Just little girl named Xiao Ai

Senin, 24 Maret 2014

FF Naman Sarangbwajo



Title : Naman Sarangbwajo
Author : Taofu-tea
Genre : romance gagal
Cast : Jung Jaejin, Oh Sehun, dan lain lain.

Kalau ngga kuat sama bahasa yang berbelit belit sebaiknya ngga usah baca ini FF. NO BASH! *COPAS WITH FULL CREDIT*

-




-Jung Jaejin-
          Tersebutlah di dalam fanfiction ini, seorang gadis bernama Jung Jaejin yang berwajah bulat dan bertubuh pendek kecil. Tapi hal itulah yang membuatnya terkesan seperti anak SMP, walau umurnya sudah menginjak kepala 2.
          Topi chikara dengan telinga kucing selalu menempel di rambut  lurus sebahunya yang berwarna hitam kecoklatan dan berponi pagar yang juga selalu di biarkan terurai. Mata besarnya begitu terlihat bersinar dan gemerlap di bawah cahaya. Pipi gempal kemerahannya dan juga bibir cherry itu pasti akan membuat siapapun yang bertemu dengannya merasa gemas.
          Dia sekarang bersekolah di Universitas Nasional Seoul dengan mengambil jurusan sastra bahasa. Cita-citanya sebagai sastrawan terkenal begitu memancing semangatnya untuk sering menundukan wajahnya berjam jam demi membaca satu persatu kata buku-buku tebal sastra di perpustakaan.
          Murid kesayangan seluruh guru bahasa ini tak terlalu mempedulikan ejekan teman-temannya. Kutu buku, Gadis sastra, Hantu Bahasa, dan sebagainya.
          Walaupun begitu dia sangat di sukai teman-temannya, selain ramah dia juga di kenal sebagai gadis periang dan selalu ceria di setiap langkahnya. Kadang, di mata teman temannya, Jaejin termasuk golongan orang cerewet, jika dirinya menemui seseorang yang salah menggunakan bahasa dengan tepat.
          Gadis keras kepala yang suka mempoutkan bibirnya itu sungguh menyukai es krim dan coklat. Jika di tanya hal apa yang kau suka selain sastra? Maka dia akan menjawab es krim dan coklat. Bayangkan saja, gadis ini juga tak begitu baik dalam memakan makanan favoritnya itu. Belepotan disana sini.

-Oh Sehun-
          Namja yang nyaris di bilang sempurna ini memang mampu membuat setiap yeoja yang ia lewati meleleh. Tinggi, berbadan bagus, wajah tampan, kulit putih, dan segalanya. Tak hanya fisik, dia memiliki kemampuan otak yang bagus. Dia pintar dalam segala bidang pelajaran, akademik maupun non akademik. Itulah yang membuatnya menjadi bintang di Universitas Nasional Seoul.
          Anak tunggal seorang pengusaha tersohor di negeri ginseng ini mengambil jurusan Sains. Tampan, mapan, dan pintar. Tidak akan ada yang mampu berpaling darinya.
          Namun sungguh di sayangkan, Sikap dingin dan kejamnya itu yang membuat banyak yeoja untuk berpikir 2 kali dalam hal mendekatinya. Walaupun seperti itu, dalam kehidupan realistisnya, dia adalah seorang lelaki manja yang haus akan perhatian dan kasih sayang.
          Kedua orang tuanya sibuk bekerja. Mungkin orang tuanya lupa jika mereka punya anak yang sangat tampan. Pikir Sehun.
          Pertanyaannya, kenapa dia tidak mencari yeoja chingu saja? Pasti banyak yeoja yang menginginkannya. Dan pasti akan sangat menyayangi Sehun. TIDAK. Salah besar jika kalian mengira Sehun punya perasaan itu. Sehun sungguh membenci hal hal berbau seperti itu. Pacar. Bunga. Kencan. Dan sebagainya, Sehun benci itu. Ia tidak suka ada yeoja mendekatinya. Tak sedikitpun. Memikirkannya saja sudah membuat Sehun mual.
          Tapi percayakah kalian jika Sehun ternyata sangat suka mengganggu seorang yeoja yang sangat unik menurut Sehun? Harus percaya. Itulah pekerjaan sehari hari Sehun. Mengganggu yeoja unik itu.

-Naman Sarangbwajo-

          Jaejin melangkahkan kakinya menuju ruangan favoritnya di Universitasnya. Perpustakaan. Dengan menenteng tas ransel berwarna coklatnya itu ia memasuki ruangan yang penuh dengan rak buku dan tersusun rapi berisi buku buku tebal.

“sastra sastra sastra..” ucapnya berulang kali sambil menunjuk satu persatu rak di hadapannya

          Actually, Jaejin sudah sangat hapal di mana rak buku kesayangannya berada. Tapi Jaejin suka bermain main terlebih dahulu sebelum dia membaca buku.

“gotcha! I found you!” lirih Jaejin girang sambil mengambil satu buku tebal bersampul merah tua

          Jaejin duduk di tempat kesukaannya. Pojok Perpusatakaan. Hanya beralas lantai keramik yang dingin.
          Setelah 1 jam ia duduk manis disana dengan otak terus mencerna satu persatu kalimat di buku itu, Jaejin berdiri. Meregangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

“uahh, pikiranku benar benar ruwet kali ini..” gumam Jaejin sembari berjinjit mengembalikan buku di rak semula
“aah, selesai.. aku akan kembali membacamu besok siang! Bye!” kata Jaejin sambil berjalan keluar dari perpusatakaan

          Namun langkah Jaejin terhenti seketika, saat ia melihat seorang lelaki sedang mengembalikan buku ke rak. Tidak ada yang aneh sekilas. Tapi jika di perhatikan dengan cermat. Kenapa namja itu mengembalikan buku Fisika di rak Kimia?

“hei namja! Kau bersekolah lebih dari 12 tahun bukan?” tanya Jaejin sambil menepuk pundak namja itu
“wae?” tanyanya singkat sambil menatap mata Jaejin
“bagaimana bisa kau tidak dapat membedakan dimana letak rak buku Kimia dan Fisika?” tanya Jaejin dengan nada sarkartis
“kenapa memang? Toh petugas perpusatakaan akan memindahakannya sendiri, dan Fisika maupun Kimia menurutku sama saja! Sama sama ilmu Sains! Dan sama sama membuat otakku sakit untuk memikirkannya!” kata namja itu sambil menunjuk pelipisnya dengan jari telunjuknya dan memutar mutarkan jarinya
“geure? Kalau begitu agar kau tidak semakin pusing, sebaiknya kau harus mulai belajar untuk membedakan mana rak Kimia dan mana rak Fisika! Lakukan itu sekarang!” perintah Jaejin
“kau benar benar cerewet! Ahh matta! Kau si gadis penunggu perpustakaan yang selalu memakai chikara berkuping kucing, tentu saja kau tidak sukakan jika aku merusak sedikit tatanan di ruangan favoritmu ini?” tanya namja itu mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejin
“yak! Menjauhlah dariku namja aneh!!” kata Jaejin sambil mendorong keras tubuh namja tinggi itu
“hei! Kau melukaiku!” kata namja itu tak terima
“neo muobahajimaa!! Cepat kembalikan buku Fisika di raknya!!” kata Jaejin dengan nada sedikit keras
“arraseo arraseo! Neo jinjja! Ishh..” namja itu mendesis kesal dan pergi dari hadapan Jaejin
“babbo namja..” Jaejin pun membenarkan topi chikaranya dan melangkah pergi setelah memastikan namja itu benar benar mengembalikan buku Fisika di raknya

-Naman Sarangbwajo-

          Jaejin duduk manis di kursi halte sambil bibir dan lidahnya sibuk dengan es krim rasa coklat kesukaannya itu. Angin dingin mulai terasa menusuk kulit, menembus jaket Yonsei tebal milik Jaejin. Suara gemuruh air hujan juga mulai terdengar mendekat.

“Pi(hujan)? Assh jinjja!!” desis Jaejin kesal

          Gadis berkepribadian 4 dimensi ini memang sangat tidak menyukai hujan. Entah kenapa.

“butuh tumpangan?” sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Jaejin

          Jaejin hanya menatap namja di dalam mobil itu dengan tatapan horror.

“kau tahu, sepertinya hari ini akan hujan deras! Dan aku tidak yakin kau bisa menunggu bus datang sampai 1 jam mendatang..” kata namja itu

          Jaejin masih menatap namja itu.

