Title : The Letter
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : sad romance
Cast : Park Chanyeol, Jung Jaejin
Note : Cerita ini sedikit terinspirasi dengan MV dari The
Letter-Davichi
--story
-Chanyeol line
From : my
baby
Oppa, datanglah ke sungai han sore
ini, jeball..
Aku
mengerenyitkan keningku ketika mendapatkan pesan singkat dari yeoja chinguku,
Jung Jaejin. Tumben sekali yeoja ini yang mengajakku pergi.
Segera
kuhubungi saja dia, mungkin dia salah kirim atau dia sedang pusing sehingga
salah ketik atau apalah segala macam itu.
“yeoboseyoo.. chagiaa?”
“yeoboseyo..”
Kenapa
dengan suaranya? Kenapa dia begitu lemah? Biasanya suaranya sangat nyaring dan
ceria.
“chagi.. kau mengajakku ke sungai han,eoh?”
“nae.. datanglah..”
“untuk apa?”
“datang saja..”
YAKK! Ini
bukan Jung Jaejinku! Jaejinku adalah yeoja yang tak pernah membalas percakapan
dengan orang yang dekat dengannya dengan ucapan singkat. Ini bukan Jaejin.
“chagiaa.. itukah kau? Kenapa kau begitu aneh?”
“gwenchana..”
Ini benar
benar bukan Jaejin.
“kau sakit?”
“ani..”
“lalu apa? Kenapa kau menjadi seperti ini? Tidak biasanya kau
diam seperti ini.. kau aneh chagiaa..”
“gwenchana..”
“berhenti untuk mengatakan tidak apa apa! Kau sakit?! Iya
kan?”
Lama tak
terdengar suaranya
“chagi.. kau masih disana?”
“hikss hiks..”
Kenapa dia
malah menangis, aissh hatiku terasa sangat teriris jika harus mendengar suara
tangisnya.
“chagi.. wae? Kenapa menangis?”
Tanyaku
pelan dan lembut
“datanglah..”
MWO? Hanya
itu? Dan apa? Dia malah menutup telfonnya. Aku yakin, ini bukan Jaejin. Lalu
dia siapa? Aishh..
Sorenya,
seperti kemauan Jaejin aku datang ke Sungai Han. Dia sudah duduk di bangku tepi
sungai. Aku menutup matanya dengan telapak tanganku.
“oppa..”
Dia
menyentuh tanganku, aku terkikik pelan tanpa melepas tanganku.
“oppa hentikan, jangan bercanda..”
Chuuu~~
Aku mencium
kedua pipinya bergantian dari belakang lalu duduk di sampingnya dan menggenggam
erat kedua tangannya.
“sudah lama menunggu?”
“ani.. aku juga baru sampai..”
Aku
tersenyum mendengar jawabannya, setidaknya dia tak menunggu lama. Tapi, WAIT..
biasanya Jaejin akan selalu marah marah aku datang terlambat sedetik pun.
“chagi.. hari ini kau aneh..”
“jinjja?”
“benarkan kau aneh.. kau sangat singkat membalas
perkataanku..”
“mianhae..”
“chagiaaa!! Jangan membuatku marah!!”
“lalu apa?”
Aishh, yeoja
ini kenapa sebenarnya. Aku meraih tengkuknya dan mencium kasar bibirnya. Dia
hanya diam tak merespon. Aku melepas tautan kami.
“kau tak marah?”
“untuk apa? Kau namjaku..”
ANDWEE!! Ini
bukan Jaejin, Jaejin akan selalu marah jika aku menciumnya tiba tiba begini.
Bahkan dia akan memukulku.
“chagiaa..”
“hmm?”
Aku benar
benar ingin berteriak, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejin.
Jaejin
meraih tanganku dan memberikan sebuah cincin.
“pakai itu..”
Aku
memasangnya di jemariku. Cocok, dan bagus. Aku menatap kedua wajahnya, hei,
kenapa wajahnya begitu pucat.
“chagiaa.. kau sakit?”
Aku memegang
kedua pipinya yang kenapa entah kenapa berubah menjadi tirus. Padahal kemarin
aku masih melihat pipi chubbynya yang luar biasa ingin membuatku menggigitnya.
“aniaa.. kau suka cincin itu?”
Harus ku
akui, sikapnya sekarang membuatku kesal. Memang dia selalu membuatku kesal,
tapi ini beda, ini beda situasi. Biasanya aku kesal gemas oleh tingkahnya,
sedangkan ini? Aku kesal, emosi batin -,-
“katakan padaku.. apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa
kau aneh?”
“aku tidak aneh..”
Harusnya dia
juga marah karena aku mengatai dirinya aneh.
“oppa.. jika nanti aku tidak ada apa kau akan tetap
mencintaiku?”
Pertanyaan
macam apa ini? Kenapa ia mengatakan hal yang tidak tidak?
“waeyo? Kenapa bertanya seperti itu?”
“jika nanti aku tidak ada.. apa kau akan tetap mencintaiku?”
“Jaejin..”
“katakan padaku oppa.. apa kau akan mencintaiku selamanya
walau aku nanti sudah mati?”
Aku
memeluknya, karena air matanya tiba tiba mengalir begitu saja. Itu membuatku
sangat sakit melihat dan mendengar tangisnya.
“kau kenapa sayang.. kau jangan buat aku takut..”
Aku mengusap
rambut lurusnya, dia mencengkeram kemejaku erat dan berusaha menahan tangis.
“menangislah.. dan katakan padaku apa yang terjadi..”
Akhirnya
tangisnya meledak, dia menenggelamkan kepalanya di dada bidangku, tangannya
melingkar di leherku. Sementara aku menyandarkan daguku di puncak kepalanya,
berusaha menenangkan yeoja yang sangat ku cintai ini.
Matahari
mulai terbenam, buru buru Jaejin melepaskan pelukannya dan menatap ke arah
barat. Ia menatap matahari itu seakan akan dia takkan bisa melihat matahari itu
lagi selamanya.
“chagia..”
Aku memegang
pundaknya dan membalikan tubuhnya setelah matahari benar benar sudah tenggelam.
Pipinya penuh dengan air mata, matanya juga masih mengeluarkan air mata. Ini
sungguh pemandangan yang luar biasa menyiksa batinku.
“uljima.. kau kenapa?”
Jujur saja,
aku benar benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada yeoja chinguku ini.
“bisakah oppa menyanyikan aku lagu?”
“tentu.. aku akan menyanyikan lagu baby dont cry.. dan jangan
menangis..”
Dia mengangguk, Aku kembali
merengkuhnya dalam pelukanku, dan aku mulai menyanyikan lirik lirik lagu Baby
dont cry.
Dia malah
kembali terisak
“hiks.. mianhae oppa.. mianhae aku tidak bisa menjadi yeoja
yang sempurna untukmu..”
“aniaa chagi.. kau selalu di sampingku itu sudah cukup..”
“tapi aku tidak bisa..”
“chagiaa.. jangan buat aku takut.. dan tetaplah disini
bersamaku..”
Aku
memeluknya erat. Dan malam yang dingin itu ku akhiri dengan sebuah ciuman mesra
dengan kekasihku ini.
Drrt drrt
Jam 5 pagi,
siapa yang memberikanku pesan sepagi ini
From : my
baby
Oppa datanglah ke sungai han
sekarang! Jebal!
Aku mengucek
mataku, benarkah dia mengirimku pesan seperti ini, sepagi ini? Dengan malas aku
pergi ke kamar mandi mempersiapkan diri.
Baru saja
aku ingin memakai jaketku ada seseorang yang menelfon.
“park chanyeol..”
Ini ibu
Jaejin, ada apa ini?
“nae ahjumma?”
“hiks hiks..”
“ada apa ahjumma?”
“jaejin..”
“jaejin kenapa?”
Tanyaku
kalap, ini benar benar aneh.
“dia meninggal..”
Jantungku
nyaris berhenti berdetak mendengar ucapan calon mertuaku itu. Ponselku jatuh
bebas begitu saja. Air mataku juga, mengalir bebas tanpa pesetujuan dariku.
“ch..chagiaa..”
Tanpa basa
basi aku langsung pergi ke sungai han, tak peduli aku masih menggunakan kaus
kaki dan sandal rumah. Yang penting aku sampai di Sungai Han secepatnya.
Aku berlari
menuju bangku terakhir dimana aku dan jaejin bertemu. Aku jatuh terduduk ketika
aku tak menemukan seseorang yeoja yang ku cari cari disana. Hanya ada 2 lembar
amplop bertindihkan dengan sebuah kotak.
Kuraih kotak
itu dan kubuka, berpuluh puluh foto mesraku bersama Jaejin, bahkan surat surat
saat saat pertama dulu kami dekat. Aku dulu memang dekat dengannya karena kami
saling mengirim surat.
Setelah puas
mengamati foto foto mesra dan membaca surat surat kami, aku berlaih menuju ke
sebuah amplop besar dengan cap sebuah rumah sakit besar di kota ini.
Jantungku
benar benar ingin berhenti saat itu juga, Jaejin.. kekasihku tersayang ini
rupanya.. dia sakit.. dia sakit kanker otak.. kenapa dia tidak bilang padaku..
Aku tak kuasa menahan tangisku, dan terakhir aku membaca surat beramplop pink.
Dear
chanyeol oppa
Oppa anyeong^^ bagaimana harimu? Bagaimana
pula keadaanmu? Kuharap kau sehat selalu.. tak sama sepertiku :( yang harus
pergi mendahului mu..
Mianhae oppa, aku tak pernah
mengatakan ini padamu.. aku juga baru tahu tentang penyakitku kemarin pagi..
Aku menulis surat ini tadi malam,
sebelum aku benar benar akan merasakan bagaimana rasanya malaikat menjemputku
kembali ke pangkuan Tuhan.
Oppa jangan menangis, aku tahu ini
menyakitkan, tapi ikhlaskanlah aku pergi untuk selamanya. Dan setelah di Surga
nanti, kita akan kembali bersama, menjadi satu untuk SELAMA LAMANYA :)
Oppa, permintaanku hanya satu,
cintailah aku sepanjang usiamu, sampai nanti kita di pertemukan lagi, aku akan
selalu menunggumu.. aku selalu ada di sampingmu..
Ahh sepertinya tanganku sudah tak
kuat lagi, ini mungkin menjadi surat terakhirku untukmu.. aku menyayangimu.. I
LOVE YOU FOREVER, PARK CHANYEOL..
Dari kekasihmu yang nakal :p
Tuhan! Kenapa kau memberikan
aku cobaan seberat ini? Kenapa aku harus di tinggalkan oleh orang yang sangat
kucintai secepat ini? Aku tidak sanggup hidup tanpanya.
Aku berdiri,
memasukan semua surat surat itu di kotak dan merengkuhnya di jaketku. Entah
sadar atau tidak. Langkah kakiku membawaku menuju tepi sungai Han dan...
“aku takut chagi.. aku takut nanti aku tak mencintaimu lagi..
jadi biarkan aku ikut bersamamu.. aku takut aku akan melupakanmu nanti..”
#byuurr
-other place-
Aku membuka
mataku, dimana aku? Apa aku masih hidup? Aku mengedarkan pandanganku. Sebuah
padang rumput yang indah. Hei, kenapa pakaianku serba putih, sweater putih,
celana putih, dan.. oh, aku merasa diriku sangat tampan
#greep
Seseorang
memelukku dari belakang, aku menoleh. Betapa terkejutnya aku, melihat seseorang
yang kucintai kini berada di hadapanku, dia mengenakan dress selutut berwarna
putih, senada dengan baju yang ku kenakan. Semua serba putih.
“chagiaa?..”
Aku
memeluknya erat.
“oppa.. saranghae..”
“nado saranghae chagiaa..”
“sekarang kau ikut aku.. kita ke tempat yang paling indah..
kita akan bersama selamanya disana..”
Dia menarik
tanganku dan membawaku pergi.
Tuhan,
terima kasih telah memberikanku sebuah keajaiban. Terimakasih telah membiarkan
aku kembali bersama Jaejin untuk SELAMANYA.
-THE END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar