Just little girl named Xiao Ai

Selasa, 14 Januari 2014

FF My Bunnie Byun

Title : My Bunnie Byun
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : romance gagal
Cast : Byun Baekhyun, Jung Jaejin
Note : Disini author tidak bermaksud menjelek jelekan atau apalah segala macam pada siapapun! Disini hanya sebuah fantasi dari author, jadi NO BASH!

--story



-Jaejin line

            Entah sudah berapa kali ini namja di hadapanku ini terus membicarakan trending topiknya di hadapanku.

“kau tahu.. aku sangat sakit hati ketika mengetahui SM sudah menkonfirmasi tentang hubungan Yoona noona dan Seunggi hyung..”

            Namja ini terus terusan menyebutkan nama itu di hadapanku, dan juga kesakitan hatinya yang terus terucap dari bibir mungil namja imut ini.

“jaejin! Apa kau mendengarku?!”

            Aku hanya menatapnya malas, dan menyunggingkan senyum kecut padanya.

“tentu saja aku mendengarmu byun baekhyun.. jika tidak untuk apa aku disini? Sejak 2 jam lalu kau terus membicarakan tentang yoona dan seunggi.. kau sakit hati olehnya..”

            Kataku malas, dan diiringi oleh tawa dari namja bernama Byun Baekhyun itu. Aku mempoutkan bibirku. Setiap kali bersama dirinya pasti hanya sebuah girlgroup yang dia bicarakan.

            Ok, aku sadari aku sudah bersahabat dengan Baekhyun selama 3 tahun, dan selama itu yang ku dengarkan hanya tentang girlgroup idolanya itu, dia memang seorang fans yang fanatik.

“gomawo sudah mau mendengarkan aku.. kau tahu aku..”

            Belum sempat dia meneruskan bicaranya aku langsung menyelanya, telingaku sudah sangat panas mendengar semua ceritanya, jika di teruskan mungkin aku tidak akan mendapatkan makan malam.

“cukup baekhyun! Aku ingin pulang!”

            Kuraih tas selempangku dan meninggalkan Baekhyun begitu saja di cafe bernuansa pink itu. Menyebalkan memang.

“Jaejin..”

            Baru kulangkahkan beberapa saja kakiku, tanganku sudah di tahan oleh seorang namja.

“apa?”

            Aku berbalik dan menatap tajam Baekhyun

“kau mau ku antar?”
“tidak usah..”

            Aku menepis tanganku dan pergi menjauhinya.

-Baekhyun line

            Apa aku terlalu keterlaluan padanya? Memang setiap kali aku bersamanya aku selalu membahas girlgroup SNSD. Karena aku menyukainya sejak lama.

            Kenapa aku melakukan itu? Harusnya aku intropeksi diri, aku terlalu egois selalu membicarakan sebuah girlgroup di hadapannya. Aku sebenarnya juga tahu kalau Jaejin menjadi tidak menyukai SNSD gara gara aku.

            Tapi ini semua kulakukan karena aku tidak tau harus membahas apalagi, memang banyak yang harus dibahas. Tapi..

“hei..”

            Seseorang menepuk pundakku dari belakang, syukurlah aku sudah meletakan coffelate ku di meja. Kalau tidak mungkin aku akan mati tersedak.

            Namja itu duduk di kursi depanku, dan memandangku tajam setelah kepalanya celingak celingukan.

“kau kenapa, hun?”

            Namja tinggi itu nyengir, dan dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“apa jaejin noona menyukai ini?”

            Sehun membuka kotak itu, dan kotak itu rupanya berisi kalung berbandul berlian yang indah. Memang tidak heran jika Sehun memberikan hal seperti ini karena dia anak holang kaya. Tapi untuk apa di berikan pada Jaejin? Jangan jangan..

“memang kau mau apa?”
“aku akan mengutarakan perasaanku selama ini padanya..”

#deghhh

            Ya Tuhan, kumohon bunuh aku sekarang. Aku tidak mungkin kuat jika besok aku mendengar bahwa jaejin yang selama 3 tahun kucintai sebagai seorang yeoja harus memiliki kekasih selain aku.

“kau.. maksudmu.. menembaknya?..”

            Oh Sehun mengangguk antusias, senyumnya begitu sumringah. Aku tidak bisa menebak. Apa yang akan terjadi padaku nanti.

“apa kau.. yakin?”
“kau kenapa sih hyung? Aku menyukainya sejak lama.. tentu saja aku sangat yakin..”
“maksudku.. kau yakin.. dia akan menerimamu?”

            Entah apa pertanyaanku ini terlalu menyesakan hati seorang Oh Sehun. Kenapa dia tiba tiba diam? Wajahnya juga terlihat masam.

“itu resiko hyung.. jika ia menolakku.. aku akan mencoba menerimanya dengan lapang dada.. tapi syukur syukur dia menerimaku..”

            Dia tersenyum kecut, mencoba menghibur dan menyemangati dirinya sendirii. Aku sebenarnya agak kasian dengan namja ini, tapi, aku juga mencintai Jaejin. Aku kenal dengan Jaejin sejak 3 tahun lalu. Sedangkan Sehun mengenal Jaejin baru 1 tahun lalu.

“kau pasti bisa hun.. fighting..”
“kau mendukungku hyung?”
“n.. nae.. aku mendukungmu..”
“gomawo hyung.. setidaknya jika kau sahabat dari jaejin noona, otomatis kau bisa membuat jaejin noona menerimaku kan?”
“akan ku usahakan..”

            Namja manis ini tersenyum sumringah lagi. Dan entahlah, bagaimana nasibku nanti. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik.

-Jaejin line-

            Esoknya, aku berangkat ke sekolah tanpa menunggui Baekhyun seperti biasa. Ini karena hoobaeku di kampus menjemputku.

“gomawo sehun-ahh..”

            Ucapku berterima kasih padanya, dia melepas helmnya dan tersenyum.

“kita bersama nae noona..”
“ya..”

            Aku menungguinya yang masih melepas jaket dan turun dari motor. Entah kenapa, kali ini karisma Sehun begitu terlihat jelas. Jantungku berdegup kencang di buatnya. Ia tersenyum sangat manis.

“gajja noona..”

            Oh my, kenapa dia malah menggandeng tanganku erat. Lihatlah, banyak siswa siswi membicarakan kita.

“hunnie.. lepaskan..”

            Ucapku lirih, Sehun menghentikan langkahnya dan melepaskan gandengannya padaku.

“ahh.. mianhae noona.. aku..”
“gwenchana.. hanya tidak enak saja dilihat banyak orang..”

            Dia tersenyum kecil dan mengacak rambutku. Yakk! Lancang sekali hoobae ini. Tapi dapat dipastikan, wajahku terasa sangat panas dan merah sekali.

“kau tersipu noona?”
“anioo..”

            Aku memukul lengannya pelan dan berjalan mendahuluinya.

“noona..”
“hmm?..”
“apa sore ini kau ada acara?”
“acara?.. anio.. wae?”
“emm.. mau.. maukah.. kau pergi bersama.. ku?”
“bersamamu? Berdua? Maksudmu kau mengajakku berkencan?”
“ahh.. anio.. ah.. naee.. nae..”
“haha.. nae aku mau.. jemput aku nae..”
“jinjja? Gomawo noona..”

            Sehun memelukku begitu erat, dia sangat senang sepertinya. Namun tatapanku terhenti pada seorang namja imut yang jauh di belakang Sehun sambil memperhatikan kami.

“hunnie..”

            Sehun melepas pelukannya, kemudian ia tersenyum kecil.

“kalau begitu aku ke kelas dulu nae noona..”
“nae..”

            Aku melihat punggung Sehun yang semakin jauh. Perasaanku agak menjadi tidak enak saat aku masuk kelas dan bertemu Baekhyun.

“baekhyun.. anyeong..”

            Aku menyapanya lembut, tapi dia tidak merespon, dia masih sibuk dengan smartphonenya. Aku mencoba melihat apa yang di lakukan Baekhyun, lagi lagi girlgroup itu. Aku menghela nafas kasar dan duduk di samping Baekhyun. Dia bahkan tak menoleh padaku.

“kau akan berkencan dengan Sehun sore ini?”

            Ia membuka obrolan, kenapa dia tahu?

“nae.. bagaimana bisa kau tahu?”
“mudah..”

            Dia masih sibuk dengan smartphone dan girlgroup kesukaannya itu. Aku hanya menghela nafas kasar lagi.

            Sorenya, Sehun sudah siap menungguku di depan rumah. Kali ini kami akan berjalan jalan di taman namsan. Dia terlihat sangat keren dan tampan. Dia terus menggenggam tanganku, hingga sampai di taman yang sepi. Dia duduk berlutut padaku.

            Apa yang akan di lakukan bocah ini?

“noona?..”
“ya?”
“ehemm.. kau tahu.. aku.. aku menyukaimu.. sejak lama noona.. sejak kita pertama bertemu..”

            Aku hanya mengangkat satu alisku

“noona.. entahlah.. aku bimbang.. aku bingung haruskah aku mengutarakannya sekarang atau tidak.. tapi jika tidak.. aku.. ahh.. maukah kau menjadi kekasihku?”

            Oh my God! Noo! Aku tidak bisa Sehun, aku menganggapmu sebagai adikku saja. Toh, aku juga sudah menyukai seseorang.

“sehun..”
“bodoh noona! Aku memang bodoh! Harusnya aku sadar.. tidak melakukan ini padamu..”

            Aku tersenyum dan menyuruhnya berdiri, setelah ia berdiri aku mengelus pipinya lembut.

“sehun mianhae.. aku tidak bisa.. aku sudah menganggapmu sebagai seorang adikku sendiri.. aku tidak mungkin menyakiti hati adikku kelak..”

            Dia menatapku lembut, kemudian ia tersenyum.

“aku tahu noona.. aku adikmu.. kalau begitu.. terimalah ini sebagai kenangan dariku..”

            Ia memberikanku sebuah kalung yang indah. Aku hanya tersenyum, ia kemudian membalikan badanku, dan memasangkan kalung itu di leherku. Setelah itu dia memelukku erat dari belakang.

“hunnie..”
“jebal noona.. hanya 5 menit..”

-Baekhyun line

            Sudah pagi, aku belum siap untuk mendengar kabar kalau nanti Jaejin sudah sah menjadi kekasih seorang Oh Sehun. Kemarin sore aku melihat mereka berpelukan di taman. Pasti mereka sudah jadian.

            Ya Tuhan, kenapa cobaan ini terlalu berat. Apa Jaejin membenciku karena aku terlalu fanatik pada idolaku.

“BYUN BAEKHYUN! APA KAU TIDAK KULIAH?!”
“NAE EOMMA!! SEBENTAR!!”

            Dengan malas aku bersiap diri ke kampus. Setelah sampai di kelas betapa terkejutnya aku. SIAPA DIA?

“JAEJIN!!”

            Yeoja itu menoleh, OH MY GOD! Ada apa dengan yeoja ini? Kenapa? Kenapa penampilannya? Tidakk!! Kenapa Sehun membuatnya seperti ini?

            Aku langsung membawanya ke taman belakang kampus.

“Kau?! Apa apaan ini?”

            Tanyaku kalap, tentu saja aku marah, dia, dia merubah penampilannya.

“waeyo? Harusnya kau menyukainya? Kenapa kau malah bertanya kenapa?”

            Apa? Jawaban dan pertanyaan macam apa ini?

“katakan padaku! Apa Sehun yang membuatmu merubah penampilanmu? Dimana kacamatamu?! Dimana rambut hitammu?! Dan.. kenapa pakaianmu seperti ini?!”

            Matanya memerah dan berair, ia menepis tanganku, air mata mulai mengalir di pipinya.

“jangan mengatakan kalau Sehun yang membuatku merubah penampilanku! Tentu saja ini karena kau Byun Baekhyun!!”
“aku?”

            Aku benar benar tak tahu, kenapa aku yang di salahkan. Sedangkan aku tidak tahu.

“iya! Karenamu Byun Baekhyun! Kau membuatku merubah penampilanku! Semuanya! Harusnya kau menyukainya! Aku melakukan ini agar kau mau melihatku sebagai seorang yeoja! Aku merubah penampilanku agar aku bisa menjadi seperti idolamu!!”
“maksudmu? Kau membuat dirimu menjadi seperti member SNSD?”

            Dia mengangguk, dan isakannya semakin jelas.

“untuk apa?”
“karena.. karena aku mencintaimu baekhyun.. aku mencintaimu.. aku ingin menjadi seperti member SNSD agar aku juga bisa di cintai olehmu.. hiks hiks..”

            Aku terkekeh, dia mendongakan kepalanya, riasannya kini sudah luntur oleh air mata. Padahal biasanya ia tak memakai riasan.

“kenapa tertawa?”
“kau lucu..”
“apanya yang lucu?”

            Aku memeluknya erat, ia sedikit tersentak.

“kau tahu.. sebenarnya aku juga menyukaimu.. ani.. maksudku mencintaimu..”
“mwo?”
“aku menyukaimu sebagai seorang yeoja yang selalu mengisi ruang gela di hatiku.. aku mencintaimu sebagai seorang yeoja.. sedangkan girlgroup itu.. aku menyukai mereka sebagai seorang idola..”

            Byun baekhyun! Saatnya kau mengungkapkan perasaanmu! Kau NAMJA!

“aku menyukaimu, mencintai dirimu sendiri.. Jaejin yang polos, tanpa riasan, tanpa rambut berwarna coklat pirang, tanpa potongan pakaian yang rendah..”
“tapi.. ini mirip apa yang di lakukan member girlgroup itu..”
“memang.. tapi kau tidak bisa secantik Yoona, Jesicca, Hyoyeon, Taeyeon, dan lainnya..”
“mwo? Kau jahat!!”
           
            Dia hendak mendorong tubuhku, namun aku semakin memperat pelukanku.

“kau tidak boleh cantik seperti mereka!”
“waeyo?”
“karena akan banyak orang yang menyukaimu.. kau seperti biasa saja, Sehun menyukaimu.. bagaimana jika kau mirip dengan member SNSD..”
“lalu kenapa?”
“kau hanya boleh menjadi milikku.. kau hanya boleh menunjukan kecantikanmu padaku.. hanya aku yang boleh menyukaimu..”
“kau egois..”
“kau juga..”
“mwo?”
“kau egois.. karena kau seenaknya berkencan dengan Sehun tanpa memberi tahuku..”
“tapi kau sudah tahu..”

            Aku sedikit melonggarkan pelukanku.

“riasanmu jelek..”

            Dia mempoutkan bibirnya, dan inilah kesempatan emas

Chuuu~~~

“YAKK BYUN BAEKHYUN!!”
“gomawo chagi..”
“chagi?”
“mulai sekarang kau kekasihku..”
“baekhyun..”
“kau milikku.. kau adalah jaejinku..”
“kau juga.. my bunnie byun..”

            Dan setelah itu, kamipun kembali berciuman tanpa memperdulikan bel yang sudah berbunyi. ^^


-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar