Title : Naman Sarangbwajo
Author : Taofu-tea
Genre : romance gagal
Cast : Jung Jaejin, Oh Sehun, dan lain lain.
Kalau ngga kuat sama bahasa yang berbelit belit sebaiknya ngga usah baca
ini FF. NO BASH! *COPAS WITH FULL CREDIT*
-
-Jung Jaejin-
Tersebutlah
di dalam fanfiction ini, seorang gadis bernama Jung Jaejin yang berwajah bulat
dan bertubuh pendek kecil. Tapi hal itulah yang membuatnya terkesan seperti
anak SMP, walau umurnya sudah menginjak kepala 2.
Topi
chikara dengan telinga kucing selalu menempel di rambut lurus sebahunya yang berwarna hitam
kecoklatan dan berponi pagar yang juga selalu di biarkan terurai. Mata besarnya
begitu terlihat bersinar dan gemerlap di bawah cahaya. Pipi gempal kemerahannya
dan juga bibir cherry itu pasti akan membuat siapapun yang bertemu dengannya
merasa gemas.
Dia
sekarang bersekolah di Universitas Nasional Seoul dengan mengambil jurusan
sastra bahasa. Cita-citanya sebagai sastrawan terkenal begitu memancing
semangatnya untuk sering menundukan wajahnya berjam jam demi membaca satu
persatu kata buku-buku tebal sastra di perpustakaan.
Murid
kesayangan seluruh guru bahasa ini tak terlalu mempedulikan ejekan
teman-temannya. Kutu buku, Gadis sastra, Hantu Bahasa, dan sebagainya.
Walaupun
begitu dia sangat di sukai teman-temannya, selain ramah dia juga di kenal
sebagai gadis periang dan selalu ceria di setiap langkahnya. Kadang, di mata
teman temannya, Jaejin termasuk golongan orang cerewet, jika dirinya menemui
seseorang yang salah menggunakan bahasa dengan tepat.
Gadis
keras kepala yang suka mempoutkan bibirnya itu sungguh menyukai es krim dan
coklat. Jika di tanya hal apa yang kau suka selain sastra? Maka dia akan
menjawab es krim dan coklat. Bayangkan saja, gadis ini juga tak begitu baik
dalam memakan makanan favoritnya itu. Belepotan disana sini.
-Oh Sehun-
Namja
yang nyaris di bilang sempurna ini memang mampu membuat setiap yeoja yang ia
lewati meleleh. Tinggi, berbadan bagus, wajah tampan, kulit putih, dan
segalanya. Tak hanya fisik, dia memiliki kemampuan otak yang bagus. Dia pintar
dalam segala bidang pelajaran, akademik maupun non akademik. Itulah yang
membuatnya menjadi bintang di Universitas Nasional Seoul.
Anak
tunggal seorang pengusaha tersohor di negeri ginseng ini mengambil jurusan Sains.
Tampan, mapan, dan pintar. Tidak akan ada yang mampu berpaling darinya.
Namun
sungguh di sayangkan, Sikap dingin dan kejamnya itu yang membuat banyak yeoja
untuk berpikir 2 kali dalam hal mendekatinya. Walaupun seperti itu, dalam
kehidupan realistisnya, dia adalah seorang lelaki manja yang haus akan
perhatian dan kasih sayang.
Kedua
orang tuanya sibuk bekerja. Mungkin orang tuanya lupa jika mereka punya anak
yang sangat tampan. Pikir Sehun.
Pertanyaannya,
kenapa dia tidak mencari yeoja chingu saja? Pasti banyak yeoja yang
menginginkannya. Dan pasti akan sangat menyayangi Sehun. TIDAK. Salah besar
jika kalian mengira Sehun punya perasaan itu. Sehun sungguh membenci hal hal
berbau seperti itu. Pacar. Bunga. Kencan. Dan sebagainya, Sehun benci itu. Ia
tidak suka ada yeoja mendekatinya. Tak sedikitpun. Memikirkannya saja sudah
membuat Sehun mual.
Tapi
percayakah kalian jika Sehun ternyata sangat suka mengganggu seorang yeoja yang
sangat unik menurut Sehun? Harus percaya. Itulah pekerjaan sehari hari Sehun.
Mengganggu yeoja unik itu.
-Naman Sarangbwajo-
Jaejin
melangkahkan kakinya menuju ruangan favoritnya di Universitasnya. Perpustakaan.
Dengan menenteng tas ransel berwarna coklatnya itu ia memasuki ruangan yang
penuh dengan rak buku dan tersusun rapi berisi buku buku tebal.
“sastra sastra sastra..” ucapnya berulang kali
sambil menunjuk satu persatu rak di hadapannya
Actually,
Jaejin sudah sangat hapal di mana rak buku kesayangannya berada. Tapi Jaejin
suka bermain main terlebih dahulu sebelum dia membaca buku.
“gotcha! I found you!” lirih Jaejin girang
sambil mengambil satu buku tebal bersampul merah tua
Jaejin
duduk di tempat kesukaannya. Pojok Perpusatakaan. Hanya beralas lantai keramik
yang dingin.
Setelah
1 jam ia duduk manis disana dengan otak terus mencerna satu persatu kalimat di
buku itu, Jaejin berdiri. Meregangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
“uahh, pikiranku benar benar ruwet kali ini..”
gumam Jaejin sembari berjinjit mengembalikan buku di rak semula
“aah, selesai.. aku akan kembali membacamu besok
siang! Bye!” kata Jaejin sambil berjalan keluar dari perpusatakaan
Namun
langkah Jaejin terhenti seketika, saat ia melihat seorang lelaki sedang
mengembalikan buku ke rak. Tidak ada yang aneh sekilas. Tapi jika di perhatikan
dengan cermat. Kenapa namja itu mengembalikan buku Fisika di rak Kimia?
“hei namja! Kau bersekolah lebih dari 12 tahun
bukan?” tanya Jaejin sambil menepuk pundak namja itu
“wae?” tanyanya singkat sambil menatap mata
Jaejin
“bagaimana bisa kau tidak dapat membedakan
dimana letak rak buku Kimia dan Fisika?” tanya Jaejin dengan nada sarkartis
“kenapa memang? Toh petugas perpusatakaan akan
memindahakannya sendiri, dan Fisika maupun Kimia menurutku sama saja! Sama sama
ilmu Sains! Dan sama sama membuat otakku sakit untuk memikirkannya!” kata namja
itu sambil menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuknya dan memutar mutarkan
jarinya
“geure? Kalau begitu agar kau tidak semakin
pusing, sebaiknya kau harus mulai belajar untuk membedakan mana rak Kimia dan
mana rak Fisika! Lakukan itu sekarang!” perintah Jaejin
“kau benar benar cerewet! Ahh matta! Kau si
gadis penunggu perpustakaan yang selalu memakai chikara berkuping kucing, tentu
saja kau tidak sukakan jika aku merusak sedikit tatanan di ruangan favoritmu
ini?” tanya namja itu mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejin
“yak! Menjauhlah dariku namja aneh!!” kata
Jaejin sambil mendorong keras tubuh namja tinggi itu
“hei! Kau melukaiku!” kata namja itu tak terima
“neo muobahajimaa!! Cepat kembalikan buku Fisika
di raknya!!” kata Jaejin dengan nada sedikit keras
“arraseo arraseo! Neo jinjja! Ishh..” namja itu
mendesis kesal dan pergi dari hadapan Jaejin
“babbo namja..” Jaejin pun membenarkan topi
chikaranya dan melangkah pergi setelah memastikan namja itu benar benar
mengembalikan buku Fisika di raknya
-Naman Sarangbwajo-
Jaejin
duduk manis di kursi halte sambil bibir dan lidahnya sibuk dengan es krim rasa
coklat kesukaannya itu. Angin dingin mulai terasa menusuk kulit, menembus jaket
Yonsei tebal milik Jaejin. Suara gemuruh air hujan juga mulai terdengar
mendekat.
“Pi(hujan)? Assh jinjja!!” desis Jaejin kesal
Gadis
berkepribadian 4 dimensi ini memang sangat tidak menyukai hujan. Entah kenapa.
“butuh tumpangan?” sebuah mobil berhenti tepat
di hadapan Jaejin
Jaejin
hanya menatap namja di dalam mobil itu dengan tatapan horror.
“kau tahu, sepertinya hari ini akan hujan deras!
Dan aku tidak yakin kau bisa menunggu bus datang sampai 1 jam mendatang..” kata
namja itu
Jaejin
masih menatap namja itu.
“tidak usah malu malu! Naiklah! Aku tahu kau
sangat membenci hujan!!” kata namja itu
“yak namja! Aku hanya sedikit kurang menyukai
hujan! Jadi pergilah, aku baik baik saja jika kau mengkhawatirkan aku!” kata
Jaejin
“bukankah itu sama saja? Aku fikir kau tidak
akan mengikuti ujian besok jika kau demam!” kata namja itu
“sebaiknya aku kehujanan dan demam daripada aku
harus bersamamu!” kata Jaejin
“ahh aku tahu! Kau pasti menolakku karena kau
takut aku membawamu pergi dan melakukan hal yang ‘iya iya’ kan?” tanya namja
itu
“geure? hei namja pervert! Aku benar benar bosan
melihat wajahmu! Melihat tingkahmu terutama! Jadi pergilah sebelum aku akan
melemparkan sesuatu ke dalam mobil mahalmu!” ancam Jaejin
Namja
itu hanya tersenyum kecil
“kau mengancamku nona Jung?” tanya namja itu
“anggap saja seperti itu, Oh Sehun! pergilah!!”
kata Jaejin akhirnya
Namja
itu tersenyum lebar kali ini. Namja itu adalah Oh Sehun. Reinkarnasi jin ifrit
yang selalu mengganggu kehidupan tentram Jaejin. Pikir gadis itu dangkal.
“akhirnya kau memanggilku dengan namaku, sungguh
terima kasih banyak atas panggilannya!” kata Sehun
“kalau begitu segeralah pergi! Sebelum aku
berubah pikiran untuk tidak pernah memanggilmu dengan namamu lagi!!” kata
Jaejin
“arraseo arraseo!! Kau yakin tidak ikut denganku?”
tanya Sehun memastikan
“tidak terima kasih..” tolak Jaejin halus
“kalau begitu aku duluan! Bye wanita aneh!”
sambung Sehun dan melesat bersama mobil sport merahnya
Jaejin
menghela nafasnya kasar. Kapan ia akan terbebas dari penderitaan ini. Selalu di
ganggu oleh namja aneh macam Sehun. Memang, orang lain akan berpikir jika
Jaejin sangatlah beruntung. Karena dialah satu satunya yeoja yang Sehun dekati.
Kemanapun Jaejin, jika ada masalah di kehidupan Jaejin maka Sehun yang
memulainya.
“andaikan aku tidak mengenal namja aneh itu,
maka aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini!” gumam Jaejin
Akhirnya
bus datang. Dengan segera Jaejin memasuki bus langganannya itu. Di perjalanan
rupanya hujan turun dengan derasnya.
“ssipal(sialan)! aku tidak akan memaafkan
siapapun yang telah melakukan tarian bodoh pemanggil hujan seperti ini! Aku
besumpah atas nama Richard!!” umpat Jaejin
-Richard disini adalah seekor semut merah
peliharaan Jaejin. Betapa bodohnya gadis ini. Memelihara seekor semut dalam
akuarium kaca. BODOH-
“ssipal ssipal! Jika saja tadi bukan Sehun yang
menawariku untuk pulang bersama! Aku yakin aku sudah duduk manis memakan coklat
bersama Richard dan Rubby!!” gumam Jaejin pelan membayangkan hal tadi
-Oke, siapa Ruby? Ruby yang berarti batu permata
adalah nama myeolchi (sejenis ikan teri) yang juga di pelihara oleh Jaejin di
dalam akuarium kaca yang berbeda dengan Richard. Bedanya dalam akuarium Richard
berisi pasir. Sedangkan akuarium Ruby berisi air. Sepertinya Gadis ini perlu di
periksakan ke dokter-
“hei, ruby tidak makan coklat..” pekik Jaejin
seketika
Berargumentasi
dengan dirinya sendiri membuat Jaejin tak sadar bahwa ia sudah sampai
tujuannya. Rumah kecil bernuansa rumah tradisional Korea. Rumahnya.
“aku pulang!!” teriak Jaejin sambil masuk ke
dalam rumahnya
Jantungnya
nyaris saja copot ketika melihat seorang lelaki berada di hadapannya.
“yak! Kau Kim Jongin! Bagaimana bisa kau masuk
ke dalam rumahku?” tanya Jaejin
“tadi ahjumma menyuruhku kesini, menemanimu.. ahjuma
dan ahjushi pergi ke Jepang!!” kata Jongin, sepupu jauh Jaejin
“ahh sudah berangkat rupanya..” dengan cueknya
Jaejin pun meninggalkan Jongin dan masuk ke kamarnya
“yak Jung Jaejin! pengertianlah padaku! Aku
tidak bisa memasak dan kau satu satunya harapanku agar aku bisa makan!” kata Jongin
“telfon dan pesanlah 2 porsi ayam goreng!!”
teriak Jaejin dari kamarnya
“oh Jaejin! sungguh beruntung aku memiliki
sepupu sebaik dirimu! Aku mencintaimu yeobbo!” balas Jongin berteriak
Jaejin
mendengar teriakan balasan dari Jongin merinding seketika. Yeobo?. Apakah Jongin tidak memiliki kata lain yang difikirkan
untuk memanggil Jaejin? Benar benar menyedihkan memiliki sepupu berotak dangkal
seperti Jongin. Pikir Jaejin.
-
Mentari
menggantikan Bulan. Kicauan burung kecil mulai bersahutan di ranting ranting
pohon. Cahaya silau matahari juga memaksa masuk ke dalam sela sela jendela.
“aarh! Aku benar benar mengantuk!!” Sehun
mengusap wajahnya ketika ia sudah duduk di ranjangnya
Ia
melirik ke arah jam dinding digitalnya. 06:23 AM.
“OUHH! NAN IJE CHUGOTAA(matilah aku)!!” pekik
Sehun menyadari dirinya bangun kesiangan
Tidak
ada waktu 5 menit Sehun sudah menyelasikan aktivitas mandinya. Setelah
berpakaian dan sedikit menyisir rambutnya. Sehun langsung mengambil ranselnya
untuk segera pergi ke Sekolahnya.
“ahh aku benar benar akan mati! Ini jam dosen
Cho!!” kata Sehun di dalam mobilnya
Mengingat
bagaimana cara dosen Cho memperlakukan muridnya benar benar membuat Sehun sakit
kepala. Keras. Pastinya Sehun akan mendapat hadiah terindah pagi ini dari dosen
yang mengajar mata pelajaran Fisika itu.
“mati aku! Mati aku!!” namja berpostur tubuh
tinggi itu terus merutuki dirinya sendiri sambil berlari ke kelasnya yang
terletak di lantai 3
Dan
benar saja. Dosen Cho sudah menghadang Sehun di depan pintu. Sehun menggigit
bibir bawahnya. Takut.
“Oh Sehun! Kemana saja kau?” tanya dosen Cho
dengan nada bicaranya
yang terkesan menakutkan
“saya terlambat seongsaenim, saya bangun
kesiangan.” Jawab Sehun
“aku bertanya kau kemana? Bukannya kau kenapa..”
kata dosen Cho acuh
Di
dalam kelasnya. Seluruh teman sekelas Sehun sedang menahan tawa mereka. Betapa
lucunya nanti jika mereka melihat Sehun sang penindas dan penguasa harus
berjemur di tengah tengah lapangan olah raga.
Dosen
Cho masuk ke kelas tanpa Sehun. Dan kemanakah Sehun? Tentu saja tebakan teman
sekelasnya benar. Sehun harus berdiri diam di tengah lapangan sampai jam dosen
Cho selesai. 3 jam mendatang.
“ssipal! Akan kubunuh siapapun yang
menyumpahiku!!” batin Sehun
Samar
samar ketika Sehun sudah 1 jam berdiri ia melihat seorang yeoja berdiri di
sampingnya.
“kenapa kau disini?” tanya Sehun melirik pada
yeoja di sampingnya
“kau terlihat menyedihkan berdiri sendiri
disini, jadi aku ingin menemanimu..” kata yeoja itu
Sehun
tersenyum kecil.
“gomawo..” kata Sehun
Yeoja
itu masih tak mengalihkan pandangannya pada Sehun. Masih menatap lurus lapangan
olah raga yang hijau itu.
“tapi bagaimana bisa kau disini? Kau tidak akan
membolos jam bahasa untuk menemaniku kan?” tanya Sehun penasaran
Gadis
itu membenarkan letak topi chikaranya.
“ya! Aku berbohong pada dosen bahasaku bahwa aku
tidak mengerjakan tugas! Dan aku memohon pada dosen Moon untuk membiarkanku
mendapat hukuman!” kata yeoja itu
“waeyo?” tanya Sehun
“karena aku ingin berterima kasih padamu..”
jawab jaejin
“berterima kasih? Memang aku melakukan apa?”
tanya Sehun
“karena kemarin kau menawari aku untuk pulang
bersamamu..” jawab Jaejin
“tapi, kau tidak pulang bersamaku..” kata Sehun
“kau tahu apa gunanya itu untuk berbaik hati? Kau
selalu menggangguku dan kau berbaik hati padaku kemarin. Itu mengejutkan, jadi
aku sangat berterima kasih. Walau caramu menawariku pulang memang sedikit menggangguku!”
kata yeoja
“Jung Jaejin! kau benar benar aneh!!” kata Sehun
Yeoja
yang ternyata Jung Jaejin itu hanya tersenyum sekilas. 3 jam berakhir.
Syukurlah, Sehun dan Jaejin melewatinya begitu lancar.
“kau haus? Mau ku belikan minuman?” tanya Sehun
“tidak usah, aku harus kembali ke kelas! Aku
lupa untuk memberikan file pada temanku! Kapan kapan saja!!” kata Jaejin
“bagaimana jika nanti malam?” tanya Sehun
“tidak! Aku tidak akan keluar malam selain
bersama Jongin!” kata Jaejin
“Jongin? Siapa dia?” tanya Sehun
“sepupuku..” jawab Jaejin lalu pergi
“syukurlah jika Jongin hanya sepupumu..” kata
Sehun lalu pergi ke kantin
-Naman Sarangbwajo-
Jaejin
berlari kecil menuju mini market. Ia mulai berjalan mengelilingi mini market
itu.
“gula, roti, ice cream! Okay! Finish!!”
Setelah
menyelasikan acara belanjanya itu Jaejin pergi ke café tak jauh dari mini
market itu. Jaejin keluar dengan membawa 1 gelas kopi hangat.
“JONGIN! Ini kopimu!!” teriak Jaejin ketika ia
menapakan kakinya di lantai kayu rumahnya
“gomawo nae yeobbo!!” kata Jongin menerima
kopinya
“sialan kau Jongin! Jangan memanggilku dengan
sebutan itu lagi atau aku akan menyobek bibirmu!!” ancam Jaejin
“baiklah, tadi kau beli apa saja?” tanya Jongin
Jongin
memang tahu seperti apa sepupunya itu marah. Tidak punya adab. Menyumpah
sembarangan. Mengumpat seenaknya.
“gula untuk Richard, roti untuk ruby, dan ice
cream untukku!” jawab Jaejin
“kau benar benar gila jika kau masih memelihara
2 hewan itu!!” kata Jongin
Jaejin
hanya menatap sepupunya itu sekilas.
“biar saja..” kata Jaejin lalu masuk ke kamarnya
Malam
tiba. Tiba-tiba
“jaejin, ada yang mencarimu!” teriak Jongin dari
luar kamar Jaejin
“nugu?” tanya Jaejin
“entahlah, dia bilang dia teman kencanmu!” kata
Jongin
Jaejin
membuka pintu kamarnya dan menatap Jongin.
“aku tidak pernah punya teman kencan, dan jangan
bilang dia adalah Do Kyungsoo!” kata Jaejin
“tentu saja bukan! Kyungsoo bukan termasuk
lelaki nekat untuk menemui gadis manisnya semalam ini dan mengajaknya kencan!”
kata Jongin
“berhenti bicara omong kosong! Lalu siapa dia? Namja
atau yeoja?” tanya Jaejin
“sebaiknya kau temui saja dirinya di bawah, kau
tahu! Dia tampan walau tak setampan aku!” kata Jongin
Mendengar
kata tampan tentu saja yang menemuinya kali ini pasti seorang Namja. Tapi siapa
yang menemui Jaejin malam malam begini.
“Oh sehun, apa yang kau lakukan disini?” tanya
Jaejin kaget
Namja
tinggi menjulang bak tiang listrik itu berdiri dan membungkuk hormat pada
Jaejin. Aneh memang.
“aku ingin mengajakmu makan malam!” kata Sehun
“untuk apa?” tanya Jaejin
“aku sangat berterima kasih kau mau menemaniku
berdiri di lapangan tadi meski banyak orang yang mencacimu!” kata Sehun
“aku sudah melupakannya, sebaiknya kau pulang!”
kata Jaejin
“jebal-yo..” pinta Sehun
“sireo! Aku harus belajar karena minggu depan
aku ada ujian!” kata Jaejin
“ujiannya kan minggu depan, kenapa harus belajar
sekarang! Kan bisa nanti!” kata Sehun
“kita perlu mempersiapkannya dari awal Oh
Sehun!! Aku ingin mendapat nilai sempurna! Camkan itu! Aku ingin semester ini
aku lulus sebagai peringkat pertama!” kata Jaejin
“kau terlalu mementingkan hal hal seperti itu! Aku
ingin mengajakmu pergi untuk bersenang senang sebentar!!” kata Sehun
“bilang saja kau ingin mengajakku kencan? Iya
kan?” tanya Jaejin
Skak
mat. Wajah Sehun merona seketika. Jaejin hanya tersenyum menyeringai.
“jebal jebal, hanya sebentar.. sebentar saja..”
pinta Sehun
“sireo!!” Jaejin masih bersikeras
“sekali saja!”
“tidak!”
“kumohon, sekali ini saja.. kumohon..”
“baiklah, 40 menit..”
“60..”
“30..”
“90..”
“10.”
“baiklah, 40 menit!!” kata Sehun mengalah
“aku akan mengambil jaket! Tunggulah!” kata
Jaejin lalu masuk ke kamarnya lagi
Tak
berapa lama kemudian Jaejin datang bersama jaket yonsei yang kebesaran untuk
tubuh kecilnya.
-Naman Sarangbwajo-
Jaejin
duduk di bangku taman sendiri. Dan tak berapa lama kemudian Sehun datang
membawa 2 cangkir plastic kopi hangat.
“ini untukmu..” kata Sehun sambil menyerahkan
segelas kopi
“ige mwonde?” tanya Jaejin
“kopi..” jawab Sehun
“aku tidak minum kopi..” kata Jaejin
“mwo? Tapi waktu itu aku melihatmu kembali dari café
dengan membawa kopi? Kukira kau suka kopi..” kata Sehun
“kopi tidak baik untuk kesehatanku! Waktu itu
aku membelikan untuk Jongin..” kata Jaejin
Sehun
hanya terdiam.
“aku mau es krim..” kata Jaejin
“nae?” tanya Sehun
“AKU. MAU. ES. KRIM.” Kata Jaejin penuh
penekanan
“tapi, ini malam hari.. tidak mungkin kau makan
es krim di malam sedingin ini! Apalagi di musim dingin! Kau akan sakit!” kata
Sehun
“ania, aku sudah biasa makan es krim di malam
malam begini.. bahkan lebih malam nanti..” kata Jaejin
“tapi kau bisa saja flu! Bagaimana jika di ujian
nanti kau sakit flu dan tidak bisa mengerjakan soal dengan baik! Kau bilang kau
mau lulus dengan nilai sempurna dan menjadi peringkat!” kata Sehun
“lalu apa hubungannya dengan es krim?!” tanya
Jaejin
“itu bisa membuatmu sakit flu! Dan itu akan
mempersulit dirimu saat mengerjakan soal!” kata Sehun
“aku mau es krim..” Jaejin bersikeras
“tidak! Aku tidak akan membelikannya!” kata
Sehun
“kalau begitu aku beli sendiri! Tapi aku tidak
akan kembali!” kata Jaejin
“aah!! Arraseo arraseo aku belikan! Kau tetap
disini!” kata Sehun mengalah lalu pergi membeli es krim
“rasa coklat!!” teriak Jaejin dan di balas
dengan lambaian tangan Sehun
Jaejin
hanya tersenyum kecil membayangkan bagaimana nanti dia makan es krim rasa
coklat itu.
“ini.” Kata Sehun sambil menyerahkan es krim
rasa coklat pada Jaejin
“gomawo..” kata Jaejin lalu sibuk memakan es
krimnya
Sehun
mengamati cara Jaejin menghabiskan es krimnya. Sangat lucu. Apalagi coklat yang
belepotan kemana-mana.
“kau makan sangat lucu..” kata Sehun
Entah
darimana asalnya, Sehun mengusap bibir Jaejin dengan tissue yang ia genggam
sedari tadi. Jaejin hanya terdiam. Kedua jantung insane itu berdetak kencang
bersama.
“mi.. mianhae..” kata Sehun
Suasana
canggung menghampiri keduanya. Menelusup di antara keheningan malam di Seoul.
“10 menit lagi..” kata Jaejin
“nae?” tanya Sehun
“kita sudah 30 menit disini.. waktumu hanya 40
menit..” kata Jaejin
“ahh..” Sehun hanya mengangguk
“sebaiknya kau segera membicarakan apa yang
ingin kau bicarakan! Sebelum aku tidak mau pegi lagi!” kata Jaejin
“nae..” kata Sehun
Waktu
berjalan lagi. Sehun terlihat sangat frustasi dengan apa yang ingin ia
bicarakan.
“5 menit..” kata Jaejin
“Jaejin-sii..” panggil Sehun
“hm?” tanya Jaejin hanya dengan deheman
“argh! Bagaimana aku mengatakannya!!” kata Sehun
“katakan saja apa yang ingin kau katakan!” kata
Jaejin cuek
“aku mendapat taruhan oleh teman temanku!” kata
Sehun akhrinya
“taruhan apa?” tanya Jaejin
“jika aku dapat mengencanimu selama 2 minggu dan
membawamu di pesta ulang tahun Luhan sebagai pasangan maka aku akan mendapatkan
hadiah dari mereka..” kata Sehun
“oh, jadi aku adalah taruhan, eoh?” tanya Jaejin
“bukan begitu.. tapi..” perkataan Sehun
menggantung
“baiklah! Aku akan menjadi teman kencanmu!” kata
Jaejin
“nae? jinjja?” tanya Sehun
“ya saat ulang tahun Luhan nanti.. dan untuk 2
minggu kedepan! Kau jangan ganggu aku!!” kata Jaejin
“tapi? Ba.. bagaimana bisa?” tanya Sehun
“kau jangan temui aku! Jika kita bertemu di
jalan, yah saling sapa saja!” kata Jaejin
“aku tidak..” perkataan Sehun terpotong lagi
“waktumu habis! Aku ingin pulang!!” kata Jaejin
membenarkan chikaranya dan pergi dari Sehun
Sehun
hanya memandang punggung Jaejin yang semakin menjauh. Sumpah demi seluruh
boneka milik Kris, Sehun terlalu mengagumi Jaejin. Kenapa yeoja itu terlalu
polos. Bodoh? Pikir Sehun.
Kenapa
yeoja itu selalu membantu Sehun? Padahal Sehun selalu mengusik kehidupan
tentramnya.
-Naman Sarangbwajo-
Sehun
sedang bersama keempat sahabatnya duduk di kantin. Chanyeol, Kris, Luhan, dan
Tao.
“bagaimana Hun? Kau yakin akan mendekati Jaejin?”
tanya Kris
“aku yakin..” jawab Sehun
“wah, kau sangat berani,eoh? Setahuku Jaejin
bukan wanita biasa..” kata Tao
“memang..” kata Sehun
“lalu bagaimana?” tanya Luhan
“kemari..” sehun mengisyaratkan pada keempat
temannya untuk mendekat ke arahnya
4
lelaki tampan itupun mendekatkan wajah mereka pada Sehun. Berusaha mendengar
suara Sehun baik baik.
“aku sudah mengencaninya..” bisik Sehun
Seketika
orange jus yang diminum Chanyeol tersembur keluar dan biscuit yang baru saja
sampai di tenggorokan Luhan juga langsung nyantol disana dan tentu saja si rusa
itu langsung terbatuk batuk. Sedangkan Tao dan Kris, hanya memandang Sehun
dengan tatapan kagum. WOW.
“keotjimal!” kata Chanyeol
“jinjja-oo..” kata Sehun PD
“kalau memang benar, aku mau bukti..” kata Kris
“aku akan membawanya di pesta ultah Luhan
nanti..” kata Sehun
“aku masih tidak percaya.. bagaimana jika kau
memberi kami foto selcamu dengannya?!” kata Tao
Nasib
berbalik pada Sehun. Buble tea yang baru masuk di mulutnya langsung tersembur
keluar.
“haha, kau bohong kan?” tanya Tao
“a.. aniaa!!” kata Sehun
“mulai bohong-mulai bohong-mulai bohong..” tiba
tiba Chanyeol, Kris, dan Luhan membuat formasi -mulai bohong ala iklan sna*ker-
“aku tidak bohong! Aku sungguh sungguh!” kata
Sehun
“kalau begitu bawakan foto selcamu dengannya! No
edit!” kata Tao sambil terkekeh evil
Dalam
hati Sehun benar benar tidak baik. Bagaimana caranya meyakinkan keempat
temannya yang idiot itu. Pikir Sehun.
-Naman Sarangbwajo-
“Jaejin!” panggil Sehun ketika Jaejin baru saja
keluar dari perpustakaan
“apa?” tanya Jaejin sambil berbalik
Sehun
berlari kecil mendekati Jaejin.
“mau ku antar?” tanya Sehun
“tidak usah! Bukankah aku sudah bilang untuk kau
tidak menggangguku selama 2 minggu?” tanya Jaejin
“anu.. ahh.. eotteokhe.. aku..” Sehun terus
terbata bata
Tidak
enak baginya untuk mengatakan apa tantangan baru dari empat temannya itu.
“apa?” tanya Jaejin
“temanku, meminta,.. selcaku..” kata Sehun
“mwo? Lalu kenapa bilang padaku? Tinggal kau
berikan saja kan..” kata Jaejin
“tapi denganmu..” kata Sehun
“maksudmu selcamu denganku?” tanya Jaejin
Sehun
mengangguk. Ia menunduk tak berani menatap Jaejin.
“hah, aku tidak bisa.. bagaimanapun juga aku
sangat benci hal seperti itu. Kamera. Selca. Aegyo. Ah!! Lupakan! Aku benci
itu!” kata Jaejin lalu pergi
“jaejin! jaejin!!” panggil Sehun berkali kali
namun Jaejin tak bergeming
“ssipal! Terkutuklah kalian orang orang psikopat!”
kata Sehun
-Naman Sarangbwajo-
Jaejin
terlihat sedang menepuk nepuk akuarium milik Richard. Entah apa yang ia
fikirkan. Matanya terlihat begitu kosong.
“Richard-sii..” panggil Jaejin
Tentu
saja semut merah itu tidak akan menyahut. Jika iya, maka author akan segera berhenti
membuat FF.
“kau tahu! Aku sebal dengan Sehun dan
teman-temannya! Harga diriku jatuh begitu saja ketika aku menjadi taruhan
mereka! Tapi mau apa, aku hanya ingin tahu bagaimana hatiku, setiap bersamanya
jantungku selalu berdetak kencnag, dug dug dug, seperti itu! Apa perasaan itu?
dan aku harus bagaimana?” tanya Jaejin
Air
mata menggenangi puppy eyes Jaejin. bibir mungilnya mulai bergetar. Wajahnya
memerah seketika.
“aku takut harga diriku semakin jatuh di mata
Sehun!” Bisik Jaejin
“JAEJIN!! DAPAT SALAM DARI KYUNGSOO!!” teriak
Jongin
Ingin
sekali dia mengusir Jongin dari rumahnya. Selama ibunya pergi untuk 1 bulan
mendatang. Selama 1 bulan itu Jongin ada di rumah Jaejin.
Telinganya
selalu sakit ketika mendengar Jongin terus menceritakan tentang temannya, Do
Kyungsoo. Entah kenapa, Jongin sangat terobsesi untuk mendekatkan Kyungsoo dan
Jaejin. Padahal di antara 2 orang itu tidak saling mengenal.
“bodoh. Dasar Jongin bodoh.” Umpat Jaejin
“HEI JAEJIN! SALAM BALIK TIDAK?” tanya Jongin
“aku sudah tidur! Jadi jangan ganggu aku!” kata
Jaejin
“ah kau menyebalkan!” teriak Jongin
Jaejin
kembali menenggelamkan wajahnya pada kamus bahasa yang tebalnya sekitar 10 cm
itu.
“aku. Ingin. Mati. Sekarang. Juga.” Kata Jaejin
terputus putus
Di
setiap kata dia mengetukan kepalanya di kamus dan di ulang beberapa kali.
Kenapa yeoja ini tak segera mendapatkan perawatan intensif?
-Naman Sarangbwajo-
Sehun
terus memandangi langit langit kamarnya. Kedua tangannya menopang belakang
kepalanya. Sambil tiduran di ranjang empuknya.
“bagaimana caraku agar empat psikopat itu
percaya?” gumam Sehun
Sehun
mengacak-acak rambutnya frustasi.
“mereka akan tahu semuanya..” sambung Sehun
“grrhh!! Aku benci seperti ini!!” erang Sehun
Tiba-tiba
ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
-
From : Tao
To : Me
Kau harus sudah menyimpan foto selcamu dengan hantu penunggu perpustakaan
itu, bukan?
-
Nafas
Sehun tercekat. Bagaikan Tao ada di hadapannya dan sedang mencekik lehernya
dengan sangat kuat.
“Tao tidak akan melupakan ini..” kata Sehun
Dia
mengusap usap wajahnya kasar. Ponsel Sehun berdering lagi.
2 pesan masuk kali ini.
-
From : Tao
To : Me
Hei idiot! Jangan lupakan janjimu! Aku besok harus melihat selcamu dengan
si hantu perpustakaan itu! Jika tidak maka kau berbohong! Dan kau harus
membayar kekalahanmu..
-
From : Chanyeol
To : Me
Mendengarmu sudah berkencan dengan Jaejin sepertinya sangat menarik. Aku juga
ingin berkencan dengannya setelah kau menyelesaikan taruhannya.
-
Terkutuklah
kau Park Chanyeol! Sehun benar benar marah kali ini. Entah kenapa hatinya
seperti tertusuk beribu jarum setelah membaca pesan dari Chanyeol.
Jaejin
bukan benda yang seenaknya dimainkan. Setelah Sehun lalu Chanyeol. Lalu siapa
lagi? Apa karena saking polosnya sikap Jaejin membuat ia terlihat sangat
murahan? Bulshit. Sehun terus mengumpat.
-Naman Sarangbwajo-
Sehun
sudah di tarik tarik Kris untuk ke kantin. Namun Sehun berusaha menolak. Dia
bilang dia sudah kenyang. Padahal sebenarnya dia takut bertemu Tao.
Sialnya,
malah Tao yang datang ke kelasnya bersama Luhan dan Chanyeol.
“hei Sehun! Mana selcamu?” tanya Tao
Matilah
kau Oh Sehun!
“aku.. itu.” Sehun terbata bata
Tao
langsung merebut ponsel Sehun
“andwee!!” kata Sehun mencegah
Namun
Tao sudah tak sabar membuka galeri foto Sehun. Dan melihat seperti apa selcanya
bersama Jaejin.
“mwo, mana selcamu?” tanya Tao
“itu.. anu..” wajah Sehun memucat
“kau bohong?” tanya Chanyeol
“a.. ani..” kata Sehun
“kau bohong! Tidak ada bukti yang kuat! Kau
harus membayar kekalahanmu!” kata Tao
“sehunnie!” panggil seorang yeoja berchikara
dari balik gerombolan orang itu
Mereka
berlima menoleh. Dan seketika mata mereka ingin keluar dari tempatnya.
“ah sepertinya aku mengganggu kalian...” kata
Yeoja itu, Jung Jaejin
“a.. aniaa..” kata Sehun
Jaejin
mengeluarkan eye smile terbaiknya. Tangan dari balik punggungnya menyodor di
hadapan Sehun.
“aku membuatkan sehunnie bekal pagi ini, aku
harap sehunnie suka..” kata Jaejin
Wajah
Sehun memerah. Terutama saat Jaejin memanggilnya dengan sebutan ‘SEHUNIE’.
Sehun bisa saja terbang menjauhi keempat temannya.
Sehun
menerima kotak bekal itu.
“ah gomawo..” kata Sehun
“kau tidak ada panggilan sayang?” bisik Luhan
Sehun
menatap Luhan dengan deathglarenya
dan membuat Luhan terdiam kaku.
“sehunnie, besok temani aku ke toko buku, ya?”
tanya Jaejin
“nae.. jaejinnie..” kata Sehun mengangguk ragu
Jaejin
tersenyum dan menampakan eyesmile
nya lagi.
“kalau begitu aku ke kelas dulu nae! sampai
jumpa sehunnie!” Jaejin melambaikan tangannya pada Sehun dan pergi
Semua
teman Sehun menatap Sehun kaget.
“kau. Benar. Berkencan. Dengan. Wanita. Itu.?” Tanya
Tao terputus putus
Sehun
mengangguk malu.
“DAEBAK!!” kata ketiga teman lainnya sambil
mengacungkan 2 jempol tangan mereka
Sehun
menyeringai kecil. Dalam hatinya ia berteriak girang mengingat Jaejin
memanggilnya dengan sebutan ‘Sehunnie’.
-Naman Sarangbwajo-
“JAEJIN!!” panggil Sehun
Jaejin
menoleh
“gomawo kau sudah sangat membantuku tadi..” kata
Sehun
“gwenchana..” kata Jaejin
“e, apa kau mau ku traktir es krim?” tanya Sehun
Mendengar
kata es krim. Wajah Jaejin merekah, sedetik kemudian dia mengangguk cepat tanpa
ragu.
“kalau begitu gajja..” kata Sehun
Mereka
berdua menikmati es krim di kedai es krim langganan Jaejin. semangkuk besar
penuh es krim coklat kini sudah di hadapan Jaejin. Matanya begitu terlihat
bahagia.
“makanlah yang banyak..” kata Sehun
Jaejin
tak menggubris kata kata Sehun dan mulai memakan es krimnya. Sehun hanya
meminum bubble teanya.
“apa setelah taruhanku selesai, kau akan
berkencan dengan orang lain?” tanya Sehun
“tidak. Aku tidak pernah mau berkencan.” Kata
Jaejin
“tapi sekarang kau sedang berkencan denganku..”
kata Sehun
“aku tidak pernah mengatakan kalau ini kencan. Aku
hanya taruhan.” Kata Jaejin dan tepat mengenai sasaran
Hati
sehun tertusuk. Mendengar kata ‘taruhan’.
“Jaejin, aku tidak bermaksud untuk..” perkataan
Sehun terpotong
“harga diriku jatuh!” kata Jaejin masih sibuk
dengan es krimnya
“Jaejin..” panggil Sehun
“aku seperti wanita murahan, bukan?” tanya
Jaejin
“Jaejin aku tidak menganggapmu seperti itu..”
kata Sehun
“aku sudah terlalu dalam mengubur harga diriku. Wanita
sastra yang selalu berdiam di perpustakaan! Yang selalu marah ketika seseorang
salah menggunakan bahasa! Dan tidak punya harga diri! Aku murahan!” kata Jaejin
“Jaejin berhentilah mengatakan hal itu..” kata
Sehun
“tapi semua yang kulakukan ini memang sedikit
berguna untukku..” kata Jaejin menatap Sehun
“maksudmu?” tanya Sehun
Jaejin
hanya tersenyum kecil, mengusap bibirnya dengan tissue.
“terima kasih atas semuanya, kuharap kau masih
ingin mentraktirku es krim! Bye!” Jaejin pergi begitu saja
Mulut
Sehun ternganga lebar. Apa ada yang salah dengan otak gadis itu? Sepertinya
lama lama membaca buku tebal tebal memang membuat otaknya kacau.
-Naman Sarangbwajo-
2
minggu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari ulang tahun Luhan. Malam di
awal musim semi.
Sehun
sudah menunggu Jaejin di depan rumahnya. Dengan dress putih selutut berenda.
Sehun
tersenyum kecil. Make up tak terlalu mendominasi wajah Jaejin. Masih terlihat
natural dan sangat cantik. Walau masih monoton. Karena chikara yang masih saja
menempel di kepalanya.
“gajja..” ajak Jaejin
“nae, gajja..” Sehun membukakan pintu mobilnya
untuk Jaejin
Setelah
itu, mobil Sehun melesat cepat menuju rumah mewah milik Luhan.
Baru
satu langkah mereka memasuki ruangan besar itu. Jaejin pergi berpamitan untuk
ke toilet sebentar. Sedangkan Sehun sudah berkumpul dengan empat temannya.
“dimana teman kencanmu, sehun?” tanya Tao
“sedang ke toilet..” jawab Sehun
“masih pakai chikara?” tanya Luhan sambil membentuk
kuping dengan jemarinya(gerakan wolf)
Sehun
mengangguk kecil.
Tiba
tiba suasana menjadi ribut. Sehun menoleh, mengikuti arah keributan. Ternyata
sumber keributan itu adalah seorang yeoja cantik yang berjalan ke arah Sehun.
Langkah
yeoja itu semakin dekat. Dan jantung Sehun semakin berdegup kencang. Bahkan
wine yang baru saja ia minum keluar begitu saja dari mulutnya. Semua pasang
mata menatap yeoja itu kagum. Atau. Heran.
“j.. jae.. jin?..” panggil Sehun terbata
Jaejin
datang menghampiri Sehun dan mengapit lengan Sehun manja.
“ke.. kemana chikaramu?” bisik Sehun
Ia
baru sadar bahwa teman kencannya itu tak lagi mengenakan chikaranya. Itulah
salah satu alasan kenapa dia menjadi pusat perhatian semua orang di pesta itu.
Sementara
keempat teman Sehun benar benar seperti baru saja di sengat listrik beraliran
tinggi.
“persetan kau Oh Sehun! Bagaimana caramu
mendapatkan hal seluar biasa ini?” lirih Chanyeol kesal
“ahh.. e! sebaiknya, bagaimana kalau kita mulai
acaranya!” kata Luhan memecah keheningan di ruangan yang luas dan mewah itu
Pesta
pun di mulai. Sangat meriah dan ramai. Mulai dari pemotongan kue dan bla bla
bla. Acara terakhir adalah pesta dansa. Dimana semua orang boleh berdansa
dengan pasangan mereka di aula itu.
Ketika
music sudah menyala, dan banyak pasangan yang turun ke dance floor. Jaejin hanya diam di sudut aula sambil memperhatikan
sekelilingnya .
Jujur
saja, ini pertama kalinya untuk Jaejin menghadiri acara seperti ini. Lalu,
dimana Sehun? Namja itu baru saja datang menghampiri Jaejin.
“kau mau?” tanya Sehun menyodorkan segelas wine
pada Jaejin
“ania, aku tidak minum wine..” kata Jaejin
Sehun
duduk di samping Jaejin.
“aku tidak tahu bahwa kau akan melakukan hal
seperti ini..” kata Sehun
“ini berguna..” kata Jaejin
“mwo?” Sehun menolehkan wajahnya pada Jaejin
“ania..” kata Jaejin sambil tersenyum sekilas
“em, kau mau.. berdansa?” tanya Sehun takut
takut
“mianhae, tapi aku tidak suka hal ini..” jawab
Jaejin
“sepertinya banyak hal yang kau benci? Hujan,
dansa, kopi, wine, kamera. dan..” perkataan Sehun menggantung
“kau..” sambung Jaejin
Sehun
menoleh lagi, kemudian mereka berdua tertawa lepas.
-Naman Sarangbwajo-
Angin
malam yang berhembus pelan itu menemani keheningan yang tercipta antara Sehun
dan Jaejin. Mereka berdua melangkahkan kaki di jalanan aspal, menuju rumah
Jaejin. Menuju rumah Jaejin memang tak jauh, tapi Jaejin mengajak Sehun untuk
berjalan jalan terlebih dahulu di taman dekat rumahnya.
“em Jaejin-sii..” panggil Sehun
“hm?” Jaejin hanya menyambutnya dengan deheman
“aku sangat berterima kasih padamu, kau mau
membantuku! Yah, aku kira akan sangat sulit melakukan ini sebelumnya..” kata
Sehun
“nae, gwenchana..” kata Jaejin
“ah, jaejin-sii, ngomong-ngomong aku benar benar
sangat berterima kasih padamu, entah kenapa kau begitu baik padaku..” kata
Sehun
“entahlah kenapa aku mau membantumu, padahal kau
terlalu sering mengganggu dan mengusik kehidupanku..” kata Jaejin
Sehun
menoleh
“setiap aku bersamamu, jantungku terus berdegup
begitu kencang dan wajahku terasa sangat panas. Entahlah kenapa, maka dari itu,
aku mencoba menerimamu sebagai teman kencan untuk mengetahui ada apa denganku
ini?!” kata Jaejin
Sehun
diam, Jaejin diam. Mereka saling kalut dengan pikiran masing-masing.
“Jaejin-sii..” panggil Sehun
“nae?” tanya Jaejin
“kau pernah jatuh cinta?” tanya Sehun
“jatuh cinta? Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa
itu..” kata Jaejin
“kau benar benar tidak pernah jatuh cinta?”
tanya Sehun
“sepertinya iya..” jawab Jaejin
“kau terlalu sibuk dengan buku buku tebalmu,
sampai kau melupakan hal yang perlu kau ketahui. CINTA.” Kata Sehun penuh
penekanan
“aku tidak terlalu memikirkannya..” kata Jaejin
“kau mempelajari sastra, kan? Harusnya kau tahu
apa arti cinta itu dengan lebih spesifik..” kata Sehun
“Cinta ya? Ahh entahlah aku tidak tahu apa itu
cinta dan jatuh cinta, lalu bagaimana denganmu?” tanya Jaejin balik
Sehun
tersenyum. Angin malam yang dingin masih setia menemani kedua orang yang sedang
menapaki jalan sempit beraspal itu.
“aku tahu apa itu cinta, dan aku pernah jatuh
cinta..” kata Sehun
“jinjja? Menurutmu apa itu cinta?” tanya Jaejin
“cinta ya? Saat jantung kita berdegup kencang
ketika melihat seseorang, saat wajah kita memerah dan panas saat bertemu dengan
orang itu, dan rasa sakit dan marah ketika mendengar orang itu jatuh cinta..”
kata Sehun
“sulit di mengerti. Lalu kapan kau jatuh cinta?”
tanya Jaejin
“sekarang.” Jawab Sehun tegas
Jaejin
menoleh, entah kenapa hatinya sedikit sesak. Wajahnya merah.
“kau kenapa?” tanya Sehun
“aniaa, gwenchana..” jawab Jaejin
“apa kau merasa hatimu sakit atau terasa sesak?”
tanya Sehun
Jaejin
memiringkan kepalanya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“ya, sedikit..” jawab Jaejin
Sehun
berhenti dan menahan tangan Jaejin. Ia membalikan tubuh Jaejin sehingga mereka
berdua saling berhadapan.
“se.. sehun?”
“kau merasa jantungmu berdetak sangat kencang
ketika melihatku?”
“ya..”
“kau merasa wajahmu panas ketika bersamaku?”
“ya..”
“kau merasa hatimu sesak ketika aku jatuh cinta?”
“..em.. ya..”
“apa kau mengerti apa itu cinta?”
“ani..”
“tapi kau sekarang sedang jatuh cinta..”
“mwo?”
“kau jatuh cinta, bukankah aku sudah mengatakan
bahwa jika seseorang jatuh cinta itu dia akan merasa jantungnya berdegup
kencang dan wajahnya panas ketika bersama orang lain, dan merasa hatinya sesak
ketika orang lain itu jatuh cinta..”
“aku.. aku jatuh cinta?.. maksudmu.. padamu?”
Sehun
tersenyum mendengar pertanyaan Jaejin yang terkesan polos dan . NAIF.
“kau masih belum bisa mendiskripsakannya, nona
Jung?” tanya Sehun
“belum..” Jaejin menggeleng
Sehun
meraih sesuatu dari balik jaket tebalnya. Sebuah topi chikara berbentuk panda.
Kemudian ia memakaikannya pada Jaejin.
“aku suka dirimu yang menggunakan chikara..”
kata Sehun
“wae?” tanya Jaejin
“karena aku hanya ingin kau menjadi milikku, dan
tidak boleh ada orang lain yang menyukaimu selain aku..” kata Sehun
“mwo?” tanya Jaejin kaget
Sehun
menyentuh kedua pipi Jaejin, mendekatkan wajahnya pada Jaejin.
5 cm..
4 cm..
3 cm..
2 cm..
Ketika
bibir Sehun nyaris menyentuh bibir Jaejin, Sehun membuka matanya. Melihat
Jaejin yang tengah terpejam takut. Sehun tersenyum kecil dan mengecup kening
Jaejin lembut. *kissnya ngga jadi
:D#ketawa jahat
“saranghae..” bisik Sehun
Jaejin
menatap mata Sehun tak percaya. Mencari kebohongan di mata coklat Sehun. Nihil.
“naman sarangbwajo! Hanaman saranghanika, Jung Jaejin,
saranghae..” ungkap Sehun akhirnya
“oh sehun?”
“kau berjanji hanya akan mencintaiku?”
“aku.. aku..”
“kau berjanji?”
“aku..”
“kau telah berjanji padaku untuk mencintaku
seorang saja, saranghae..”
“nado..”
Sehun
menarik tengkuk Jaejin dan mengecup bibir chery itu lama. Dan merengkuh tubuh
kecil Jaejin ke dalam pelukan hangatnya.
-Naman Sarangbwajo-
Jika semua orang menutup telinga dan matanya,
maka hanya akulah yang akan membuka telinga dan mataku untuk mendengar dan
melihatmu. Dan jika semua orang menutup hatinya, maka hanya akulah yang akan
membuka hatiku untuk membawamu bersamaku, untuk mencintimu sampai akhir nafas
ini. Dan cintailah aku seorang sebagai orang yang akan selalu mencintaimu
seorang pula.
-THE END-
Gimana endingnya? Gaje bukan? Aduuh author juga agak bingung mau di apakan
nanti endingnya waktu author bikin nih FF. Tapi makasih aja buat semuanya yang
udah baca FF gaje ini.
Silahkan di tunggu FF selanjutnya..
*soal poster, nei pinjem tubuhnya hyonnie, coz yang mirip ama gue :D #digaplok hyohunnies*
bye! SEE YOU NEXT FF!!
Salam kecup dari istrinya EXO’S panda
Taofu-tea <3
