aku ingin bersamamu..”
“tapi aku terlambat.. harusnya kau..”
“aku tahu kau akan terlambat.. tadinya aku memang ingin pergi ke Jepang jika kau tidak datang tepat waktu.. tapi.. mungkin dengan ini kau bisa merubah sikapmu.. agar kau lebih tepat waktu..”
“mianhae chagi.. jinjja mianhae.. aku janji.. aku janji tidak akan terlambat lagi.. hikss hiks..”
“sudahlah.. uljima..”
“gomawo chagi.. aku janji akan lebih tepat waktu.. dan jangan coba pergi dariku lagi..”

Chuuu~~~~~~~

            Akupun mencium bibirnya lembut


-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar