Just little girl named Xiao Ai

Sabtu, 18 Januari 2014

FF To Late

Title : To Late
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
genre : romance gagal
Cast : Oh Sehun, Jung Jaejin

-story



-Jaejin line-

            Aku terus melihat ke arah jam tangan antik yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam antik dengan warna biru tua yang kusam itu menunjukan pukul 3:40.

            Dia, dia sudah terlambat 40 menit. Seperti kebiasaannya, selalu terlambat. Dia kira aku apa? Selalu harus sabar menungguinya yang egois tak mau disiplin waktu.

            Tanpa di duga, seorang lelaki tampan dan tinggi berdiri di hadapanku sambil bernafas tersenggal senggal.

“kau terlambat lagi..”
“mianhae chagiaa.. aku harus mengantar adikku les terlebih dahulu.. aku baru ingat kalau ada janji denganmu..”
“alasan saja.. kemarin mengantar ibumu belanja, sekarang mengantar adikmu les, besok mau kemana lagi?”
“jinjja mianhae chagiaa.. aku janji takkan mengulanginya lagi..”
“janji.. janji.. aku lelah dengan janjimu yang tak pernah kau tepati Oh Sehun!!”

            Namja tampan bernama Oh Sehun terdiam sejenak. Kemudian ia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Hangat.

“jeongmal mianhae chagiaa.. aku janji tidak akan terlambat lagi..”
“tapi kau kebiasaan Hunnie..”
“tidak.. aku akan merubahnya mulai sekarang..”
“bohong..”
“hehe..”

            Benarkan, jelas pasti dia berbohong. Mana mungkin seorang Oh Sehun mampu menepati janjinya, apalagi untuk disiplin waktu.

            Sebenarnya aku tidak suka dengan orang yang selalu mengulur waktu, tapi entah kenapa. Setiap melihat Sehun memohon maaf, aku tak kuasa melihatnya.

“jadi sekarang kita kemana?”
“kemana? Kau hanpir terlambat 1 jam.. toko itu sudah tutup..”
“ahh mianhae..”

            Bahkan aku harus merelakan sebuah baju diskon karena toko sudah tutup karena keterlambatan Sehun. Ini menyebalkan.

“aku akan membelikan baju itu untukmu..”
“itu tidak akan ada lagi Oh Sehun..”

            Aku duduk di bangku taman. Dia juga ikut di sampingku

“mianhae chagi..”

            Katanya sambil menggenggam tanganku lembut, terpancar dari wajah innoncentnya bahwa ia benar benar menyesal.

“nae.. kali ini aku maafkan.. tapi tidak untuk lain kali..”
“ahh gomawo chagiiaa..”

            Dia memelukku lagi dengan erat. Aku membalasnya sambil tersenyum.

“gajja.. aku akan mentraktirmu makan daging..”
“jinjja? Gajja..”

            Kami berdua pun pergi ke sebuah restoran daging.

“wahh.. aku sangat kenyang..”

            Ucapnya sambil mengusap usap perutnya setelah kami selesai makan bersama.

“kau benar benar tidak rapi.. lihat bibirmu..”
“waeyo?”

            Dia menjilati sekitar bibirnya, namun nodanya masih ada. Aku hanya mendecak kesal.

“itu di pipimu..”

            Sehun pun mengusapnya dengan tangannya

“jorok..”
“kau sih.. tidak mau membersihkannya..”
“kenapa aku? Manja sekali kau..”

            Ehh dia malah mehrong

“hunnie..”
“hmm?”
“aku akan meneruskan sekolahku..”
“tentu saja.. aku juga..”
“tapi aku tidak meneruskan disini..”
“mwo?”
           
            Sehun menatapku dengan tatapan bingung dan innoncent.

“aku akan ke Jepang..”
“andwee!!”

            Larangnya sambil memegang tanganku

“kau tetap disini bersamaku.. nanti siapa yang akan menemaniku?”
“aku..”
“tidak.. kau tidak boleh pergi.. selangkahpun dariku.. tidak!!”

            Aku hanya menelan ludahku sendiri, Sehun menatapku tajam, seakan dia akan membunuhku jika aku pergi.

“kau mengerti?!”
“tapi.. aku sudah di terima disana.. dan kepergianku.. tinggal besok..”

            Namja tampan dihadapanku ini terdiam, ia melepas genggamannya dna menunduk. Aku bisa melihat air matanya jatuh.

“tapi aku tidak bisa tanpamu.. hiks..”
“hunnie..”

            Aku benar benar tersiksa jika harus mengucapkan perpisahan dengannya. Aku ganti memegang tangannya.

“kau pasti bisa hunnie.. kau adalah namja chinguku yang kuat bukan.. aku akan kembali secepatnya saat liburan nanti..”
“tapi.. kau terlalu cepat.. kau.. kau jahat.. tak memberi tahuku sebelumnya.. ini terlalu mendadak jaejin..”

            Sehun masih terisak, astaga kenapa namja ini cengeng sekali? Pasti Tao yang sudah menularinya*lirik Tao (Tao : bukan aku kok T.T)

“sudah jangan menangis.. besok datanglah jam 8:30 di Bandara.. kau akan mengantarku kan?..”
“nae..”

            Aku tersenyum dan menghapus air mata yang ada di pipi tirusnya.

“gajja pulang..”
“kau yang traktir.. aku lupa bawa uang..”

            Aishh dasar kebiasaan!

“nae arraseo..”

            Akhirnya aku pun pasrah, membayar makan bersama namja chinguku lagi. Memang menyebalkan, tapi anggap saja sebagai traktir terakhir sebelum aku pergi ke Jepang.

            Malamnya, aku benar benar khawatir, akankah namja ini akan datang tepat waktu? Semoga saja Tuhan bisa menyadarkan dirinya.

            Aku menghampiri Appaku yang sedang sibuk dengan berkas berkas kantornya. Dia akan pindah tugas ke Jepang. Makanya aku dan eomma dan juga kakak laki lakiku juga ikut pindah.

“appa..”
“ya?”
“apa aku juga harus ikut pindah ke Jepang?”
“tentu saja, di sana sekolahnya juga bagus bagus seperti disini..”
“tapi..”
“Sehun tak mengizinkanmu, eoh?”

            Astaga, bagaimana appa bisa tahu? Ya sudahlah, aku hanya mengangguk pasrah. Memang hanya itu alasannya.

“terkadang kita perlu pengorbanan untuk yang namanya cinta.. setelah nanti kau pergi jauh dan lama darinya.. saat kau kembali.. jika kalian saling mempercayai kalian bisa bersatu lagi..”

            Jelas appa panjang lebar kali tinggi, aku menghela nafas

“apa appa sedang bermaksud melarangku?!”
“kau tahu itu sayang.. appa takut jika nanti kau disini sendirian dan.. yahh kau tahu kan? Kau anak perempuan.. kau gadis cantik yang masih rentan dengan pergaulan..”
“kan ada Sehun..”
“Sehun tak mungkin memantaumu 24 jam kan? Tidak mungkin Sehun akan sehari semalaman penuh berada di sampingmu..”
“aku bisa jaga diri..”
“kau yakin? Kau adalah gadis kecil appa yang sangat manja dan masih kekanak kanakan.. jadi appa dan eomma sulit melepasmu..”
“tapi aku..”
“jaejin..”

-Sehun line-

            Jam menunjukan pukul 7:30. WHAT? 7:30? Dan aku baru bangun tidur. Sementara keberangkatan Jaejin jam 9.. Oh my god oh my no oh my WOOWW.

            Langsung aku buru buru ke kamar mandi, memakai pakaian serapih mungkin, mengenakan prafum sewangi mungkin, dan berdandan setampan mungkin. Mungkin saja ini akan membuat Jaejin enggan meninggalkanku. Kekke >.<

            Aku baru saja hendak mengenakan helmku, tiba tiba

“SEHUN!!”
“nae eomma??”
“antarkan eomma ke rumah kim ahjumma..”
“mwo? Sireoo.. aku ada urusan penting eomma!!”
“tidak ada penolakan.. palli..”

            Astaga eomma, aku benar benar akan kehilangan kekasihku kali ini.

            Setelah sampai mengantar eomma, aku langsung menancap gas pergi ke Bandara. Air mataku terus mengalir saat ponselku terus berbunyi di perjalanan. Jam sudah menunjukan pukul 8:21.

          Sampai di Bandara aku langsung memarkir motorku dan berlari mencari Jaejin. Namun apa? Yang ku temukan hanyalah sebuah pengumuman dari pengeras suara.

‘perhatian perhatian.. pesawat Korean Air menuju Tokyo, Jepang, akan segera meninggalkan lapangan landasan..’
*ini pengumuman author ngawurin lhoo yaa :3*

#deghhh

            Nyaris jantungku berhenti saat ini juga, aku jatuh terduduk menutupi wajahku dan mulai menangis. Tidak peduli banyak orang yang memperhatikan ku, yang penting sekarang. Aku sudah tak bisa melihat wajah cantik kekasihku lagi.

“hunnie..”

            Suara ini, apa karena saking sedihnya aku, aku menjaid berhalusinasi seperti ini.

“sehunnie.. oh sehunnie..”

            Seseorang menepuk pundakku, aku pun menoleh. Astaga, aku tidak tau kenapa halusinasi menjadi seperti ini.

“ch.. chagiaa..”

            Yeoja cantik di hadapanku ini langsung memelukku, dan aku pun membalasnya.

“aku tidak jadi pergi hunnie..”
“mwo? Wae?”
“karena aku ingin bersamamu..”
“tapi aku terlambat.. harusnya kau..”
“aku tahu kau akan terlambat.. tadinya aku memang ingin pergi ke Jepang jika kau tidak datang tepat waktu.. tapi.. mungkin dengan ini kau bisa merubah sikapmu.. agar kau lebih tepat waktu..”
“mianhae chagi.. jinjja mianhae.. aku janji.. aku janji tidak akan terlambat lagi.. hikss hiks..”
“sudahlah.. uljima..”
“gomawo chagi.. aku janji akan lebih tepat waktu.. dan jangan coba pergi dariku lagi..”

Chuuu~~~~~~~

            Akupun mencium bibirnya lembut


-THE END-

Kamis, 16 Januari 2014

FF The Letter

Title : The Letter
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : sad romance
Cast : Park Chanyeol, Jung Jaejin
Note : Cerita ini sedikit terinspirasi dengan MV dari The Letter-Davichi

--story

-Chanyeol line



From : my baby
            Oppa, datanglah ke sungai han sore ini, jeball..

            Aku mengerenyitkan keningku ketika mendapatkan pesan singkat dari yeoja chinguku, Jung Jaejin. Tumben sekali yeoja ini yang mengajakku pergi.

            Segera kuhubungi saja dia, mungkin dia salah kirim atau dia sedang pusing sehingga salah ketik atau apalah segala macam itu.

“yeoboseyoo.. chagiaa?”
“yeoboseyo..”

            Kenapa dengan suaranya? Kenapa dia begitu lemah? Biasanya suaranya sangat nyaring dan ceria.

“chagi.. kau mengajakku ke sungai han,eoh?”
“nae.. datanglah..”
“untuk apa?”
“datang saja..”

            YAKK! Ini bukan Jung Jaejinku! Jaejinku adalah yeoja yang tak pernah membalas percakapan dengan orang yang dekat dengannya dengan ucapan singkat. Ini bukan Jaejin.

“chagiaa.. itukah kau? Kenapa kau begitu aneh?”
“gwenchana..”

            Ini benar benar bukan Jaejin.

“kau sakit?”
“ani..”
“lalu apa? Kenapa kau menjadi seperti ini? Tidak biasanya kau diam seperti ini.. kau aneh chagiaa..”
“gwenchana..”
“berhenti untuk mengatakan tidak apa apa! Kau sakit?! Iya kan?”

            Lama tak terdengar suaranya

“chagi.. kau masih disana?”
“hikss hiks..”

            Kenapa dia malah menangis, aissh hatiku terasa sangat teriris jika harus mendengar suara tangisnya.

“chagi.. wae? Kenapa menangis?”

            Tanyaku pelan dan lembut

“datanglah..”

            MWO? Hanya itu? Dan apa? Dia malah menutup telfonnya. Aku yakin, ini bukan Jaejin. Lalu dia siapa? Aishh..
            Sorenya, seperti kemauan Jaejin aku datang ke Sungai Han. Dia sudah duduk di bangku tepi sungai. Aku menutup matanya dengan telapak tanganku.

“oppa..”

            Dia menyentuh tanganku, aku terkikik pelan tanpa melepas tanganku.

“oppa hentikan, jangan bercanda..”

Chuuu~~

            Aku mencium kedua pipinya bergantian dari belakang lalu duduk di sampingnya dan menggenggam erat kedua tangannya.

“sudah lama menunggu?”
“ani.. aku juga baru sampai..”

            Aku tersenyum mendengar jawabannya, setidaknya dia tak menunggu lama. Tapi, WAIT.. biasanya Jaejin akan selalu marah marah aku datang terlambat sedetik pun.

“chagi.. hari ini kau aneh..”
“jinjja?”
“benarkan kau aneh.. kau sangat singkat membalas perkataanku..”
“mianhae..”
“chagiaaa!! Jangan membuatku marah!!”
“lalu apa?”

            Aishh, yeoja ini kenapa sebenarnya. Aku meraih tengkuknya dan mencium kasar bibirnya. Dia hanya diam tak merespon. Aku melepas tautan kami.

“kau tak marah?”
“untuk apa? Kau namjaku..”

            ANDWEE!! Ini bukan Jaejin, Jaejin akan selalu marah jika aku menciumnya tiba tiba begini. Bahkan dia akan memukulku.

“chagiaa..”
“hmm?”

            Aku benar benar ingin berteriak, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejin.

            Jaejin meraih tanganku dan memberikan sebuah cincin.

“pakai itu..”

            Aku memasangnya di jemariku. Cocok, dan bagus. Aku menatap kedua wajahnya, hei, kenapa wajahnya begitu pucat.

“chagiaa.. kau sakit?”

            Aku memegang kedua pipinya yang kenapa entah kenapa berubah menjadi tirus. Padahal kemarin aku masih melihat pipi chubbynya yang luar biasa ingin membuatku menggigitnya.

“aniaa.. kau suka cincin itu?”

            Harus ku akui, sikapnya sekarang membuatku kesal. Memang dia selalu membuatku kesal, tapi ini beda, ini beda situasi. Biasanya aku kesal gemas oleh tingkahnya, sedangkan ini? Aku kesal, emosi batin -,-

“katakan padaku.. apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau aneh?”
“aku tidak aneh..”

            Harusnya dia juga marah karena aku mengatai dirinya aneh.

“oppa.. jika nanti aku tidak ada apa kau akan tetap mencintaiku?”

            Pertanyaan macam apa ini? Kenapa ia mengatakan hal yang tidak tidak?

“waeyo? Kenapa bertanya seperti itu?”
“jika nanti aku tidak ada.. apa kau akan tetap mencintaiku?”
“Jaejin..”
“katakan padaku oppa.. apa kau akan mencintaiku selamanya walau aku nanti sudah mati?”

            Aku memeluknya, karena air matanya tiba tiba mengalir begitu saja. Itu membuatku sangat sakit melihat dan mendengar tangisnya.

“kau kenapa sayang.. kau jangan buat aku takut..”

            Aku mengusap rambut lurusnya, dia mencengkeram kemejaku erat dan berusaha menahan tangis.

“menangislah.. dan katakan padaku apa yang terjadi..”

            Akhirnya tangisnya meledak, dia menenggelamkan kepalanya di dada bidangku, tangannya melingkar di leherku. Sementara aku menyandarkan daguku di puncak kepalanya, berusaha menenangkan yeoja yang sangat ku cintai ini.

            Matahari mulai terbenam, buru buru Jaejin melepaskan pelukannya dan menatap ke arah barat. Ia menatap matahari itu seakan akan dia takkan bisa melihat matahari itu lagi selamanya.

“chagia..”

            Aku memegang pundaknya dan membalikan tubuhnya setelah matahari benar benar sudah tenggelam. Pipinya penuh dengan air mata, matanya juga masih mengeluarkan air mata. Ini sungguh pemandangan yang luar biasa menyiksa batinku.

“uljima.. kau kenapa?”

            Jujur saja, aku benar benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada yeoja chinguku ini.

“bisakah oppa menyanyikan aku lagu?”
“tentu.. aku akan menyanyikan lagu baby dont cry.. dan jangan menangis..”
Dia mengangguk, Aku kembali merengkuhnya dalam pelukanku, dan aku mulai menyanyikan lirik lirik lagu Baby dont cry.

            Dia malah kembali terisak

“hiks.. mianhae oppa.. mianhae aku tidak bisa menjadi yeoja yang sempurna untukmu..”
“aniaa chagi.. kau selalu di sampingku itu sudah cukup..”
“tapi aku tidak bisa..”
“chagiaa.. jangan buat aku takut.. dan tetaplah disini bersamaku..”

            Aku memeluknya erat. Dan malam yang dingin itu ku akhiri dengan sebuah ciuman mesra dengan kekasihku ini.

Drrt drrt

            Jam 5 pagi, siapa yang memberikanku pesan sepagi ini

From : my baby
            Oppa datanglah ke sungai han sekarang! Jebal!

            Aku mengucek mataku, benarkah dia mengirimku pesan seperti ini, sepagi ini? Dengan malas aku pergi ke kamar mandi mempersiapkan diri.

            Baru saja aku ingin memakai jaketku ada seseorang yang menelfon.

“park chanyeol..”

            Ini ibu Jaejin, ada apa ini?

“nae ahjumma?”
“hiks hiks..”
“ada apa ahjumma?”
“jaejin..”
“jaejin kenapa?”

            Tanyaku kalap, ini benar benar aneh.

“dia meninggal..”
           
            Jantungku nyaris berhenti berdetak mendengar ucapan calon mertuaku itu. Ponselku jatuh bebas begitu saja. Air mataku juga, mengalir bebas tanpa pesetujuan dariku.

“ch..chagiaa..”

            Tanpa basa basi aku langsung pergi ke sungai han, tak peduli aku masih menggunakan kaus kaki dan sandal rumah. Yang penting aku sampai di Sungai Han secepatnya.

            Aku berlari menuju bangku terakhir dimana aku dan jaejin bertemu. Aku jatuh terduduk ketika aku tak menemukan seseorang yeoja yang ku cari cari disana. Hanya ada 2 lembar amplop bertindihkan dengan sebuah kotak.

            Kuraih kotak itu dan kubuka, berpuluh puluh foto mesraku bersama Jaejin, bahkan surat surat saat saat pertama dulu kami dekat. Aku dulu memang dekat dengannya karena kami saling mengirim surat.

            Setelah puas mengamati foto foto mesra dan membaca surat surat kami, aku berlaih menuju ke sebuah amplop besar dengan cap sebuah rumah sakit besar di kota ini.

           Jantungku benar benar ingin berhenti saat itu juga, Jaejin.. kekasihku tersayang ini rupanya.. dia sakit.. dia sakit kanker otak.. kenapa dia tidak bilang padaku.. Aku tak kuasa menahan tangisku, dan terakhir aku membaca surat beramplop pink.

Dear chanyeol oppa

            Oppa anyeong^^ bagaimana harimu? Bagaimana pula keadaanmu? Kuharap kau sehat selalu.. tak sama sepertiku :( yang harus pergi mendahului mu..

            Mianhae oppa, aku tak pernah mengatakan ini padamu.. aku juga baru tahu tentang penyakitku kemarin pagi..

            Aku menulis surat ini tadi malam, sebelum aku benar benar akan merasakan bagaimana rasanya malaikat menjemputku kembali ke pangkuan Tuhan.

            Oppa jangan menangis, aku tahu ini menyakitkan, tapi ikhlaskanlah aku pergi untuk selamanya. Dan setelah di Surga nanti, kita akan kembali bersama, menjadi satu untuk SELAMA LAMANYA :)

            Oppa, permintaanku hanya satu, cintailah aku sepanjang usiamu, sampai nanti kita di pertemukan lagi, aku akan selalu menunggumu.. aku selalu ada di sampingmu..

            Ahh sepertinya tanganku sudah tak kuat lagi, ini mungkin menjadi surat terakhirku untukmu.. aku menyayangimu.. I LOVE YOU FOREVER, PARK CHANYEOL..

Dari kekasihmu yang nakal :p

            Tuhan! Kenapa kau memberikan aku cobaan seberat ini? Kenapa aku harus di tinggalkan oleh orang yang sangat kucintai secepat ini? Aku tidak sanggup hidup tanpanya.

            Aku berdiri, memasukan semua surat surat itu di kotak dan merengkuhnya di jaketku. Entah sadar atau tidak. Langkah kakiku membawaku menuju tepi sungai Han dan...

“aku takut chagi.. aku takut nanti aku tak mencintaimu lagi.. jadi biarkan aku ikut bersamamu.. aku takut aku akan melupakanmu nanti..”

#byuurr

-other place-

            Aku membuka mataku, dimana aku? Apa aku masih hidup? Aku mengedarkan pandanganku. Sebuah padang rumput yang indah. Hei, kenapa pakaianku serba putih, sweater putih, celana putih, dan.. oh, aku merasa diriku sangat tampan  

#greep

            Seseorang memelukku dari belakang, aku menoleh. Betapa terkejutnya aku, melihat seseorang yang kucintai kini berada di hadapanku, dia mengenakan dress selutut berwarna putih, senada dengan baju yang ku kenakan. Semua serba putih.

“chagiaa?..”

            Aku memeluknya erat.

“oppa.. saranghae..”
“nado saranghae chagiaa..”
“sekarang kau ikut aku.. kita ke tempat yang paling indah.. kita akan bersama selamanya disana..”

            Dia menarik tanganku dan membawaku pergi.
            Tuhan, terima kasih telah memberikanku sebuah keajaiban. Terimakasih telah membiarkan aku kembali bersama Jaejin untuk SELAMANYA.


-THE END-

Selasa, 14 Januari 2014

FF My Bunnie Byun

Title : My Bunnie Byun
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : romance gagal
Cast : Byun Baekhyun, Jung Jaejin
Note : Disini author tidak bermaksud menjelek jelekan atau apalah segala macam pada siapapun! Disini hanya sebuah fantasi dari author, jadi NO BASH!

--story



-Jaejin line

            Entah sudah berapa kali ini namja di hadapanku ini terus membicarakan trending topiknya di hadapanku.

“kau tahu.. aku sangat sakit hati ketika mengetahui SM sudah menkonfirmasi tentang hubungan Yoona noona dan Seunggi hyung..”

            Namja ini terus terusan menyebutkan nama itu di hadapanku, dan juga kesakitan hatinya yang terus terucap dari bibir mungil namja imut ini.

“jaejin! Apa kau mendengarku?!”

            Aku hanya menatapnya malas, dan menyunggingkan senyum kecut padanya.

“tentu saja aku mendengarmu byun baekhyun.. jika tidak untuk apa aku disini? Sejak 2 jam lalu kau terus membicarakan tentang yoona dan seunggi.. kau sakit hati olehnya..”

            Kataku malas, dan diiringi oleh tawa dari namja bernama Byun Baekhyun itu. Aku mempoutkan bibirku. Setiap kali bersama dirinya pasti hanya sebuah girlgroup yang dia bicarakan.

            Ok, aku sadari aku sudah bersahabat dengan Baekhyun selama 3 tahun, dan selama itu yang ku dengarkan hanya tentang girlgroup idolanya itu, dia memang seorang fans yang fanatik.

“gomawo sudah mau mendengarkan aku.. kau tahu aku..”

            Belum sempat dia meneruskan bicaranya aku langsung menyelanya, telingaku sudah sangat panas mendengar semua ceritanya, jika di teruskan mungkin aku tidak akan mendapatkan makan malam.

“cukup baekhyun! Aku ingin pulang!”

            Kuraih tas selempangku dan meninggalkan Baekhyun begitu saja di cafe bernuansa pink itu. Menyebalkan memang.

“Jaejin..”

            Baru kulangkahkan beberapa saja kakiku, tanganku sudah di tahan oleh seorang namja.

“apa?”

            Aku berbalik dan menatap tajam Baekhyun

“kau mau ku antar?”
“tidak usah..”

            Aku menepis tanganku dan pergi menjauhinya.

-Baekhyun line

            Apa aku terlalu keterlaluan padanya? Memang setiap kali aku bersamanya aku selalu membahas girlgroup SNSD. Karena aku menyukainya sejak lama.

            Kenapa aku melakukan itu? Harusnya aku intropeksi diri, aku terlalu egois selalu membicarakan sebuah girlgroup di hadapannya. Aku sebenarnya juga tahu kalau Jaejin menjadi tidak menyukai SNSD gara gara aku.

            Tapi ini semua kulakukan karena aku tidak tau harus membahas apalagi, memang banyak yang harus dibahas. Tapi..

“hei..”

            Seseorang menepuk pundakku dari belakang, syukurlah aku sudah meletakan coffelate ku di meja. Kalau tidak mungkin aku akan mati tersedak.

            Namja itu duduk di kursi depanku, dan memandangku tajam setelah kepalanya celingak celingukan.

“kau kenapa, hun?”

            Namja tinggi itu nyengir, dan dia mengeluarkan sebuah kotak kecil.

“apa jaejin noona menyukai ini?”

            Sehun membuka kotak itu, dan kotak itu rupanya berisi kalung berbandul berlian yang indah. Memang tidak heran jika Sehun memberikan hal seperti ini karena dia anak holang kaya. Tapi untuk apa di berikan pada Jaejin? Jangan jangan..

“memang kau mau apa?”
“aku akan mengutarakan perasaanku selama ini padanya..”

#deghhh

            Ya Tuhan, kumohon bunuh aku sekarang. Aku tidak mungkin kuat jika besok aku mendengar bahwa jaejin yang selama 3 tahun kucintai sebagai seorang yeoja harus memiliki kekasih selain aku.

“kau.. maksudmu.. menembaknya?..”

            Oh Sehun mengangguk antusias, senyumnya begitu sumringah. Aku tidak bisa menebak. Apa yang akan terjadi padaku nanti.

“apa kau.. yakin?”
“kau kenapa sih hyung? Aku menyukainya sejak lama.. tentu saja aku sangat yakin..”
“maksudku.. kau yakin.. dia akan menerimamu?”

            Entah apa pertanyaanku ini terlalu menyesakan hati seorang Oh Sehun. Kenapa dia tiba tiba diam? Wajahnya juga terlihat masam.

“itu resiko hyung.. jika ia menolakku.. aku akan mencoba menerimanya dengan lapang dada.. tapi syukur syukur dia menerimaku..”

            Dia tersenyum kecut, mencoba menghibur dan menyemangati dirinya sendirii. Aku sebenarnya agak kasian dengan namja ini, tapi, aku juga mencintai Jaejin. Aku kenal dengan Jaejin sejak 3 tahun lalu. Sedangkan Sehun mengenal Jaejin baru 1 tahun lalu.

“kau pasti bisa hun.. fighting..”
“kau mendukungku hyung?”
“n.. nae.. aku mendukungmu..”
“gomawo hyung.. setidaknya jika kau sahabat dari jaejin noona, otomatis kau bisa membuat jaejin noona menerimaku kan?”
“akan ku usahakan..”

            Namja manis ini tersenyum sumringah lagi. Dan entahlah, bagaimana nasibku nanti. Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik.

-Jaejin line-

            Esoknya, aku berangkat ke sekolah tanpa menunggui Baekhyun seperti biasa. Ini karena hoobaeku di kampus menjemputku.

“gomawo sehun-ahh..”

            Ucapku berterima kasih padanya, dia melepas helmnya dan tersenyum.

“kita bersama nae noona..”
“ya..”

            Aku menungguinya yang masih melepas jaket dan turun dari motor. Entah kenapa, kali ini karisma Sehun begitu terlihat jelas. Jantungku berdegup kencang di buatnya. Ia tersenyum sangat manis.

“gajja noona..”

            Oh my, kenapa dia malah menggandeng tanganku erat. Lihatlah, banyak siswa siswi membicarakan kita.

“hunnie.. lepaskan..”

            Ucapku lirih, Sehun menghentikan langkahnya dan melepaskan gandengannya padaku.

“ahh.. mianhae noona.. aku..”
“gwenchana.. hanya tidak enak saja dilihat banyak orang..”

            Dia tersenyum kecil dan mengacak rambutku. Yakk! Lancang sekali hoobae ini. Tapi dapat dipastikan, wajahku terasa sangat panas dan merah sekali.

“kau tersipu noona?”
“anioo..”

            Aku memukul lengannya pelan dan berjalan mendahuluinya.

“noona..”
“hmm?..”
“apa sore ini kau ada acara?”
“acara?.. anio.. wae?”
“emm.. mau.. maukah.. kau pergi bersama.. ku?”
“bersamamu? Berdua? Maksudmu kau mengajakku berkencan?”
“ahh.. anio.. ah.. naee.. nae..”
“haha.. nae aku mau.. jemput aku nae..”
“jinjja? Gomawo noona..”

            Sehun memelukku begitu erat, dia sangat senang sepertinya. Namun tatapanku terhenti pada seorang namja imut yang jauh di belakang Sehun sambil memperhatikan kami.

“hunnie..”

            Sehun melepas pelukannya, kemudian ia tersenyum kecil.

“kalau begitu aku ke kelas dulu nae noona..”
“nae..”

            Aku melihat punggung Sehun yang semakin jauh. Perasaanku agak menjadi tidak enak saat aku masuk kelas dan bertemu Baekhyun.

“baekhyun.. anyeong..”

            Aku menyapanya lembut, tapi dia tidak merespon, dia masih sibuk dengan smartphonenya. Aku mencoba melihat apa yang di lakukan Baekhyun, lagi lagi girlgroup itu. Aku menghela nafas kasar dan duduk di samping Baekhyun. Dia bahkan tak menoleh padaku.

“kau akan berkencan dengan Sehun sore ini?”

            Ia membuka obrolan, kenapa dia tahu?

“nae.. bagaimana bisa kau tahu?”
“mudah..”

            Dia masih sibuk dengan smartphone dan girlgroup kesukaannya itu. Aku hanya menghela nafas kasar lagi.

            Sorenya, Sehun sudah siap menungguku di depan rumah. Kali ini kami akan berjalan jalan di taman namsan. Dia terlihat sangat keren dan tampan. Dia terus menggenggam tanganku, hingga sampai di taman yang sepi. Dia duduk berlutut padaku.

            Apa yang akan di lakukan bocah ini?

“noona?..”
“ya?”
“ehemm.. kau tahu.. aku.. aku menyukaimu.. sejak lama noona.. sejak kita pertama bertemu..”

            Aku hanya mengangkat satu alisku

“noona.. entahlah.. aku bimbang.. aku bingung haruskah aku mengutarakannya sekarang atau tidak.. tapi jika tidak.. aku.. ahh.. maukah kau menjadi kekasihku?”

            Oh my God! Noo! Aku tidak bisa Sehun, aku menganggapmu sebagai adikku saja. Toh, aku juga sudah menyukai seseorang.

“sehun..”
“bodoh noona! Aku memang bodoh! Harusnya aku sadar.. tidak melakukan ini padamu..”

            Aku tersenyum dan menyuruhnya berdiri, setelah ia berdiri aku mengelus pipinya lembut.

“sehun mianhae.. aku tidak bisa.. aku sudah menganggapmu sebagai seorang adikku sendiri.. aku tidak mungkin menyakiti hati adikku kelak..”

            Dia menatapku lembut, kemudian ia tersenyum.

“aku tahu noona.. aku adikmu.. kalau begitu.. terimalah ini sebagai kenangan dariku..”

            Ia memberikanku sebuah kalung yang indah. Aku hanya tersenyum, ia kemudian membalikan badanku, dan memasangkan kalung itu di leherku. Setelah itu dia memelukku erat dari belakang.

“hunnie..”
“jebal noona.. hanya 5 menit..”

-Baekhyun line

            Sudah pagi, aku belum siap untuk mendengar kabar kalau nanti Jaejin sudah sah menjadi kekasih seorang Oh Sehun. Kemarin sore aku melihat mereka berpelukan di taman. Pasti mereka sudah jadian.

            Ya Tuhan, kenapa cobaan ini terlalu berat. Apa Jaejin membenciku karena aku terlalu fanatik pada idolaku.

“BYUN BAEKHYUN! APA KAU TIDAK KULIAH?!”
“NAE EOMMA!! SEBENTAR!!”

            Dengan malas aku bersiap diri ke kampus. Setelah sampai di kelas betapa terkejutnya aku. SIAPA DIA?

“JAEJIN!!”

            Yeoja itu menoleh, OH MY GOD! Ada apa dengan yeoja ini? Kenapa? Kenapa penampilannya? Tidakk!! Kenapa Sehun membuatnya seperti ini?

            Aku langsung membawanya ke taman belakang kampus.

“Kau?! Apa apaan ini?”

            Tanyaku kalap, tentu saja aku marah, dia, dia merubah penampilannya.

“waeyo? Harusnya kau menyukainya? Kenapa kau malah bertanya kenapa?”

            Apa? Jawaban dan pertanyaan macam apa ini?

“katakan padaku! Apa Sehun yang membuatmu merubah penampilanmu? Dimana kacamatamu?! Dimana rambut hitammu?! Dan.. kenapa pakaianmu seperti ini?!”

            Matanya memerah dan berair, ia menepis tanganku, air mata mulai mengalir di pipinya.

“jangan mengatakan kalau Sehun yang membuatku merubah penampilanku! Tentu saja ini karena kau Byun Baekhyun!!”
“aku?”

            Aku benar benar tak tahu, kenapa aku yang di salahkan. Sedangkan aku tidak tahu.

“iya! Karenamu Byun Baekhyun! Kau membuatku merubah penampilanku! Semuanya! Harusnya kau menyukainya! Aku melakukan ini agar kau mau melihatku sebagai seorang yeoja! Aku merubah penampilanku agar aku bisa menjadi seperti idolamu!!”
“maksudmu? Kau membuat dirimu menjadi seperti member SNSD?”

            Dia mengangguk, dan isakannya semakin jelas.

“untuk apa?”
“karena.. karena aku mencintaimu baekhyun.. aku mencintaimu.. aku ingin menjadi seperti member SNSD agar aku juga bisa di cintai olehmu.. hiks hiks..”

            Aku terkekeh, dia mendongakan kepalanya, riasannya kini sudah luntur oleh air mata. Padahal biasanya ia tak memakai riasan.

“kenapa tertawa?”
“kau lucu..”
“apanya yang lucu?”

            Aku memeluknya erat, ia sedikit tersentak.

“kau tahu.. sebenarnya aku juga menyukaimu.. ani.. maksudku mencintaimu..”
“mwo?”
“aku menyukaimu sebagai seorang yeoja yang selalu mengisi ruang gela di hatiku.. aku mencintaimu sebagai seorang yeoja.. sedangkan girlgroup itu.. aku menyukai mereka sebagai seorang idola..”

            Byun baekhyun! Saatnya kau mengungkapkan perasaanmu! Kau NAMJA!

“aku menyukaimu, mencintai dirimu sendiri.. Jaejin yang polos, tanpa riasan, tanpa rambut berwarna coklat pirang, tanpa potongan pakaian yang rendah..”
“tapi.. ini mirip apa yang di lakukan member girlgroup itu..”
“memang.. tapi kau tidak bisa secantik Yoona, Jesicca, Hyoyeon, Taeyeon, dan lainnya..”
“mwo? Kau jahat!!”
           
            Dia hendak mendorong tubuhku, namun aku semakin memperat pelukanku.

“kau tidak boleh cantik seperti mereka!”
“waeyo?”
“karena akan banyak orang yang menyukaimu.. kau seperti biasa saja, Sehun menyukaimu.. bagaimana jika kau mirip dengan member SNSD..”
“lalu kenapa?”
“kau hanya boleh menjadi milikku.. kau hanya boleh menunjukan kecantikanmu padaku.. hanya aku yang boleh menyukaimu..”
“kau egois..”
“kau juga..”
“mwo?”
“kau egois.. karena kau seenaknya berkencan dengan Sehun tanpa memberi tahuku..”
“tapi kau sudah tahu..”

            Aku sedikit melonggarkan pelukanku.

“riasanmu jelek..”

            Dia mempoutkan bibirnya, dan inilah kesempatan emas

Chuuu~~~

“YAKK BYUN BAEKHYUN!!”
“gomawo chagi..”
“chagi?”
“mulai sekarang kau kekasihku..”
“baekhyun..”
“kau milikku.. kau adalah jaejinku..”
“kau juga.. my bunnie byun..”

            Dan setelah itu, kamipun kembali berciuman tanpa memperdulikan bel yang sudah berbunyi. ^^


-THE END-

Senin, 13 Januari 2014

FF Sweet Day

Title : Sweet Day
Author : Taofu Haewaifu a.k.a Jung Jaejin
Genre : romance gagal, yaoi, boyxboy
Cast : Xi Luhan, Kim Minseok a.k.a Xiumin, and other

--story



-Luhan line-

            Kupejamkan mataku, menikmati setiap sentuhan dan belaian dari sepasang tangan putih lembut ini.

“kau sangat manis, luhannie..”

            Suara merdunya membuatku kembali membuka mataku, kutelusuri setiap wajah cantiknya.

“kau juga.. xi minseok?..”

            Dia terkekeh memperlihatkan tawanya yang sangat manis itu, senyum dan tawa itu selalu membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

“bagaimana bisa kau mengganti margaku begitu saja,hmm?”
“kenapa memang? Kau tidak suka?”
“nae.. aku tidak menyukainya..”
“tapi aku suka.. bukankah itu cocok? Xi Minseok dan Kim Luhan?”

            Dia kembali tertawa, aku hanya mempoutkan bibirku, kenapa namja ini sangat suka tertawa?

“kau sangat lucu Xi Luhan..”

            Dia mencubit pipiku sambil tersenyum gemas

“assh.. appo-yoo hyung..”

            Akupun bangun dari pangkuannya dan mengusap usap pipiku. Dia malah hanya tersenyum.

“sakit?”

            Kenapa namja ini masih bertanya, tentu saja sakit. Biar saja aku diam.

“sini aku sembuhkan..”

            Wajahnya mendekat padaku,dan

Chuuu~~

            Oh my gosh, aku tidak tahu jika wajahku akan seperti apa kali ini. Dia mencium pipi kiriku dengan sangat lembut.

“sudah sembuh?”

            Wajahku kembali merona, astaga, tidak biasa xiumin hyung melakukan ini padaku. Biasanya harus aku yang memulai duluan. Tapi ya sudahlah, ini memang menyenangkan.

“yang kanan berat nih hyung..”

            Kataku manja sambil menyodorkan pipi kananku, dia tersenyum dan kembali mencium pipi kananku.

“yang tengah juga berat..”

            Kini aku memanyunkan bibirku, mungkin xiumin hyung juga akan memberikannya. Dia terkekeh lagi.

“jangan bergurau Haniie.. aku harus menemani Tao..”

            Dia pergi ke kamar Xiu-Tao dan ia keluar bersama Tao.YAKK! itu membuatku cemburu.

“kalian mau kemana?”

            Tanyaku sinis, tatapanku kubuat setajam tajamnya menatap Xiumin hyung dan Tao bergantian.

“hyung tenanglah.. aku hanya meminta min hyung untuk menemaniku membeli tas gucci.. hanya sebentar..”
“sebentar? Lalu kenapa kau tak mengajak yang lain? Masih ada Lay, Chen, dan Kris?! Toh kau juga sudah punya yeoja chingu.. kenapa kau tak menyuruh yeojamu saja untuk menemanimu?!”

            Wajah Tao berubah merah padam, matanya berair. Astaga, salah bicara apa aku tadi. Mampuslah aku bakalan di marahin Xiumin hyung..

“TENTU SAJA AKU AKAN MENYURUH JAEJIN (namkor author*plaak) UNTUK MENEMANIKU JIKA DIA DISINI!! KAU JAHAT HYUNG!!”

            Tao berteriak padaku, oh my gosh. Tao sudah kembali masuk ke kamarnya, suara tangisnya terdengar jelas. Dan lihat? Xiumin hyung menatapku tajam. Aku menelan salivaku dalam dalam.

“Xi Luhan..”
“n..nae hyung..”
“kau tahu? Tao pasti sangat merindukan kekasihnya? Jaejin di korea, sedangkan Tao ada di China.. harusnya kau tak membuatnya kembali merindukan kekasihnya? Kau tak ingat semalaman Tao menangis rindu pada Jaeijn?!”
“aku.. aku kelepasan hyung.. maaf..”

            Ucapku berbelas kasih, semoga dia memaafkanku.

“baiklah.. tapi kuharap setelah ini kau tak mengulangi kejadian yang sama..”

            Xiumin hyung masuk ke kamarnya juga, sepertinya kali ini aku harus bertarung perhatian dengan Tao.

            Aku kembali menjatuhkan diriku di sofa, menyebalkan memang harus bertarung dengan si maknae panda itu. Sudah punya yeoja, tapi manjanya naudzubillah..

“aku pulang..”

            Kris masuk bersama Lay, sepertinya mereka baru saja datang dari supermarket membeli barang keperluan sehari hari.

“hyung.. siapa yang menangis?”

            Tanya lay polos padaku, aku hanya menghela nafas.

“siapa lagi..”
“Tao?”

            Kris meyakinkan, dan aku hanya mengangguk.

“kenapa lagi? Merindukan kekasihnya lagi?”
“yeah..”
“huhh.. sebaiknya kita cepat cepat ke korea.. kasihan Tao..”

            Ucap leader tiang listrik itu. Aku hanya melirik padanya. Ke Korea? Otomatis di sana kami akan ada acara, dan pasti akan ada fan service, jika ada fan service maka ada HunHan, oh my.. lalu bagaimana dengan Xiuminseokku?

“mau apa ke korea? Apa kita ada jadwal disana? Jika tidak, disini lebih baik..”
“ada hyung.. kita di undang untuk menghadiri talkshow bersama member EXO-K..”

            Namja tinggi itupun masuk ke kamarnya, dan si Lay duduk di sampingku.

“aku tau perasaanmu hyung.. senang di tao susah di kau..”

            Namja ini benar benar tau keadaan hatiku. Mungkin karena sudah lama satu kamar jadi dia benar benar tau perasaanku.

            Malamnya, aku baru melihat Xiumin hyung keluar dari kamarnya. Ia membantu Lay mempersiapkan makan malam. Melihat diriku mendekat ke dapur, Lay pergi begitu saja dengan alasan ingin ke toilet pada Xiumin hyung.

“baozi..”

            Aku memeluk tubuhnya dari belakang, aku benar benar merindukannya. Sejak tadi siang ia terus mendiamkan aku.

“lepaskan luhan.. aku ingin memasak..”
“kau tidak bisa memasak.. biar lay saja yang melakukannya..”

            Xiumin hyung berusaha berbalik, yahh aku mengalah saja, mungkin ada yang akan dia sampaikan. WHAT? Kenapa dia malah menyodorkan pisau tajam di hadapanku.

“jangan ganggu aku!”

            Ucapnya tegas, aku pun memilih mengalah lagi dan pergi. Takut pisau itu malah akan melukai Xiumin hyung sendiri.

            Sayup sayup aku mendengar seseorang sedang bicara sambil menangis di balkon. Siapa lagi kalau bukan Tao. Pasti dia sedang menelfon kekasihnya yang jauh nun disana.

“nae chagiaa.. oppa sangat merindukanmu..”
“SEMUANYA! AYO MAKAN!!”

            Teriak Lay dari dapur, aku beranjak malas duduk di bangku makan. Mwo? Kenapa Xiumin hyung menggeser duduknya di samping Tao? Dan apa? Xiumin hyung kenapa begitu perhatian pada Tao? Sedangkan aku disini di anggap apa? Angin? Batu? Atau apa? Siall..

#braakk

            Tentu saja karena emosi aku menggebrak meja, cemburuku kini di luar batas. Aku menatap tajam Xiumin hyung tajam, mengisyaratkan padanya untuk tidak lagi melakukan hal yang aneh aneh lagi.

            Semuanya melihatku aneh, terutama Tao yang sedari tadi menatapku takut takut. Takut mungkin jika ia juga akan menyakiti hyung kesayangannya itu.

“kenapa kau Xi Luhan? Kami sedang makan dan kau malah melakukan hal itu?! Bagaimana jika salah satu dari kami akan tersedak?!”

            Lihatlah, sekarang dia malah memarahi aku. Benar benar menyebalkan

“cepat makan makananmu..”

            Aku sangat kesal kali ini. Aku beranjak pergi dari bangku dan masuk ke kamar Lay-Han

#blamm

            Kututup pintu kamar dengan sangat kencang.

“YAKK XI LUHAN! HABISKAN MAKANANMU!!”

            Cihh, sok peduli.

            Aku berusaha memejamkan mataku sambil memeluk guling yang ada di ranjang.

            Tengah malam, semuanya sudah terlelap dalam mimpinya. Aish, perutku lapar sekali. Ini efek karena aku menghindari makan malam kali ini.

            Di dapur ada apa saja ya? Ahh.. syukurlah.. aku melihat ramen yang masih panas di atas meja.. tapi siapa yang membuatnya malam malam begini. Aku celingak celingukan melihat kanan kiri. Tidak ada orang.

            Ya sudah, kulahap saja ramen pedas yang masih panas mongah mongah itu. (what?)

            Selesai memakannya, perutku benar benar terasa sangat kenyang..

“terimakasih untuk yang sudah membuatnya..”

            Kataku sambil mengusap usap perutku

“cheonma..”

#deggh

            Suara ini, aku menoleh

“baozi?”

            Dia tersenyum, dan mengusap rambutku lembut

“jika kau marah, sebaiknya sekalipun itu kau jangan sekali kali melawatkan makan malammu..”

            Aku tersenyum dan memeluknya erat, semoga ini bukan mimpi ya Tuhan.

“hyung.. kenapa kau mendiamkan aku siang ini? Kau membuatku tersiksa hyung.. kau membuatku cemburu..”

            Dia tertawa lagi, entah kenapa namja ini selalu tertawa jika aku mengatakan hal yang iya iya padanya.

“haha.. kau sangat lucu luhanniie.. ini kulakukan agar kau sadar, agar kau lebih memperhatikan saengmu..”
“mianhae hyung.. aku tidak akan mengulanginya lagi.. aku khilaf..”
“aku juga minta maaf karena mendiamkan dan memarahimu..”
“gwenchana hyung.. hari ini hari yang sangat manis untukku.. aku banyak mengerti olehmu..”

            Aku mendekatkan wajahku di wajah bulatnya, dan

Chuuu~~~

            Bibir kami pun bertemu setelah hampir 8 jam jauh jauhan.

“besok kita ke korea..”
“mwo? Korea?”

            Baguslah. Pertarungan benar benar akan di mulai kali ini. Mianhae Xiuminnie hyungku sayang..


-THE END-