Just little girl named Xiao Ai

Kamis, 16 Januari 2014

FF The Letter

Title : The Letter
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : sad romance
Cast : Park Chanyeol, Jung Jaejin
Note : Cerita ini sedikit terinspirasi dengan MV dari The Letter-Davichi

--story

-Chanyeol line



From : my baby
            Oppa, datanglah ke sungai han sore ini, jeball..

            Aku mengerenyitkan keningku ketika mendapatkan pesan singkat dari yeoja chinguku, Jung Jaejin. Tumben sekali yeoja ini yang mengajakku pergi.

            Segera kuhubungi saja dia, mungkin dia salah kirim atau dia sedang pusing sehingga salah ketik atau apalah segala macam itu.

“yeoboseyoo.. chagiaa?”
“yeoboseyo..”

            Kenapa dengan suaranya? Kenapa dia begitu lemah? Biasanya suaranya sangat nyaring dan ceria.

“chagi.. kau mengajakku ke sungai han,eoh?”
“nae.. datanglah..”
“untuk apa?”
“datang saja..”

            YAKK! Ini bukan Jung Jaejinku! Jaejinku adalah yeoja yang tak pernah membalas percakapan dengan orang yang dekat dengannya dengan ucapan singkat. Ini bukan Jaejin.

“chagiaa.. itukah kau? Kenapa kau begitu aneh?”
“gwenchana..”

            Ini benar benar bukan Jaejin.

“kau sakit?”
“ani..”
“lalu apa? Kenapa kau menjadi seperti ini? Tidak biasanya kau diam seperti ini.. kau aneh chagiaa..”
“gwenchana..”
“berhenti untuk mengatakan tidak apa apa! Kau sakit?! Iya kan?”

            Lama tak terdengar suaranya

“chagi.. kau masih disana?”
“hikss hiks..”

            Kenapa dia malah menangis, aissh hatiku terasa sangat teriris jika harus mendengar suara tangisnya.

“chagi.. wae? Kenapa menangis?”

            Tanyaku pelan dan lembut

“datanglah..”

            MWO? Hanya itu? Dan apa? Dia malah menutup telfonnya. Aku yakin, ini bukan Jaejin. Lalu dia siapa? Aishh..
            Sorenya, seperti kemauan Jaejin aku datang ke Sungai Han. Dia sudah duduk di bangku tepi sungai. Aku menutup matanya dengan telapak tanganku.

“oppa..”

            Dia menyentuh tanganku, aku terkikik pelan tanpa melepas tanganku.

“oppa hentikan, jangan bercanda..”

Chuuu~~

            Aku mencium kedua pipinya bergantian dari belakang lalu duduk di sampingnya dan menggenggam erat kedua tangannya.

“sudah lama menunggu?”
“ani.. aku juga baru sampai..”

            Aku tersenyum mendengar jawabannya, setidaknya dia tak menunggu lama. Tapi, WAIT.. biasanya Jaejin akan selalu marah marah aku datang terlambat sedetik pun.

“chagi.. hari ini kau aneh..”
“jinjja?”
“benarkan kau aneh.. kau sangat singkat membalas perkataanku..”
“mianhae..”
“chagiaaa!! Jangan membuatku marah!!”
“lalu apa?”

            Aishh, yeoja ini kenapa sebenarnya. Aku meraih tengkuknya dan mencium kasar bibirnya. Dia hanya diam tak merespon. Aku melepas tautan kami.

“kau tak marah?”
“untuk apa? Kau namjaku..”

            ANDWEE!! Ini bukan Jaejin, Jaejin akan selalu marah jika aku menciumnya tiba tiba begini. Bahkan dia akan memukulku.

“chagiaa..”
“hmm?”

            Aku benar benar ingin berteriak, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejin.

            Jaejin meraih tanganku dan memberikan sebuah cincin.

“pakai itu..”

            Aku memasangnya di jemariku. Cocok, dan bagus. Aku menatap kedua wajahnya, hei, kenapa wajahnya begitu pucat.

“chagiaa.. kau sakit?”

            Aku memegang kedua pipinya yang kenapa entah kenapa berubah menjadi tirus. Padahal kemarin aku masih melihat pipi chubbynya yang luar biasa ingin membuatku menggigitnya.

“aniaa.. kau suka cincin itu?”

            Harus ku akui, sikapnya sekarang membuatku kesal. Memang dia selalu membuatku kesal, tapi ini beda, ini beda situasi. Biasanya aku kesal gemas oleh tingkahnya, sedangkan ini? Aku kesal, emosi batin -,-

“katakan padaku.. apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau aneh?”
“aku tidak aneh..”

            Harusnya dia juga marah karena aku mengatai dirinya aneh.

“oppa.. jika nanti aku tidak ada apa kau akan tetap mencintaiku?”

            Pertanyaan macam apa ini? Kenapa ia mengatakan hal yang tidak tidak?

“waeyo? Kenapa bertanya seperti itu?”
“jika nanti aku tidak ada.. apa kau akan tetap mencintaiku?”
“Jaejin..”
“katakan padaku oppa.. apa kau akan mencintaiku selamanya walau aku nanti sudah mati?”

            Aku memeluknya, karena air matanya tiba tiba mengalir begitu saja. Itu membuatku sangat sakit melihat dan mendengar tangisnya.

“kau kenapa sayang.. kau jangan buat aku takut..”

            Aku mengusap rambut lurusnya, dia mencengkeram kemejaku erat dan berusaha menahan tangis.

“menangislah.. dan katakan padaku apa yang terjadi..”

            Akhirnya tangisnya meledak, dia menenggelamkan kepalanya di dada bidangku, tangannya melingkar di leherku. Sementara aku menyandarkan daguku di puncak kepalanya, berusaha menenangkan yeoja yang sangat ku cintai ini.

            Matahari mulai terbenam, buru buru Jaejin melepaskan pelukannya dan menatap ke arah barat. Ia menatap matahari itu seakan akan dia takkan bisa melihat matahari itu lagi selamanya.

“chagia..”

            Aku memegang pundaknya dan membalikan tubuhnya setelah matahari benar benar sudah tenggelam. Pipinya penuh dengan air mata, matanya juga masih mengeluarkan air mata. Ini sungguh pemandangan yang luar biasa menyiksa batinku.

“uljima.. kau kenapa?”

            Jujur saja, aku benar benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada yeoja chinguku ini.

“bisakah oppa menyanyikan aku lagu?”
“tentu.. aku akan menyanyikan lagu baby dont cry.. dan jangan menangis..”
Dia mengangguk, Aku kembali merengkuhnya dalam pelukanku, dan aku mulai menyanyikan lirik lirik lagu Baby dont cry.

            Dia malah kembali terisak

“hiks.. mianhae oppa.. mianhae aku tidak bisa menjadi yeoja yang sempurna untukmu..”
“aniaa chagi.. kau selalu di sampingku itu sudah cukup..”
“tapi aku tidak bisa..”
“chagiaa.. jangan buat aku takut.. dan tetaplah disini bersamaku..”

            Aku memeluknya erat. Dan malam yang dingin itu ku akhiri dengan sebuah ciuman mesra dengan kekasihku ini.

Drrt drrt

            Jam 5 pagi, siapa yang memberikanku pesan sepagi ini

From : my baby
            Oppa datanglah ke sungai han sekarang! Jebal!

            Aku mengucek mataku, benarkah dia mengirimku pesan seperti ini, sepagi ini? Dengan malas aku pergi ke kamar mandi mempersiapkan diri.

            Baru saja aku ingin memakai jaketku ada seseorang yang menelfon.

“park chanyeol..”

            Ini ibu Jaejin, ada apa ini?

“nae ahjumma?”
“hiks hiks..”
“ada apa ahjumma?”
“jaejin..”
“jaejin kenapa?”

            Tanyaku kalap, ini benar benar aneh.

“dia meninggal..”
           
            Jantungku nyaris berhenti berdetak mendengar ucapan calon mertuaku itu. Ponselku jatuh bebas begitu saja. Air mataku juga, mengalir bebas tanpa pesetujuan dariku.

“ch..chagiaa..”

            Tanpa basa basi aku langsung pergi ke sungai han, tak peduli aku masih menggunakan kaus kaki dan sandal rumah. Yang penting aku sampai di Sungai Han secepatnya.

            Aku berlari menuju bangku terakhir dimana aku dan jaejin bertemu. Aku jatuh terduduk ketika aku tak menemukan seseorang yeoja yang ku cari cari disana. Hanya ada 2 lembar amplop bertindihkan dengan sebuah kotak.

            Kuraih kotak itu dan kubuka, berpuluh puluh foto mesraku bersama Jaejin, bahkan surat surat saat saat pertama dulu kami dekat. Aku dulu memang dekat dengannya karena kami saling mengirim surat.

            Setelah puas mengamati foto foto mesra dan membaca surat surat kami, aku berlaih menuju ke sebuah amplop besar dengan cap sebuah rumah sakit besar di kota ini.

           Jantungku benar benar ingin berhenti saat itu juga, Jaejin.. kekasihku tersayang ini rupanya.. dia sakit.. dia sakit kanker otak.. kenapa dia tidak bilang padaku.. Aku tak kuasa menahan tangisku, dan terakhir aku membaca surat beramplop pink.

Dear chanyeol oppa

            Oppa anyeong^^ bagaimana harimu? Bagaimana pula keadaanmu? Kuharap kau sehat selalu.. tak sama sepertiku :( yang harus pergi mendahului mu..

            Mianhae oppa, aku tak pernah mengatakan ini padamu.. aku juga baru tahu tentang penyakitku kemarin pagi..

            Aku menulis surat ini tadi malam, sebelum aku benar benar akan merasakan bagaimana rasanya malaikat menjemputku kembali ke pangkuan Tuhan.

            Oppa jangan menangis, aku tahu ini menyakitkan, tapi ikhlaskanlah aku pergi untuk selamanya. Dan setelah di Surga nanti, kita akan kembali bersama, menjadi satu untuk SELAMA LAMANYA :)

            Oppa, permintaanku hanya satu, cintailah aku sepanjang usiamu, sampai nanti kita di pertemukan lagi, aku akan selalu menunggumu.. aku selalu ada di sampingmu..

            Ahh sepertinya tanganku sudah tak kuat lagi, ini mungkin menjadi surat terakhirku untukmu.. aku menyayangimu.. I LOVE YOU FOREVER, PARK CHANYEOL..

Dari kekasihmu yang nakal :p

            Tuhan! Kenapa kau memberikan aku cobaan seberat ini? Kenapa aku harus di tinggalkan oleh orang yang sangat kucintai secepat ini? Aku tidak sanggup hidup tanpanya.

            Aku berdiri, memasukan semua surat surat itu di kotak dan merengkuhnya di jaketku. Entah sadar atau tidak. Langkah kakiku membawaku menuju tepi sungai Han dan...

“aku takut chagi.. aku takut nanti aku tak mencintaimu lagi.. jadi biarkan aku ikut bersamamu.. aku takut aku akan melupakanmu nanti..”

#byuurr

-other place-

            Aku membuka mataku, dimana aku? Apa aku masih hidup? Aku mengedarkan pandanganku. Sebuah padang rumput yang indah. Hei, kenapa pakaianku serba putih, sweater putih, celana putih, dan.. oh, aku merasa diriku sangat tampan  

#greep

            Seseorang memelukku dari belakang, aku menoleh. Betapa terkejutnya aku, melihat seseorang yang kucintai kini berada di hadapanku, dia mengenakan dress selutut berwarna putih, senada dengan baju yang ku kenakan. Semua serba putih.

“chagiaa?..”

            Aku memeluknya erat.

“oppa.. saranghae..”
“nado saranghae chagiaa..”
“sekarang kau ikut aku.. kita ke tempat yang paling indah.. kita akan bersama selamanya disana..”

            Dia menarik tanganku dan membawaku pergi.
            Tuhan, terima kasih telah memberikanku sebuah keajaiban. Terimakasih telah membiarkan aku kembali bersama Jaejin untuk SELAMANYA.


-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar