Just little girl named Xiao Ai

Senin, 14 April 2014

FF Gone/ LuMin/ part.1



Title : Gone

Author : taofu-tea

Genre : sad romance maybe ._.

Length : chaptered

Cast : Kim Minseok, Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo | XiuHan or 
LuMin focused | slight XiuHun & HanSoo |
Blah blah : ini FF nei terinspirasi dari OPV Gone-Jin yang LuMin version. Sumveh author nangis lihat ni OPV. XiuHan-nya itu bener bener nge-feel. JLEB tepat di dada author/serahludehthor/.
 Author juga sedikit terinspirasi dengan moment HanSoo di konser Hello! Kemarin yang waktu Luhan gendong Kyungsoo bridal style. HEI! IT JUST FOR MINSEOK, LU! Sumvah author vanas liat itu moment ==”

BGM : Gone-Jin, Set Me Free-Taeyeon, dan lagu lagu yang menurut readers itu mellow dan nge-feel

 


**
Epilog

        Luhan menutup matanya. Air matanya menetes begitu saja. Bibirnya gemetar. Bahunya bergetar hebat. Luhan jatuh. Tidak kuat untuk bangun. Bahkan untuk bernafas sangat sulit. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak itu.
        Baru beberapa menit yang lalu Minseok meninggalkan dirinya. Meninggalkan Luhan seorang diri. Dengan alasan yang Luhan sendiri susah untuk mengertinya.

“kau tahu Kyungsoo? Dia sangat manis. Dia menyukaimu bahkan sebelum kita pacaran. Aku merasa bersalah padanya karena telah merebutmu darinya. Haha. Bukankah aku sangat jahat, Lu?”

        Apa itu yang membuat Minseok pergi? Pertanyaan itu Minseok ajukan pada Luhan 3 hari yang lalu.
        Bukan kau yang jahat Minseok. Tapi Luhan. Luhan yang jahat. Dia yang telah mencintaimu dan yang membuatmu menjadi miliknya.
        Luhan menyukaimu saat kalian pertama kali bertemu, Minseok. Bahkan itu sebelum kalian mengenal Do Kyungsoo. Dan luhan menahan perasaannya selama 2 tahun. Mengertilah Minseok!

tuan posesif, kuharap jika nanti kita berpisah kau akan tetap mengingatku sebagai seorang teman. Dan jika nanti kita bertemu lagi kau jangan berpura pura untuk tidak mengenaliku. Aku akan sangat membencimu jika itu terjadi.”

        Minseok mengucapkannya 2 hari yang lalu. Perkataan yang langsung mengena di hati Luhan.
        Kim Minseok! Siapa yang menyuruhmu untuk berkata seperti itu? Tuan posesif macam Luhan tidak mungkin melepaskanmu begitu saja, sekalipun jika Luhan terkena amnesia berat, ia akan tetap mengingatmu.

“jujur saja, aku takut Lu~. Aku takut jika nanti aku tidak bisa melupakanmu. Aku takut aku akan tetap bergantung padamu. aku masih belum siap.”

        Itu ucapan Minseok sehari sebelumnya. Luhan terasa sesak mendengar kata kata seperti itu dari Minseok akhir akhir ini.
        Luhan  akan lebih takut jika kau meninggalkannya, Minseok! Luhan akan lebih takut jika ia kehilanganmu.

“aku merasa aku sudah tidak pantas untukmu lagi, Luhan. aku yakin masih ada orang lain yang lebih pantas untuk kau cintai dan kau pertahankan. Yang akan mencintaimu dan bersamamu sepanjang waktu. Orang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa ku lakukan.”

        Dan itulah kalimat terakhir yang Minseok ucapkan tadi untuk Luhan. ucapan yang bahkan belum berusia 1 jam itu.
        Luhan menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak ada yang seperti Minseok. Tidak ada orang yang lembut dan pengertian seperti Minseok. Tidak akan ada orang yang akan di cintai dan di pertahankan oleh Luhan selain Minseok. HANYA MINSEOK.
        Tangis Luhan menjadi ketika ia mendapati foto Minseok terjatuh dari nakas tidurnya. Ia memungut pecahan kaca itu dan menciumi foto Minseok.

**
Author POV

        Di koridor yang sepi itu Luhan berjalan sendiri. Jam masih menunjukan angka 5:45 pagi. Tapi, Luhan sudah berada di kampusnya. Entah apa yang ada di dalam fikiran Luhan kali ini.
        Biasanya Luhan akan sampai di kampus 5 menit sebelum bel masuk atau bahkan pas saat bel masuk berbunyi –tentu saja bersama Minseok-. Tapi ini sudah 1 minggu sejak Minseok menghilang dari pandangan Luhan. dan Luhan selalu berangkat pagi.
        Setiap pagi itu Luhan selalu duduk di bangku dekat kelas Minseok. Minseok tak ada atau belum berangkat. Jam istirahat –yang biasanya Luhan habiskan untuk bercanda dan makan bersama Minseok- kini Luhan jadikan sebagai jam penantian-. Ia rela tidak makan siang hanya untuk menemui Minseok. Minseok tak ada.
        Luhan tidak melihat Minseok selama 1 minggu ini. Entah itu saat berangkat sekolah, jam istirahat, atau pulang sekolah. Bahkan setiap sore Luhan selalu berada di depan tempat kursus taekwondo Minseok. Minseok juga tidak ada.
        1 minggu ini Luhan tak menemukan sosok Minseok. Tak mendapat kabar satu katapun tentang Minseok.
        Luhan duduk di bangku dekat kelas minseok pagi ini. Tangannya menggenggam sebuah buku sains. Matanya terus beredar mencari sosok bertubuh mungil yang manis.
        Dilain tempat, 3 orang memandang punggung Luhan dengan tatapan sedih.

“kasihan Luhan-hyung! Apa dia akan terus seperti itu sampai ia bertemu dengan Minseok hyung?” tanya namja bertubuh tinggi itu –Park Chanyeol-
“sepertinya iya. Kau tahu jika Luhan hyung sangat mencintai Minseok hyung?!” tambah satunya lagi –Byun Baekhyun-
“apa kita perlu memberitahukan Luhan hyung tentang Minseok hyung?” tanya si wajah kotak –Kim Jongdae-
“ANDWE!” seru dua teman lainnya
“bukankah Minseok hyung sudah mengatakan pada kita kalau kita tidak boleh mengatakan apapun tentang Minseok hyung pada Luhan hyung?!” kata Baekhyun
“iya aku tahu. Tapi kan kasihan Luhan hyung.” Kata Jongdae
“iya juga sih. Tapi bagaimanapun juga kita sudah janji sama Minseok hyung!” kata Baekhyun
“eh lagian kalau kita bilang ke Luhan hyung, Minseok hyung kan tidak tahu. Dia kan sudah miss-komunikasi sama kita.” Tambah Chanyeol
“enggak! Pokoknya enggak boleh!” kata Baekhyun keukeu
‘aku hanya ngga mau menyakiti perasaan hyungku sendiri.’ Gumam baekhyun

        Kembali pada Luhan. lelaki itu terlihat semakin gusar ketika suasana makin ramai. Sampai pada akhirnya seorang lelaki dengan mata besarnya duduk di samping Luhan.

“pagi hyung.” Sapa laki laki bermata besar itu –Do Kyungsoo-
“pagi.” Balas Luhan
“masih menunggunya hyung?” tanya Kyungsoo
“ya.” Jawab Luhan sambil tersenyum
“dia tidak akan pernah terlihat lagi hyung.” Kata Kyungsoo
“mwo?” Luhan menatap Kyungsoo dengan tatapan –wae?-
“dia pindah hyung. Kau masih belum tahu itu?” tanya Kyungsoo membalas tatapan Luhan

        Luhan mengalihkan pandangannya lurus kedepan. Dia menghela nafasnya lembut.

“aku mendengar itu. tapi aku tidak mau percaya. Karena aku masih ingin melihatnya disini.” jawab Luhan lirih
“kenapa kalian putus, hyung? Padahal jika di lihat lihat, hubunganmu sangat romantis dan harmonis.” Kata Kyungsoo

        Luhan tersenyum pahit.

“memang. Awalnya memang seperti itu. aku mencintainya. Dia mencintaiku. Tapi entah setan mana yang merasukinya, kenapa ia tega meninggalkanku.” Kata Luhan masih dengan senyum pahitnya
“karena dia tidak mencintaimu lagi hyung.” Kata Kyungsoo sekenanya

        Entah kenapa, hati Luhan mencolos begitu saja mendengar kata Kyungsoo yang seakan membuat paru parunya menyempit tiba tiba dan membuatnya sulit bernafas.

“jinjja? Ahh. Sepertinya sudah akan bel. Minseok tidak akan datang, kan? Aku akan ke kelas dulu. Bye kyungsoo-ah!” Luhan meninggalkan Kyungsoo di bangku itu sendirian

        Kyungsoo hanya tersenyum kecil.

“kenapa kau tak membuka hatimu saja, hyung? Dan membiarkan aku masuk di dalamnya dan menutupnya rapat rapat kembali.” Gumam Kyungsoo

**

        Seseorang dengan mata rubah itu sedang asyik bermain dengan anak anjingnya. Sesekali tangannya melemparkan sebuah bola kasti dan anjingnya itu akan berlari mengambilnya.

“ayo monggu tangkap ini!” namja bermata rubah bernama Minseok itu kembali melemparkan bola kecil berwarna hijau itu

        Monggu –si anak anjing itu- berlari mengambil bola itu. namun beberapa menit Monggu tak kembali, membuat si empu pemilik merasa khawatir.
        Minseok berlari mengelilingi taman luas yang tidak terlalu ramai pengunjung itu. ia melihat monggu berada di pangkuan seorang namja.

“eo? Monggu!” teriak Minseok girang

        Tangan Minseok kini sudah menjarah Monggu kembali ke pelukannya. Namja yang tadi menggendong Monggu itu tersenyum.

“kau yang punya anjing ini?” tanya namja itu
“nae.” Minseok mengangguk
“tadi dia mengambil sebuah bola kasti dan malah memberikannya padaku. Haha. Jadi kufikir dia anjing hilang. Beruntung anjing itu tidak jadi kubawa pulang.” Kata namja itu
“haha. Monggu kau ini nakal sekali ini.” Minseok mengacak acak bulu coklat Monggu

-guk guk-

        Hanya gonggongan kecil dari anjing kecil itu untuk membalas perlakuan Minseok.

“eum, siapa namamu?” tanya namja itu
“minseok, kim minseok. Kau?” tanya Minseok balik
“oh sehun.” Jawab namja itu
“ah. Oh Sehun. kalau begitu aku pergi dulu sehun-sii, ini sudah terlalu sore. Anyeong.” Minseok membungkuk hormat dan berlari pergi bersama monggu

        Namja berwajah datar itu memperhatikan Minseok sambil tersenyum kecil.

“manis.” Gumamnya

**

        Luhan membuka buku sains itu malas. Hanya ada satu penerangan di meja belajarnya.

“biasanya baozi akan mengajariku mengerjakan soal soal sialan ini.” Lirih Luhan sambil tersenyum kecil
“dia akan menggenggam tanganku dan menuliskan rumus rumus itu dengan mudah. Dia akan memarahiku jika aku salah mengerjakan soal yang ia berikan. dia akan menghukumku jika aku mendapat hasil ujian di bawah C. Dia. Dia akan.. hiks.” Luhan kembali terisak

        Ia melipat tangannya di meja dan menenggelamkan wajahnya disana. Bahunya bergetar. Sudah 1 minggu ini Luhan selalu menangis di setiap ia mengingat hal hal berbau baozi-nya.
        Kumohon siapapun katakan pada Luhan, jika Minseok baik baik. Setidaknya itu akan membuat Luhan lebih tenang.
        Bahkan Luhan tidak tahu bagaimana keadaan Minseok sekarang. Apakah Minseok baik baik saja? Luhan sama sekali tidak tahu sekalipun ia terus berusaha mencari kabar tentang Minseok manisnya itu.

“hyung.” Panggil seseorang dari balik pintu kamar Luhan
“masuklah.” Luhan mengusap air matanya kasar
       
        Seseorang dengan wajah manisnya masuk ke dalam kamar Luhan dan perlahan kembali menutup pintu kayu itu.

 “kau sedang apa?” tanya Baekhyun –yang ternyata adalah adik sepupu Luhan-
“mengerjakan tugas dari dosen Cho.” Jawab Luhan
“aish! Aku benar benar benci dengan si dosen satu itu. cara bicaranya benar benar menyakitkan. Kalau ngasih tugas, beuh. Susahnyaa..” namja itu mengeluh panjang
“kau masih semester 1, itu masih belum apa-apa.” Kata Luhan sambil tersenyum
“aku menyesal masuk universitas itu dan bertemu dengan dosen menyebalkan itu! ihh!” Baekhyun bergidik ngeri

        Luhan hanya tersenyum. Luhan memang banyak tersenyum seperti biasa, namun senyumnya akhir akhir ini tidak seperti biasanya. Sebelum Minseok pergi, Luhan tersenyum sangat tulus dan manis. Tapi setelah Minseok pergi, senyum manis Luhan memudar menjadi senyuman yang pahit dan menyedihkan.

“hyung.” Panggil Baekhyun
“ya?” tanya Luhan
“akhir akhir ini kau sepertinya tidak baik.” Kata Baekhyun
“aku hanya kecapean saja baek. Mungkin karena tugas tugasku yang selalu menumpuk saja tiap harinya, haha.” Tawa Luhan nista
“tidak hyung, bukan itu.” kata Baekhyun

        Luhan mengangkat alisnya satu sambil menatap Baekhyun bingung.

“matamu mengatakan hal lain hyung. Bukan karena kau kecapean hyung. Pasti ada hal lain, kan?” tanya Baekhyun
“tidak baek, tidak ada.” Jawab Luhan
“kau sedih kan hyung?” tanya Baekhyun
“kenapa sedih? Aku bahagia kok.” Kata Luhan –BOHONG-
“kau sedih karena Minseok hyung pergi kan, hyung?” tanya Baekhyun

        Tubuh Luhan membeku. Iya Baekhyun. Luhan sedih karena Minseok meninggalkannya.

“lupakan saja dia hyung.” Saran Baekhyun
“terima kasih atas saranmu baek. Tapi aku tidak bisa melakukannya.” Kata Luhan

        Luhan berusaha mengabaikan Baekhyun yang kembali memberinya saran dan nasihat untuk melupakan Minseok.
        Byun Baekhyun. Apa perlu aku meneriakimu. Bukan hal mudah untuk Luhan melupakan kekasihnya itu. memang orang mudah sekali bicara untuk move on pada orang lain, tapi itu tidak semudah untuk orang yang melakukannya.

“..kau tahu kan hyung. Minseok hyung pasti mengambil keputusan yang menurutnya adalah hal yang paling baik. Dan itu benar benar memang yang terbaik. Contoh saja saat aku memintanya saran untukku memilih Chanyeol atau Jongdae, dia menyarankan aku untuk tidak memilih keduanya. Dan benar saja, aku tidak memilih mereka dan itu jalan yang baik!” kata Baekhyun panjang lebar

        Kau memilih Chanyeol atau Jongdae itu urusan sendiri Baekhyun. Tentu saja Minseok menyarankanmu untuk tidak memilih siapapun, jika kandidatmu adalah bocah bocah macam Chanyeol dan Jongdae.

“sudahlah baek. Aku akan memikirkan hal itu lain kali, aku masih harus mengerjakan tugas ini. Dan bisakah kau menutup pintu kamarku dari luar?” tanya Luhan

        Dan bisakah kau menutup pintu kamarku dari LUAR? Tentu saja itu adalah cara mengusir yang begitu lembut tapi sangat jleb di hati.

“arraseo hyung! Pikirkan baik baik! Lupakan minseok dan buka hatimu untuk orang lain! Jalja~~” Baekhyun pun menuruti perintah Luhan –menutup pintu dari luar-

        Luhan menghela nafasnya panjang dan tersenyum

“ini tidak seperti yang kau lihat byun baekhyun.” Kata Luhan

**

“hyung bisa kau ajari aku ini?” tanya Jongin-adik minseok-
“sini.” Minseok menyuruh adiknya mendekat

        Jongin meletakan buku matematika itu di pangkuan Minseok. Tangannya melingkar di pinggang hyung kesayangannya itu.

“hei, kau mau aku mengajarimu ini tidak? Kenapa malah bermanja manja seperti ini, eoh?” tanya Minseok
“aku kan rindu kamu hyung. Keburu kamu nanti kembali ke Seoul.” Kata Jongin
“aku tidak akan kembali ke Seoul, Jong. Aku akan tinggal di Incheon menjagamu dan eomma.” Kata Minseok sambil mengusap usap rambut Jongin
“yang benar?” tanya Jongin
“ya. Mungkin.” Kata Minseok ragu
“hyung!” panggil jongin
“apa?” tanya Minseok
“sebenarnya aku lebih tinggi darimu, karena aku memang tambah tinggi atau kamu yang menyusut?!” tanya Jongin dengan wajah polosnya
“yak! dasar kau dongsaeng sialan! Hah! Aku tidak jadi mengajarimu!” Minseok mempoutkan bibirnya
“yahh hyung! Ayolah hyung! Maaf ya, maaf? Kan tadi Cuma becanda. Maaf ya hyung! Hyung pendek tapi imut kok!” kata Jongin sambil mengatupkan telapak tangannya
“jangan beraegyo di depanku! Aegyomu sangat buruk!” kata Minseok
“aishh hyung! Jebal..” Jongin semakin merengek
“baiklah baiklah.” Minseok menyerah dan meneruskan untuk mengajari Jongin
       
        Minseok mengajari Jongin sampai selesai. Sesudah itu mereka tidur di kamar mereka.
        Jongin memeluk hyung-nya itu.

“hyung, kau cantik.” Kata Jongin
“yak! aku namja, Jong!” pekik Minseok tak terima
“tapi kenyataannya memang begitu hyung, kau cantik, manis, imut. Kau lebih cocok menjadi nunna-ku!” kata Jongin

        Minseok terdiam. Ingat sesuatu.

“tapi kenyataannya memang begitu, baby baozi. Kau cantik, manis, dan imut. kau lebih cocok menjadi yeojachinguku daripada namjachinguku. Hehe. Tapi aku tetap mencintaimu entah itu kau namja atau yeoja. Saranghae my baozi.” Bisik Luhan

        Air mata Minseok menetes begitu saja. Jongin menyadarinya. Buru buru ia mengusap air mata hyung-nya itu.

“hyung, kenapa menangis?” tanya Jongin cemas
“ania, gwenchana.” Minseok tersenyum
“hyung apa perkataanku menyakitimu hyung? Maaf. Maaf ya hyung.” Kata Jongin
“ania, aku hanya ingat sesuatu.” Kata Minseok

        Hening.

“kau mengingat Luhan?” tanya Jongin dengan nada datar

        Minseok diam. Iya. Minseok ingat Luhan.

“lupakan namja brengsek itu hyung.” Kata Jongin
“aku akan berusaha.” Kata Minseok lirih
“iya hyung! Kau harus! Kalau perlu aku akan mengenalkanmu pada temanku! Mereka sangat tampan!” kata Jongin
“tidak usah, Jong. Mereka mana mau sama hyungmu ini? Aku sudah terlalu tua.” Kata Minseok
“siapa yang bilang? Wajahmu bohong hyung. Kau bahkan terlihat lebih muda daripada aku.” Kata Jongin

**
        
eotte? gaje? jelek? end atau next? itu tergantung respon reader. *emang ada reader di FF lu thor? #zlleeeb*
yah insyaallah deh author share part 2 nya kalau author lagi GOOD MOOD! See You! salam kecup dari anaknya Xiuhan :*