Title : Like Star in the Sky
Genre : tentukan sendiri
Cast : Zhang Yi Xing a.k.a Lay, Jung Jaejin, and other
--story
Dentingan
suara piano menggema di cafe bernuansa romantis itu. Sang pianist masih asyik
bermain dengan pianonya, walau ia sudah bermain kurang lebih 2 jam. Lagu yang
dia bawakan juga menambah kesan romantis di cafe itu.
Permainan
pianonya itu terhenti, ketika semua pelanggan sudah tak ada yang berkunjung
lagi di cafe itu. Namja yang di ketahui berkebangsaan China dan bernama Zhang
Yi Xing dengan panggilan Lay itupun segera merapihkan alat musiknya, sebenarnya
ia hanya membawa gitar clasic.
“changkkaman..”
Lay menoleh
ketika mendengar seseorang seperti berkata padanya.
“aku?!”
“iya kamu..”
Yeoja itu
mendekat pada Lay
“kau? Waiters baru ya?”
Lay bertanya
dengan suara lembutnya, di sambut dengan senyum malu malu oleh yeoja itu.
“nae.. jung jaejin.. ireumi mwoeyeo?”
Lay menjabat
tangan yeoja yang terulur itu. Kemudian tersenyum manis, memperlihatkan lesung
pipinya yang dalam.
“Zhang Yi Xing..”
Mereka
berdua pun pulang bersama sambil mengobrol tentang masing masing dari mereka.
-skip-
Sudah 2
bulan ini Lay sangat dekat dengan Jaejin sejak malam itu. Lay mulai merasakan
getaran-getaran aneh saat mereka bertemu. Jujur saja, Lay ingin mengutarakan
perasaannya pada Jaejin.
Malam ini,
Lay memberanikan diri untuk menemui Jaejin. Namun tak disangka, Lay sudah
bertemu Jaejin di taman dekat rumah Jaejin.
Jantung Lay
serasa ingin berhenti berdetak, rasa sakit menyeruak di seluruh tubuhnya,
ketika jaejin dipeluk mesra oleh namja yang sedari tadi menggandeng tangannya.
Lay memegang
dadanya yang benar benar merasakan sakit luar biasa. Wajahnya merah padam.
Tangannya mengepal di atas dadanya.
“oppa.. kuharap kau segera kembali..”
Namja yang
bersama jaejin itu mengusap pipi jaejin yang basah karena air mata.
“oppa akan kembali secepat mungkin..”
Jaejin
tersenyum, namja itupun mengecup kening Jaejin perlahan.
Sungguh, itu
pandangan yang semakin menyiksa Lay. Lay langsung pergi begitu saja dari tempat
itu sambil menahan air matanya.
Esoknya, Lay
tidak berangkat bekerja ke cafe. Dia memilih diam di dalam apartementnya. Hal
itu tentu saja membuat Jaejin yang ada di cafe merasa bosan, karena biasanya
Lay adalah moodmakernya di cafe.
Kali ini,
Jaejin berinisiatif untuk datang ke apartement Lay. Setelah sampai di
apartement Lay. Jaejin pun segera mengetuk pintunya.
“ada apa?”
Lay bertanya
dengan judesnya saat ia membuka pintu, dan menemukan sosok Jaejin di baliknya.
“kenapa kau seperti itu,eoh? Aku hanya ingin mengunjungimu?! Kenapa
hari ini kau tidak masuk, eoh?”
Lay menghela
nafas mendengar penuturan Jaejin.
“ini bukan urusanmu! Sebaiknya kau pulang dan urus namja
chingumu..”
“namja chingu?! Nugu?”
Sebenarnya ini
pertanyaan yang aneh di telinga Lay, bagaimana bisa Jaejin menanyainya tentang
namjachingu.
“tidak perlu pura pura bodoh.. namjamu akan membunuhku jika
dia tahu kau bersamaku..”
“tapi.. aku tidak punya namja chingu..”
Jaejin juga
benar benar bingung, bagaimana bisa Lay menyebutkan dirinya sudah punya namja
chingu.
Tanpa
perkataan lain lagi, Lay langsung menutup pintunya. Dan membiarkan Jaejin masih
di luar.
“hiks.. padahal.. aku ingin.. hiks..”
Jaejin
mengusap air matanya yang entah sejak kapan itu sudah mengalir deras. Dan
kemudian Jaejin pun pergi.
Di dalam
apartementnya, pikiran Lay terus melayang layang tentang kejadian tadi siang
bersama Jaejin.
“gege..”
Lay
menolehkan kepalanya ketika seseorang memanggilnya
“apa?”
“aku ingin jalan jalan di Seoul sebelum besok aku kembali ke
China..”
“bukankah kau kemarin sudah jalan jalan bersama temanmu..”
“aisshh.. aku ingin pergi bersama gege..”
Ucap adik
Lay manja. Lay hanya menghela nafas dan segera mengambil mantelnya untuk
mengantar adiknya itu jalan jalan di Seoul.
Adik Lay
melihat lihat berbagai macam pernak pernik wanita. Memang adik Lay satu ini
sangat feminim. Mereka (Lay dan adiknya), akan membuat semua orang salah faham
jika melihatnya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih daripada adik kakak.
“Lay..”
Suara ini
sangat familiar di telinga Lay, Lay langsung menoleh. Ia kaget melihat Jaejin
di belakangnya dengan air mata yang mengalir. Jujur saja, hati Lay sangat
sakit. Namun ia tetap mempertahankan egonya sebagai seorang pria.
“dia siapa?”
Lay
mengikuti arah pandang Jaejin, Lay tau ia akan mengambil resiko berat. Tapi dia
benar benar bingung dengan situasi ini.
“kekasihku..”
Bagai di
sambar petir, pertahanan hati Jaejin hancur sudah mendengar pengakuan Lay
tentang kekasihnya.
“syukurlah.. kau sudah memiliki kekasih..”
“kau juga..”
“aku tidak pernah memiliki kekasih.. lelaki itu kakak laki
lakiku yang akan pergi sekolah ke Jerman, Jung Yonghwa..”
Lay yang
mendengar jawaban itu berdiri kaku.
“mungkin kau salah faham.. tapi ya sudahlah.. ku kira aku
belum terlambat, ternyata kau malah sudah memiliki kekasih..”
“dia.. dia bukan.. kekasihku.. dia adikku..”
“kau jangan berbohong Zhang Yi Xing.. haha.. kalau begitu aku
pergi dulu.. anyeong..”
Jaejin
tertawa miris lalu pergi menjauhi Lay. Lay terdiam membatu. Adiknya menghampiri
Lay.
“ge, kau kenapa? Dia siapa?”
“jung jaejin..”
“siapa? Jaejin?”
Air mata Lay
jatuh seketika, melihat itu tentu saja adik Lay menjadi bingung.
“ge.. sudahlah.. ayo pulang..”
Lay dan
adiknya pun pulang. Saat hendak tidur tak sengaja Lay menjatuhkan bingkai foto
Jaejin yang ada di mejanya. Perasaan Lay benar benar tidak enak. Saat tidur ia
juga sama sekali tak bisa memejamkan matanya.
Esoknya,
saat Lay selesai mandi dia mendapatkan sebuah telfon. Ternyata itu dari bos di
cafenya
“Lay?”
“nae sajangnim?”
“kuharap kau bisa datang ke cafe jam 8..”
“jam 8, untuk apa?”
“kita akan bersama menghadiri pemakaman Jaejin..”
Tubuh Lay lemas
seketika mendengar kabar itu
“maksud sajangnim apa? Pemakaman siapa?”
“Jaejin meninggal tadi malam setelah kecelakaan di gangnam..”
Lay
mematikan telfonnya begitu saja, ia ambruk dan menangis sekencang kencangnya.
Ia memukul kepalanya sendiri, betapa bodohnya dirinya karena tak bisa menjaga
Jaejin seperti janjinya dulu.
“ge ada apa?”
Adik Lay
masuk ke kamar Lay panik, melihat kakak kesayangannya itu histeris.
Di pemakaman
Jaejin, Lay tak kuasa menahan tangisnya. Setelah semua orang pergi dari
pemakaman, hanya Lay yang masih berada di samping makam Jaejin. Lay menyentuh
nisan bertuliskan nama jaejin dengan sangat jelas.
“mianhae.. aku bukan sahabat yang baik..”
Lay merogoh
sakunya, membuka surat yang di berikan ibu Jaejin padanya tadi sebelum
berangkat ke pemakaman.
Untuk Lay
yang pelupa :D
Anyeonghasseo Lay?! Bagaimana kabarmu
saat ini? Ah ku harap kau baik baik saja.. dan semoga hubunganmu bersama
kekasihmu itu langgeng ya hehe..
Mungkin saat kau membaca surat ini,
aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku pergi ke dunia yang lain darimu.
Biarkan saja dunia kita berbeda,
tapi aku tetap akan mencintaimu.. kau tahu lay? Aku sangat sedih mendengarmu
sudah memiliki kekasih.. memang terlalu lancang mengatakan ini.. tapi harus kau
ketahui! Malam itu, aku pergi mencarimu, kau tahu? Aku mencarimu karena aku
ingin mengatakan kalau aku mencintaimu..
Soal namja chingu yang kau maksud
itu, mungkin saat malam hari aku bersama kakak laki lakiku, dia akan pergi ke
Jerman dan aku mengajaknya untuk berjalan jalan sekedar untuk melepas rinduku
nanti.
Kuharap, di kehidupan berikutnya,
kita bisa bertemu. Aku benar benar ingin mengatakan kalau aku sangat
mencintaimu. Pertama kali kita bertemu 2 bulan lalu, dan selama mengenalmu kau
adalah sosok namja yang tampan, manis, baik, dan perhatian padaku, menurutku..
Dan satu lagi, jika kau menangis. Hapus
air matamu dan berhentilah menangis. Jika kau minta, aku akan selalu bersamamu,
mendampingimu di sisimu, walau aku bukanlah jaejin seorang manusia yang
sempurna untuk bersamamu..
Gomawo lay atas semua perhatianmu
padaku, atas semuanya aku sangat berterimakasih..
Dari Jaejin
yang mencintaimu..
Hati Lay hancur berkeping keping
ketika ia membaca surat itu, ia langsung memeluk insan batu itu dengan sangat
erat.
“jaejin mianhae.. harusnya aku tidak egois.. harusnya aku
mendengarmu.. jinjja mianhae.. aku janji, aku akan selalu mencintaimu sampai
akhir hayatku.. kau adalah bintangku yang selalu bersinar di langit hatiku..
selamanya..”
-THE END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar