Title : Gone
Author : taofu-tea
Genre : sad romance maybe
._.
Length : chaptered
Cast : Kim Minseok, Xi
Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo | XiuHan or
LuMin focused | slight XiuHun &
HanSoo |
Blah blah : ini FF nei
terinspirasi dari OPV Gone-Jin yang LuMin version. Sumveh author nangis lihat
ni OPV. XiuHan-nya itu bener bener nge-feel. JLEB tepat di dada
author/serahludehthor/.
Author
juga sedikit terinspirasi dengan moment HanSoo di konser Hello! Kemarin yang
waktu Luhan gendong Kyungsoo bridal style. HEI! IT JUST FOR MINSEOK, LU! Sumvah
author vanas liat itu moment ==”
BGM : Gone-Jin, Set Me
Free-Taeyeon, dan lagu lagu yang menurut readers itu mellow dan nge-feel
**
Epilog
Luhan menutup matanya. Air matanya menetes begitu saja. Bibirnya
gemetar. Bahunya bergetar hebat. Luhan jatuh. Tidak kuat untuk bangun. Bahkan
untuk bernafas sangat sulit. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak itu.
Baru beberapa menit yang lalu Minseok meninggalkan dirinya. Meninggalkan
Luhan seorang diri. Dengan alasan yang Luhan sendiri susah untuk mengertinya.
“kau tahu Kyungsoo? Dia sangat manis. Dia menyukaimu bahkan
sebelum kita pacaran. Aku merasa bersalah padanya karena telah merebutmu
darinya. Haha. Bukankah aku sangat jahat, Lu?”
Apa itu yang membuat Minseok pergi? Pertanyaan itu Minseok
ajukan pada Luhan 3 hari yang lalu.
Bukan kau yang jahat Minseok. Tapi Luhan. Luhan yang jahat. Dia
yang telah mencintaimu dan yang membuatmu menjadi miliknya.
Luhan menyukaimu saat kalian pertama kali bertemu, Minseok. Bahkan
itu sebelum kalian mengenal Do Kyungsoo. Dan luhan menahan perasaannya selama 2
tahun. Mengertilah Minseok!
“tuan
posesif, kuharap jika nanti kita berpisah kau akan tetap mengingatku sebagai
seorang teman. Dan jika nanti kita bertemu lagi kau jangan berpura pura untuk
tidak mengenaliku. Aku akan sangat membencimu jika itu terjadi.”
Minseok mengucapkannya 2 hari yang lalu. Perkataan yang
langsung mengena di hati Luhan.
Kim Minseok! Siapa yang menyuruhmu untuk berkata seperti itu?
Tuan posesif macam Luhan tidak mungkin melepaskanmu begitu saja, sekalipun jika
Luhan terkena amnesia berat, ia akan tetap mengingatmu.
“jujur saja, aku takut Lu~. Aku takut jika nanti aku tidak bisa
melupakanmu. Aku takut aku akan tetap bergantung padamu. aku masih belum siap.”
Itu ucapan Minseok sehari sebelumnya. Luhan terasa sesak
mendengar kata kata seperti itu dari Minseok akhir akhir ini.
Luhan akan lebih takut
jika kau meninggalkannya, Minseok! Luhan akan lebih takut jika ia kehilanganmu.
“aku merasa aku sudah tidak pantas untukmu lagi, Luhan. aku
yakin masih ada orang lain yang lebih pantas untuk kau cintai dan kau
pertahankan. Yang akan mencintaimu dan bersamamu sepanjang waktu. Orang yang
bisa melakukan apa yang tidak bisa ku lakukan.”
Dan itulah kalimat terakhir yang Minseok
ucapkan tadi untuk Luhan. ucapan yang bahkan belum berusia 1 jam itu.
Luhan menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak
ada yang seperti Minseok. Tidak ada orang yang lembut dan pengertian seperti
Minseok. Tidak akan ada orang yang akan di cintai dan di pertahankan oleh Luhan
selain Minseok. HANYA MINSEOK.
Tangis Luhan menjadi ketika ia mendapati foto Minseok
terjatuh dari nakas tidurnya. Ia memungut pecahan kaca itu dan menciumi foto
Minseok.
**
Author POV
Di koridor yang sepi itu Luhan berjalan sendiri. Jam masih
menunjukan angka 5:45 pagi. Tapi, Luhan sudah berada di kampusnya. Entah apa
yang ada di dalam fikiran Luhan kali ini.
Biasanya Luhan akan sampai di kampus 5 menit sebelum bel
masuk atau bahkan pas saat bel masuk berbunyi –tentu saja bersama Minseok-. Tapi
ini sudah 1 minggu sejak Minseok menghilang dari pandangan Luhan. dan Luhan
selalu berangkat pagi.
Setiap pagi itu Luhan selalu duduk di bangku dekat kelas
Minseok. Minseok tak ada atau belum berangkat. Jam istirahat –yang biasanya
Luhan habiskan untuk bercanda dan makan bersama Minseok- kini Luhan jadikan
sebagai jam penantian-. Ia rela tidak makan siang hanya untuk menemui Minseok.
Minseok tak ada.
Luhan tidak melihat Minseok selama 1 minggu ini. Entah itu
saat berangkat sekolah, jam istirahat, atau pulang sekolah. Bahkan setiap sore
Luhan selalu berada di depan tempat kursus taekwondo Minseok. Minseok juga tidak
ada.
1 minggu ini Luhan tak menemukan sosok Minseok. Tak mendapat
kabar satu katapun tentang Minseok.
Luhan duduk di bangku dekat kelas minseok pagi ini. Tangannya
menggenggam sebuah buku sains. Matanya terus beredar mencari sosok bertubuh
mungil yang manis.
Dilain tempat, 3 orang memandang punggung Luhan dengan
tatapan sedih.
“kasihan Luhan-hyung! Apa
dia akan terus seperti itu sampai ia bertemu dengan Minseok hyung?” tanya namja
bertubuh tinggi itu –Park Chanyeol-
“sepertinya iya. Kau tahu
jika Luhan hyung sangat mencintai Minseok hyung?!” tambah satunya lagi –Byun
Baekhyun-
“apa kita perlu
memberitahukan Luhan hyung tentang Minseok hyung?” tanya si wajah kotak –Kim
Jongdae-
“ANDWE!” seru dua teman
lainnya
“bukankah Minseok hyung
sudah mengatakan pada kita kalau kita tidak boleh mengatakan apapun tentang
Minseok hyung pada Luhan hyung?!” kata Baekhyun
“iya aku tahu. Tapi kan
kasihan Luhan hyung.” Kata Jongdae
“iya juga sih. Tapi
bagaimanapun juga kita sudah janji sama Minseok hyung!” kata Baekhyun
“eh lagian kalau kita
bilang ke Luhan hyung, Minseok hyung kan tidak tahu. Dia kan sudah
miss-komunikasi sama kita.” Tambah Chanyeol
“enggak! Pokoknya enggak
boleh!” kata Baekhyun keukeu
‘aku hanya ngga mau
menyakiti perasaan hyungku sendiri.’ Gumam baekhyun
Kembali pada Luhan. lelaki itu terlihat semakin gusar ketika
suasana makin ramai. Sampai pada akhirnya seorang lelaki dengan mata besarnya
duduk di samping Luhan.
“pagi hyung.” Sapa laki
laki bermata besar itu –Do Kyungsoo-
“pagi.” Balas Luhan
“masih menunggunya hyung?”
tanya Kyungsoo
“ya.” Jawab Luhan sambil
tersenyum
“dia tidak akan pernah
terlihat lagi hyung.” Kata Kyungsoo
“mwo?” Luhan menatap Kyungsoo
dengan tatapan –wae?-
“dia pindah hyung. Kau
masih belum tahu itu?” tanya Kyungsoo membalas tatapan Luhan
Luhan mengalihkan pandangannya lurus kedepan. Dia menghela
nafasnya lembut.
“aku mendengar itu. tapi
aku tidak mau percaya. Karena aku masih ingin melihatnya disini.” jawab Luhan
lirih
“kenapa kalian putus,
hyung? Padahal jika di lihat lihat, hubunganmu sangat romantis dan harmonis.” Kata
Kyungsoo
Luhan tersenyum pahit.
“memang. Awalnya memang
seperti itu. aku mencintainya. Dia mencintaiku. Tapi entah setan mana yang
merasukinya, kenapa ia tega meninggalkanku.” Kata Luhan masih dengan senyum
pahitnya
“karena dia tidak
mencintaimu lagi hyung.” Kata Kyungsoo sekenanya
Entah kenapa, hati Luhan mencolos begitu saja mendengar kata
Kyungsoo yang seakan membuat paru parunya menyempit tiba tiba dan membuatnya
sulit bernafas.
“jinjja? Ahh. Sepertinya
sudah akan bel. Minseok tidak akan datang, kan? Aku akan ke kelas dulu. Bye
kyungsoo-ah!” Luhan meninggalkan Kyungsoo di bangku itu sendirian
Kyungsoo hanya tersenyum kecil.
“kenapa kau tak membuka hatimu
saja, hyung? Dan membiarkan aku masuk di dalamnya dan menutupnya rapat rapat
kembali.” Gumam Kyungsoo
**
Seseorang dengan mata rubah itu sedang asyik bermain dengan
anak anjingnya. Sesekali tangannya melemparkan sebuah bola kasti dan anjingnya
itu akan berlari mengambilnya.
“ayo monggu tangkap ini!”
namja bermata rubah bernama Minseok itu kembali melemparkan bola kecil berwarna
hijau itu
Monggu –si anak anjing itu- berlari mengambil bola itu. namun
beberapa menit Monggu tak kembali, membuat si empu pemilik merasa khawatir.
Minseok berlari mengelilingi taman luas yang tidak terlalu
ramai pengunjung itu. ia melihat monggu berada di pangkuan seorang namja.
“eo? Monggu!” teriak
Minseok girang
Tangan Minseok kini sudah menjarah Monggu kembali ke
pelukannya. Namja yang tadi menggendong Monggu itu tersenyum.
“kau yang punya anjing
ini?” tanya namja itu
“nae.” Minseok mengangguk
“tadi dia mengambil
sebuah bola kasti dan malah memberikannya padaku. Haha. Jadi kufikir dia anjing
hilang. Beruntung anjing itu tidak jadi kubawa pulang.” Kata namja itu
“haha. Monggu kau ini
nakal sekali ini.” Minseok mengacak acak bulu coklat Monggu
-guk guk-
Hanya gonggongan kecil dari anjing kecil itu untuk membalas
perlakuan Minseok.
“eum, siapa namamu?”
tanya namja itu
“minseok, kim minseok. Kau?”
tanya Minseok balik
“oh sehun.” Jawab namja
itu
“ah. Oh Sehun. kalau begitu
aku pergi dulu sehun-sii, ini sudah terlalu sore. Anyeong.” Minseok membungkuk
hormat dan berlari pergi bersama monggu
Namja berwajah datar itu memperhatikan Minseok sambil
tersenyum kecil.
“manis.” Gumamnya
**
Luhan membuka buku sains itu malas. Hanya ada satu penerangan
di meja belajarnya.
“biasanya baozi akan
mengajariku mengerjakan soal soal sialan ini.” Lirih Luhan sambil tersenyum
kecil
“dia akan menggenggam
tanganku dan menuliskan rumus rumus itu dengan mudah. Dia akan memarahiku jika
aku salah mengerjakan soal yang ia berikan. dia akan menghukumku jika aku
mendapat hasil ujian di bawah C. Dia. Dia akan.. hiks.” Luhan kembali terisak
Ia melipat tangannya di meja dan menenggelamkan wajahnya
disana. Bahunya bergetar. Sudah 1 minggu ini Luhan selalu menangis di setiap ia
mengingat hal hal berbau baozi-nya.
Kumohon siapapun katakan pada Luhan, jika Minseok baik baik. Setidaknya
itu akan membuat Luhan lebih tenang.
Bahkan Luhan tidak tahu bagaimana keadaan Minseok sekarang. Apakah
Minseok baik baik saja? Luhan sama sekali tidak tahu sekalipun ia terus
berusaha mencari kabar tentang Minseok manisnya itu.
“hyung.” Panggil
seseorang dari balik pintu kamar Luhan
“masuklah.” Luhan
mengusap air matanya kasar
Seseorang dengan wajah manisnya masuk ke dalam kamar Luhan
dan perlahan kembali menutup pintu kayu itu.
“kau sedang apa?” tanya Baekhyun –yang
ternyata adalah adik sepupu Luhan-
“mengerjakan tugas dari
dosen Cho.” Jawab Luhan
“aish! Aku benar benar
benci dengan si dosen satu itu. cara bicaranya benar benar menyakitkan. Kalau
ngasih tugas, beuh. Susahnyaa..” namja itu mengeluh panjang
“kau masih semester 1,
itu masih belum apa-apa.” Kata Luhan sambil tersenyum
“aku menyesal masuk
universitas itu dan bertemu dengan dosen menyebalkan itu! ihh!” Baekhyun
bergidik ngeri
Luhan hanya tersenyum. Luhan memang banyak tersenyum seperti
biasa, namun senyumnya akhir akhir ini tidak seperti biasanya. Sebelum Minseok
pergi, Luhan tersenyum sangat tulus dan manis. Tapi setelah Minseok pergi,
senyum manis Luhan memudar menjadi senyuman yang pahit dan menyedihkan.
“hyung.” Panggil Baekhyun
“ya?” tanya Luhan
“akhir akhir ini kau
sepertinya tidak baik.” Kata Baekhyun
“aku hanya kecapean saja
baek. Mungkin karena tugas tugasku yang selalu menumpuk saja tiap harinya,
haha.” Tawa Luhan nista
“tidak hyung, bukan itu.”
kata Baekhyun
Luhan mengangkat alisnya satu sambil menatap Baekhyun
bingung.
“matamu mengatakan hal
lain hyung. Bukan karena kau kecapean hyung. Pasti ada hal lain, kan?” tanya
Baekhyun
“tidak baek, tidak ada.” Jawab
Luhan
“kau sedih kan hyung?”
tanya Baekhyun
“kenapa sedih? Aku
bahagia kok.” Kata Luhan –BOHONG-
“kau sedih karena Minseok
hyung pergi kan, hyung?” tanya Baekhyun
Tubuh Luhan membeku. Iya Baekhyun. Luhan sedih karena Minseok
meninggalkannya.
“lupakan saja dia hyung.”
Saran Baekhyun
“terima kasih atas
saranmu baek. Tapi aku tidak bisa melakukannya.” Kata Luhan
Luhan berusaha mengabaikan Baekhyun yang kembali memberinya
saran dan nasihat untuk melupakan Minseok.
Byun Baekhyun. Apa perlu aku meneriakimu. Bukan hal mudah
untuk Luhan melupakan kekasihnya itu. memang orang mudah sekali bicara untuk move on pada orang lain, tapi itu tidak
semudah untuk orang yang melakukannya.
“..kau tahu kan hyung. Minseok
hyung pasti mengambil keputusan yang menurutnya adalah hal yang paling baik. Dan
itu benar benar memang yang terbaik. Contoh saja saat aku memintanya saran
untukku memilih Chanyeol atau Jongdae, dia menyarankan aku untuk tidak memilih
keduanya. Dan benar saja, aku tidak memilih mereka dan itu jalan yang baik!” kata
Baekhyun panjang lebar
Kau memilih Chanyeol atau Jongdae itu urusan sendiri
Baekhyun. Tentu saja Minseok menyarankanmu untuk tidak memilih siapapun, jika
kandidatmu adalah bocah bocah macam Chanyeol dan Jongdae.
“sudahlah baek. Aku akan
memikirkan hal itu lain kali, aku masih harus mengerjakan tugas ini. Dan
bisakah kau menutup pintu kamarku dari luar?” tanya Luhan
Dan bisakah kau menutup pintu kamarku dari LUAR? Tentu saja
itu adalah cara mengusir yang begitu lembut tapi sangat jleb di hati.
“arraseo hyung! Pikirkan
baik baik! Lupakan minseok dan buka hatimu untuk orang lain! Jalja~~” Baekhyun
pun menuruti perintah Luhan –menutup pintu dari luar-
Luhan menghela nafasnya panjang dan tersenyum
“ini tidak seperti yang
kau lihat byun baekhyun.” Kata Luhan
**
“hyung bisa kau ajari aku
ini?” tanya Jongin-adik minseok-
“sini.” Minseok menyuruh
adiknya mendekat
Jongin meletakan buku matematika itu di pangkuan Minseok. Tangannya
melingkar di pinggang hyung kesayangannya itu.
“hei, kau mau aku mengajarimu
ini tidak? Kenapa malah bermanja manja seperti ini, eoh?” tanya Minseok
“aku kan rindu kamu
hyung. Keburu kamu nanti kembali ke Seoul.” Kata Jongin
“aku tidak akan kembali
ke Seoul, Jong. Aku akan tinggal di Incheon menjagamu dan eomma.” Kata Minseok
sambil mengusap usap rambut Jongin
“yang benar?” tanya
Jongin
“ya. Mungkin.” Kata
Minseok ragu
“hyung!” panggil jongin
“apa?” tanya Minseok
“sebenarnya aku lebih
tinggi darimu, karena aku memang tambah tinggi atau kamu yang menyusut?!” tanya
Jongin dengan wajah polosnya
“yak! dasar kau dongsaeng
sialan! Hah! Aku tidak jadi mengajarimu!” Minseok mempoutkan bibirnya
“yahh hyung! Ayolah
hyung! Maaf ya, maaf? Kan tadi Cuma becanda. Maaf ya hyung! Hyung pendek tapi
imut kok!” kata Jongin sambil mengatupkan telapak tangannya
“jangan beraegyo di
depanku! Aegyomu sangat buruk!” kata Minseok
“aishh hyung! Jebal..”
Jongin semakin merengek
“baiklah baiklah.”
Minseok menyerah dan meneruskan untuk mengajari Jongin
Minseok mengajari Jongin sampai selesai. Sesudah itu mereka
tidur di kamar mereka.
Jongin memeluk hyung-nya itu.
“hyung, kau cantik.” Kata
Jongin
“yak! aku namja, Jong!”
pekik Minseok tak terima
“tapi kenyataannya memang
begitu hyung, kau cantik, manis, imut. Kau lebih cocok menjadi nunna-ku!” kata
Jongin
Minseok terdiam. Ingat sesuatu.
“tapi kenyataannya memang begitu, baby baozi. Kau cantik, manis,
dan imut. kau lebih cocok menjadi yeojachinguku daripada namjachinguku. Hehe.
Tapi aku tetap mencintaimu entah itu kau namja atau yeoja. Saranghae my baozi.”
Bisik Luhan
Air mata Minseok menetes begitu saja. Jongin menyadarinya. Buru
buru ia mengusap air mata hyung-nya itu.
“hyung, kenapa menangis?”
tanya Jongin cemas
“ania, gwenchana.”
Minseok tersenyum
“hyung apa perkataanku
menyakitimu hyung? Maaf. Maaf ya hyung.” Kata Jongin
“ania, aku hanya ingat
sesuatu.” Kata Minseok
Hening.
“kau mengingat Luhan?”
tanya Jongin dengan nada datar
Minseok diam. Iya. Minseok ingat Luhan.
“lupakan namja brengsek
itu hyung.” Kata Jongin
“aku akan berusaha.” Kata
Minseok lirih
“iya hyung! Kau harus! Kalau
perlu aku akan mengenalkanmu pada temanku! Mereka sangat tampan!” kata Jongin
“tidak usah, Jong. Mereka
mana mau sama hyungmu ini? Aku sudah terlalu tua.” Kata Minseok
“siapa yang bilang? Wajahmu
bohong hyung. Kau bahkan terlihat lebih muda daripada aku.” Kata Jongin
**
eotte? gaje? jelek? end atau next? itu tergantung respon reader. *emang ada reader di FF lu thor? #zlleeeb*
yah insyaallah deh author share part 2 nya kalau author lagi GOOD MOOD! See You! salam kecup dari anaknya Xiuhan :*

Thor~ Part 2-nya jebal~ nee? *aegyo bareng Xiuhan* Pleasee~~
BalasHapusThor~ Part 2-nya jebal~ nee? *aegyo bareng Xiuhan* Pleasee~~
BalasHapus