“tidak usah malu malu! Naiklah! Aku tahu kau sangat membenci hujan!!” kata namja itu
“yak namja! Aku hanya sedikit kurang menyukai hujan! Jadi pergilah, aku baik baik saja jika kau mengkhawatirkan aku!” kata Jaejin
“bukankah itu sama saja? Aku fikir kau tidak akan mengikuti ujian besok jika kau demam!” kata namja itu
“sebaiknya aku kehujanan dan demam daripada aku harus bersamamu!” kata Jaejin
“ahh aku tahu! Kau pasti menolakku karena kau takut aku membawamu pergi dan melakukan hal yang ‘iya iya’ kan?” tanya namja itu
“geure? hei namja pervert! Aku benar benar bosan melihat wajahmu! Melihat tingkahmu terutama! Jadi pergilah sebelum aku akan melemparkan sesuatu ke dalam mobil mahalmu!” ancam Jaejin

          Namja itu hanya tersenyum kecil

“kau mengancamku nona Jung?” tanya namja itu
“anggap saja seperti itu, Oh Sehun! pergilah!!” kata Jaejin akhirnya

          Namja itu tersenyum lebar kali ini. Namja itu adalah Oh Sehun. Reinkarnasi jin ifrit yang selalu mengganggu kehidupan tentram Jaejin. Pikir gadis itu dangkal.

“akhirnya kau memanggilku dengan namaku, sungguh terima kasih banyak atas panggilannya!” kata Sehun
“kalau begitu segeralah pergi! Sebelum aku berubah pikiran untuk tidak pernah memanggilmu dengan namamu lagi!!” kata Jaejin
“arraseo arraseo!! Kau yakin tidak ikut denganku?” tanya Sehun memastikan
“tidak terima kasih..” tolak Jaejin halus
“kalau begitu aku duluan! Bye wanita aneh!” sambung Sehun dan melesat bersama mobil sport merahnya

          Jaejin menghela nafasnya kasar. Kapan ia akan terbebas dari penderitaan ini. Selalu di ganggu oleh namja aneh macam Sehun. Memang, orang lain akan berpikir jika Jaejin sangatlah beruntung. Karena dialah satu satunya yeoja yang Sehun dekati. Kemanapun Jaejin, jika ada masalah di kehidupan Jaejin maka Sehun yang memulainya.

“andaikan aku tidak mengenal namja aneh itu, maka aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini!” gumam Jaejin

          Akhirnya bus datang. Dengan segera Jaejin memasuki bus langganannya itu. Di perjalanan rupanya hujan turun dengan derasnya.

“ssipal(sialan)! aku tidak akan memaafkan siapapun yang telah melakukan tarian bodoh pemanggil hujan seperti ini! Aku besumpah atas nama Richard!!” umpat Jaejin

-Richard disini adalah seekor semut merah peliharaan Jaejin. Betapa bodohnya gadis ini. Memelihara seekor semut dalam akuarium kaca. BODOH-

“ssipal ssipal! Jika saja tadi bukan Sehun yang menawariku untuk pulang bersama! Aku yakin aku sudah duduk manis memakan coklat bersama Richard dan Rubby!!” gumam Jaejin pelan membayangkan hal tadi

-Oke, siapa Ruby? Ruby yang berarti batu permata adalah nama myeolchi (sejenis ikan teri) yang juga di pelihara oleh Jaejin di dalam akuarium kaca yang berbeda dengan Richard. Bedanya dalam akuarium Richard berisi pasir. Sedangkan akuarium Ruby berisi air. Sepertinya Gadis ini perlu di periksakan ke dokter-

“hei, ruby tidak makan coklat..” pekik Jaejin seketika

          Berargumentasi dengan dirinya sendiri membuat Jaejin tak sadar bahwa ia sudah sampai tujuannya. Rumah kecil bernuansa rumah tradisional Korea. Rumahnya.

“aku pulang!!” teriak Jaejin sambil masuk ke dalam rumahnya

          Jantungnya nyaris saja copot ketika melihat seorang lelaki berada di hadapannya.

“yak! Kau Kim Jongin! Bagaimana bisa kau masuk ke dalam rumahku?” tanya Jaejin
“tadi ahjumma menyuruhku kesini, menemanimu.. ahjuma dan ahjushi pergi ke Jepang!!” kata Jongin, sepupu jauh Jaejin
“ahh sudah berangkat rupanya..” dengan cueknya Jaejin pun meninggalkan Jongin dan masuk ke kamarnya
“yak Jung Jaejin! pengertianlah padaku! Aku tidak bisa memasak dan kau satu satunya harapanku agar aku bisa makan!” kata Jongin
“telfon dan pesanlah 2 porsi ayam goreng!!” teriak Jaejin dari kamarnya
“oh Jaejin! sungguh beruntung aku memiliki sepupu sebaik dirimu! Aku mencintaimu yeobbo!” balas Jongin berteriak

          Jaejin mendengar teriakan balasan dari Jongin merinding seketika. Yeobo?. Apakah Jongin tidak memiliki kata lain yang difikirkan untuk memanggil Jaejin? Benar benar menyedihkan memiliki sepupu berotak dangkal seperti Jongin. Pikir Jaejin.

-

          Mentari menggantikan Bulan. Kicauan burung kecil mulai bersahutan di ranting ranting pohon. Cahaya silau matahari juga memaksa masuk ke dalam sela sela jendela.

“aarh! Aku benar benar mengantuk!!” Sehun mengusap wajahnya ketika ia sudah duduk di ranjangnya

          Ia melirik ke arah jam dinding digitalnya. 06:23 AM.

“OUHH! NAN IJE CHUGOTAA(matilah aku)!!” pekik Sehun menyadari dirinya bangun kesiangan

          Tidak ada waktu 5 menit Sehun sudah menyelasikan aktivitas mandinya. Setelah berpakaian dan sedikit menyisir rambutnya. Sehun langsung mengambil ranselnya untuk segera pergi ke Sekolahnya.

“ahh aku benar benar akan mati! Ini jam dosen Cho!!” kata Sehun di dalam mobilnya

          Mengingat bagaimana cara dosen Cho memperlakukan muridnya benar benar membuat Sehun sakit kepala. Keras. Pastinya Sehun akan mendapat hadiah terindah pagi ini dari dosen yang mengajar mata pelajaran Fisika itu.

“mati aku! Mati aku!!” namja berpostur tubuh tinggi itu terus merutuki dirinya sendiri sambil berlari ke kelasnya yang terletak di lantai 3

          Dan benar saja. Dosen Cho sudah menghadang Sehun di depan pintu. Sehun menggigit bibir bawahnya. Takut.

“Oh Sehun! Kemana saja kau?” tanya dosen Cho dengan nada bicaranya
yang terkesan menakutkan
“saya terlambat seongsaenim, saya bangun kesiangan.” Jawab Sehun
“aku bertanya kau kemana? Bukannya kau kenapa..” kata dosen Cho  acuh

          Di dalam kelasnya. Seluruh teman sekelas Sehun sedang menahan tawa mereka. Betapa lucunya nanti jika mereka melihat Sehun sang penindas dan penguasa harus berjemur di tengah tengah lapangan olah raga.
          Dosen Cho masuk ke kelas tanpa Sehun. Dan kemanakah Sehun? Tentu saja tebakan teman sekelasnya benar. Sehun harus berdiri diam di tengah lapangan sampai jam dosen Cho selesai. 3 jam mendatang.

“ssipal! Akan kubunuh siapapun yang menyumpahiku!!” batin Sehun

          Samar samar ketika Sehun sudah 1 jam berdiri ia melihat seorang yeoja berdiri di sampingnya.

“kenapa kau disini?” tanya Sehun melirik pada yeoja di sampingnya
“kau terlihat menyedihkan berdiri sendiri disini, jadi aku ingin menemanimu..” kata yeoja itu

          Sehun tersenyum kecil.

“gomawo..” kata Sehun

          Yeoja itu masih tak mengalihkan pandangannya pada Sehun. Masih menatap lurus lapangan olah raga yang hijau itu.

“tapi bagaimana bisa kau disini? Kau tidak akan membolos jam bahasa untuk menemaniku kan?” tanya Sehun penasaran

          Gadis itu membenarkan letak topi chikaranya.

“ya! Aku berbohong pada dosen bahasaku bahwa aku tidak mengerjakan tugas! Dan aku memohon pada dosen Moon untuk membiarkanku mendapat hukuman!” kata yeoja itu
“waeyo?” tanya Sehun
“karena aku ingin berterima kasih padamu..” jawab jaejin
“berterima kasih? Memang aku melakukan apa?” tanya Sehun
“karena kemarin kau menawari aku untuk pulang bersamamu..” jawab Jaejin
“tapi, kau tidak pulang bersamaku..” kata Sehun
“kau tahu apa gunanya itu untuk berbaik hati? Kau selalu menggangguku dan kau berbaik hati padaku kemarin. Itu mengejutkan, jadi aku sangat berterima kasih. Walau caramu menawariku pulang memang sedikit menggangguku!” kata yeoja
“Jung Jaejin! kau benar benar aneh!!” kata Sehun

          Yeoja yang ternyata Jung Jaejin itu hanya tersenyum sekilas. 3 jam berakhir. Syukurlah, Sehun dan Jaejin melewatinya begitu lancar.

“kau haus? Mau ku belikan minuman?” tanya Sehun
“tidak usah, aku harus kembali ke kelas! Aku lupa untuk memberikan file pada temanku! Kapan kapan saja!!” kata Jaejin
“bagaimana jika nanti malam?” tanya Sehun
“tidak! Aku tidak akan keluar malam selain bersama Jongin!” kata Jaejin
“Jongin? Siapa dia?” tanya Sehun
“sepupuku..” jawab Jaejin lalu pergi
“syukurlah jika Jongin hanya sepupumu..” kata Sehun lalu pergi ke kantin

-Naman Sarangbwajo-

          Jaejin berlari kecil menuju mini market. Ia mulai berjalan mengelilingi mini market itu.

“gula, roti, ice cream! Okay! Finish!!”

Setelah menyelasikan acara belanjanya itu Jaejin pergi ke café tak jauh dari mini market itu. Jaejin keluar dengan membawa 1 gelas kopi hangat.

“JONGIN! Ini kopimu!!” teriak Jaejin ketika ia menapakan kakinya di lantai kayu rumahnya
“gomawo nae yeobbo!!” kata Jongin menerima kopinya
“sialan kau Jongin! Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi atau aku akan menyobek bibirmu!!” ancam Jaejin
“baiklah, tadi kau beli apa saja?” tanya Jongin

          Jongin memang tahu seperti apa sepupunya itu marah. Tidak punya adab. Menyumpah sembarangan. Mengumpat seenaknya.

“gula untuk Richard, roti untuk ruby, dan ice cream untukku!” jawab Jaejin
“kau benar benar gila jika kau masih memelihara 2 hewan itu!!” kata Jongin

          Jaejin hanya menatap sepupunya itu sekilas.

“biar saja..” kata Jaejin lalu masuk ke kamarnya

          Malam tiba. Tiba-tiba

“jaejin, ada yang mencarimu!” teriak Jongin dari luar kamar Jaejin
“nugu?” tanya Jaejin
“entahlah, dia bilang dia teman kencanmu!” kata Jongin

          Jaejin membuka pintu kamarnya dan menatap Jongin.

“aku tidak pernah punya teman kencan, dan jangan bilang dia adalah Do Kyungsoo!” kata Jaejin
“tentu saja bukan! Kyungsoo bukan termasuk lelaki nekat untuk menemui gadis manisnya semalam ini dan mengajaknya kencan!” kata Jongin
“berhenti bicara omong kosong! Lalu siapa dia? Namja atau yeoja?” tanya Jaejin
“sebaiknya kau temui saja dirinya di bawah, kau tahu! Dia tampan walau tak setampan aku!” kata Jongin

          Mendengar kata tampan tentu saja yang menemuinya kali ini pasti seorang Namja. Tapi siapa yang menemui Jaejin malam malam begini.

“Oh sehun, apa yang kau lakukan disini?” tanya Jaejin kaget

          Namja tinggi menjulang bak tiang listrik itu berdiri dan membungkuk hormat pada Jaejin. Aneh memang.

“aku ingin mengajakmu makan malam!” kata Sehun
“untuk apa?” tanya Jaejin
“aku sangat berterima kasih kau mau menemaniku berdiri di lapangan tadi meski banyak orang yang mencacimu!” kata Sehun
“aku sudah melupakannya, sebaiknya kau pulang!” kata Jaejin
“jebal-yo..” pinta Sehun
“sireo! Aku harus belajar karena minggu depan aku ada ujian!” kata Jaejin
“ujiannya kan minggu depan, kenapa harus belajar sekarang! Kan bisa nanti!” kata Sehun
“kita perlu mempersiapkannya dari awal Oh Sehun!! Aku ingin mendapat nilai sempurna! Camkan itu! Aku ingin semester ini aku lulus sebagai peringkat pertama!” kata Jaejin
“kau terlalu mementingkan hal hal seperti itu! Aku ingin mengajakmu pergi untuk bersenang senang sebentar!!” kata Sehun
“bilang saja kau ingin mengajakku kencan? Iya kan?” tanya Jaejin

          Skak mat. Wajah Sehun merona seketika. Jaejin hanya tersenyum menyeringai.

“jebal jebal, hanya sebentar.. sebentar saja..” pinta Sehun
“sireo!!” Jaejin masih bersikeras
“sekali saja!”
“tidak!”
“kumohon, sekali ini saja.. kumohon..”
“baiklah, 40 menit..”
“60..”
“30..”
“90..”
“10.”
“baiklah, 40 menit!!” kata Sehun mengalah
“aku akan mengambil jaket! Tunggulah!” kata Jaejin lalu masuk ke kamarnya lagi

          Tak berapa lama kemudian Jaejin datang bersama jaket yonsei yang kebesaran untuk tubuh kecilnya.

-Naman Sarangbwajo-

          Jaejin duduk di bangku taman sendiri. Dan tak berapa lama kemudian Sehun datang membawa 2 cangkir plastic kopi hangat.

“ini untukmu..” kata Sehun sambil menyerahkan segelas kopi
“ige mwonde?” tanya Jaejin
“kopi..” jawab Sehun
“aku tidak minum kopi..” kata Jaejin
“mwo? Tapi waktu itu aku melihatmu kembali dari café dengan membawa kopi? Kukira kau suka kopi..” kata Sehun
“kopi tidak baik untuk kesehatanku! Waktu itu aku membelikan untuk Jongin..” kata Jaejin

          Sehun hanya terdiam.

“aku mau es krim..” kata Jaejin
“nae?” tanya Sehun
“AKU. MAU. ES. KRIM.” Kata Jaejin penuh penekanan
“tapi, ini malam hari.. tidak mungkin kau makan es krim di malam sedingin ini! Apalagi di musim dingin! Kau akan sakit!” kata Sehun
“ania, aku sudah biasa makan es krim di malam malam begini.. bahkan lebih malam nanti..” kata Jaejin
“tapi kau bisa saja flu! Bagaimana jika di ujian nanti kau sakit flu dan tidak bisa mengerjakan soal dengan baik! Kau bilang kau mau lulus dengan nilai sempurna dan menjadi peringkat!” kata Sehun
“lalu apa hubungannya dengan es krim?!” tanya Jaejin
“itu bisa membuatmu sakit flu! Dan itu akan mempersulit dirimu saat mengerjakan soal!” kata Sehun
“aku mau es krim..” Jaejin bersikeras
“tidak! Aku tidak akan membelikannya!” kata Sehun
“kalau begitu aku beli sendiri! Tapi aku tidak akan kembali!” kata Jaejin
“aah!! Arraseo arraseo aku belikan! Kau tetap disini!” kata Sehun mengalah lalu pergi membeli es krim
“rasa coklat!!” teriak Jaejin dan di balas dengan lambaian tangan Sehun

          Jaejin hanya tersenyum kecil membayangkan bagaimana nanti dia makan es krim rasa coklat itu.

“ini.” Kata Sehun sambil menyerahkan es krim rasa coklat pada Jaejin
“gomawo..” kata Jaejin lalu sibuk memakan es krimnya

          Sehun mengamati cara Jaejin menghabiskan es krimnya. Sangat lucu. Apalagi coklat yang belepotan kemana-mana.

“kau makan sangat lucu..” kata Sehun

          Entah darimana asalnya, Sehun mengusap bibir Jaejin dengan tissue yang ia genggam sedari tadi. Jaejin hanya terdiam. Kedua jantung insane itu berdetak kencang bersama.

“mi.. mianhae..” kata Sehun

          Suasana canggung menghampiri keduanya. Menelusup di antara keheningan malam di Seoul.

“10 menit lagi..” kata Jaejin
“nae?” tanya Sehun
“kita sudah 30 menit disini.. waktumu hanya 40 menit..” kata Jaejin
“ahh..” Sehun hanya mengangguk
“sebaiknya kau segera membicarakan apa yang ingin kau bicarakan! Sebelum aku tidak mau pegi lagi!” kata Jaejin
“nae..” kata Sehun

          Waktu berjalan lagi. Sehun terlihat sangat frustasi dengan apa yang ingin ia bicarakan.

“5 menit..” kata Jaejin
“Jaejin-sii..” panggil Sehun
“hm?” tanya Jaejin hanya dengan deheman
“argh! Bagaimana aku mengatakannya!!” kata Sehun
“katakan saja apa yang ingin kau katakan!” kata Jaejin cuek
“aku mendapat taruhan oleh teman temanku!” kata Sehun akhrinya
“taruhan apa?” tanya Jaejin
“jika aku dapat mengencanimu selama 2 minggu dan membawamu di pesta ulang tahun Luhan sebagai pasangan maka aku akan mendapatkan hadiah dari mereka..” kata Sehun
“oh, jadi aku adalah taruhan, eoh?” tanya Jaejin
“bukan begitu.. tapi..” perkataan Sehun menggantung
“baiklah! Aku akan menjadi teman kencanmu!” kata Jaejin
“nae? jinjja?” tanya Sehun
“ya saat ulang tahun Luhan nanti.. dan untuk 2 minggu kedepan! Kau jangan ganggu aku!!” kata Jaejin
“tapi? Ba.. bagaimana bisa?” tanya Sehun
“kau jangan temui aku! Jika kita bertemu di jalan, yah saling sapa saja!” kata Jaejin
“aku tidak..” perkataan Sehun terpotong lagi
“waktumu habis! Aku ingin pulang!!” kata Jaejin membenarkan chikaranya dan pergi dari Sehun

          Sehun hanya memandang punggung Jaejin yang semakin menjauh. Sumpah demi seluruh boneka milik Kris, Sehun terlalu mengagumi Jaejin. Kenapa yeoja itu terlalu polos. Bodoh? Pikir Sehun.
          Kenapa yeoja itu selalu membantu Sehun? Padahal Sehun selalu mengusik kehidupan tentramnya.

-Naman Sarangbwajo-

          Sehun sedang bersama keempat sahabatnya duduk di kantin. Chanyeol, Kris, Luhan, dan Tao.

“bagaimana Hun? Kau yakin akan mendekati Jaejin?” tanya Kris
“aku yakin..” jawab Sehun
“wah, kau sangat berani,eoh? Setahuku Jaejin bukan wanita biasa..” kata Tao
“memang..” kata Sehun
“lalu bagaimana?” tanya Luhan
“kemari..” sehun mengisyaratkan pada keempat temannya untuk mendekat ke arahnya
         
          4 lelaki tampan itupun mendekatkan wajah mereka pada Sehun. Berusaha mendengar suara Sehun baik baik.

“aku sudah mengencaninya..” bisik Sehun

          Seketika orange jus yang diminum Chanyeol tersembur keluar dan biscuit yang baru saja sampai di tenggorokan Luhan juga langsung nyantol disana dan tentu saja si rusa itu langsung terbatuk batuk. Sedangkan Tao dan Kris, hanya memandang Sehun dengan tatapan kagum. WOW.

“keotjimal!” kata Chanyeol
“jinjja-oo..” kata Sehun PD
“kalau memang benar, aku mau bukti..” kata Kris
“aku akan membawanya di pesta ultah Luhan nanti..” kata Sehun
“aku masih tidak percaya.. bagaimana jika kau memberi kami foto selcamu dengannya?!” kata Tao

          Nasib berbalik pada Sehun. Buble tea yang baru masuk di mulutnya langsung tersembur keluar.

“haha, kau bohong kan?” tanya Tao
“a.. aniaa!!” kata Sehun
“mulai bohong-mulai bohong-mulai bohong..” tiba tiba Chanyeol, Kris, dan Luhan membuat formasi -mulai bohong ala iklan sna*ker-
“aku tidak bohong! Aku sungguh sungguh!” kata Sehun
“kalau begitu bawakan foto selcamu dengannya! No edit!” kata Tao sambil terkekeh evil

          Dalam hati Sehun benar benar tidak baik. Bagaimana caranya meyakinkan keempat temannya yang idiot itu. Pikir Sehun.

-Naman Sarangbwajo-

“Jaejin!” panggil Sehun ketika Jaejin baru saja keluar dari perpustakaan
“apa?” tanya Jaejin sambil berbalik

          Sehun berlari kecil mendekati Jaejin.

“mau ku antar?” tanya Sehun
“tidak usah! Bukankah aku sudah bilang untuk kau tidak menggangguku selama 2 minggu?” tanya Jaejin
“anu.. ahh.. eotteokhe.. aku..” Sehun terus terbata bata

          Tidak enak baginya untuk mengatakan apa tantangan baru dari empat temannya itu.

“apa?” tanya Jaejin
“temanku, meminta,.. selcaku..” kata Sehun
“mwo? Lalu kenapa bilang padaku? Tinggal kau berikan saja kan..” kata Jaejin
“tapi denganmu..” kata Sehun
“maksudmu selcamu denganku?” tanya Jaejin

          Sehun mengangguk. Ia menunduk tak berani menatap Jaejin.

“hah, aku tidak bisa.. bagaimanapun juga aku sangat benci hal seperti itu. Kamera. Selca. Aegyo. Ah!! Lupakan! Aku benci itu!” kata Jaejin lalu pergi
“jaejin! jaejin!!” panggil Sehun berkali kali namun Jaejin tak bergeming
“ssipal! Terkutuklah kalian orang orang psikopat!” kata Sehun

-Naman Sarangbwajo-

          Jaejin terlihat sedang menepuk nepuk akuarium milik Richard. Entah apa yang ia fikirkan. Matanya terlihat begitu kosong.

“Richard-sii..” panggil Jaejin

          Tentu saja semut merah itu tidak akan menyahut. Jika iya, maka author akan segera berhenti membuat FF.

“kau tahu! Aku sebal dengan Sehun dan teman-temannya! Harga diriku jatuh begitu saja ketika aku menjadi taruhan mereka! Tapi mau apa, aku hanya ingin tahu bagaimana hatiku, setiap bersamanya jantungku selalu berdetak kencnag, dug dug dug, seperti itu! Apa perasaan itu? dan aku harus bagaimana?” tanya Jaejin

          Air mata menggenangi puppy eyes Jaejin. bibir mungilnya mulai bergetar. Wajahnya memerah seketika.

“aku takut harga diriku semakin jatuh di mata Sehun!” Bisik Jaejin
“JAEJIN!! DAPAT SALAM DARI KYUNGSOO!!” teriak Jongin

          Ingin sekali dia mengusir Jongin dari rumahnya. Selama ibunya pergi untuk 1 bulan mendatang. Selama 1 bulan itu Jongin ada di rumah Jaejin.
          Telinganya selalu sakit ketika mendengar Jongin terus menceritakan tentang temannya, Do Kyungsoo. Entah kenapa, Jongin sangat terobsesi untuk mendekatkan Kyungsoo dan Jaejin. Padahal di antara 2 orang itu tidak saling mengenal.

“bodoh. Dasar Jongin bodoh.” Umpat Jaejin
“HEI JAEJIN! SALAM BALIK TIDAK?” tanya Jongin
“aku sudah tidur! Jadi jangan ganggu aku!” kata Jaejin
“ah kau menyebalkan!” teriak Jongin


          Jaejin kembali menenggelamkan wajahnya pada kamus bahasa yang tebalnya sekitar 10 cm itu.

“aku. Ingin. Mati. Sekarang. Juga.” Kata Jaejin terputus putus

          Di setiap kata dia mengetukan kepalanya di kamus dan di ulang beberapa kali. Kenapa yeoja ini tak segera mendapatkan perawatan intensif?

-Naman Sarangbwajo-

          Sehun terus memandangi langit langit kamarnya. Kedua tangannya menopang belakang kepalanya. Sambil tiduran di ranjang empuknya.

“bagaimana caraku agar empat psikopat itu percaya?” gumam Sehun

          Sehun mengacak-acak rambutnya frustasi.

“mereka akan tahu semuanya..” sambung Sehun
“grrhh!! Aku benci seperti ini!!” erang Sehun

          Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
-
From : Tao
To : Me
Kau harus sudah menyimpan foto selcamu dengan hantu penunggu perpustakaan itu, bukan?
-

          Nafas Sehun tercekat. Bagaikan Tao ada di hadapannya dan sedang mencekik lehernya dengan sangat kuat.

“Tao tidak akan melupakan ini..” kata Sehun

          Dia mengusap usap wajahnya kasar. Ponsel Sehun berdering lagi.
2 pesan masuk kali ini.
-
From : Tao
To : Me
Hei idiot! Jangan lupakan janjimu! Aku besok harus melihat selcamu dengan si hantu perpustakaan itu! Jika tidak maka kau berbohong! Dan kau harus membayar kekalahanmu..
-
From : Chanyeol
To : Me
Mendengarmu sudah berkencan dengan Jaejin sepertinya sangat menarik. Aku juga ingin berkencan dengannya setelah kau menyelesaikan taruhannya.
-

          Terkutuklah kau Park Chanyeol! Sehun benar benar marah kali ini. Entah kenapa hatinya seperti tertusuk beribu jarum setelah membaca pesan dari Chanyeol.
          Jaejin bukan benda yang seenaknya dimainkan. Setelah Sehun lalu Chanyeol. Lalu siapa lagi? Apa karena saking polosnya sikap Jaejin membuat ia terlihat sangat murahan? Bulshit. Sehun terus mengumpat.

-Naman Sarangbwajo-

          Sehun sudah di tarik tarik Kris untuk ke kantin. Namun Sehun berusaha menolak. Dia bilang dia sudah kenyang. Padahal sebenarnya dia takut bertemu Tao.
          Sialnya, malah Tao yang datang ke kelasnya bersama Luhan dan Chanyeol.

“hei Sehun! Mana selcamu?” tanya Tao

          Matilah kau Oh Sehun!

“aku.. itu.” Sehun terbata bata

          Tao langsung merebut ponsel Sehun

“andwee!!” kata Sehun mencegah

          Namun Tao sudah tak sabar membuka galeri foto Sehun. Dan melihat seperti apa selcanya bersama Jaejin.

“mwo, mana selcamu?” tanya Tao
“itu.. anu..” wajah Sehun memucat
“kau bohong?” tanya Chanyeol
“a.. ani..” kata Sehun
“kau bohong! Tidak ada bukti yang kuat! Kau harus membayar kekalahanmu!” kata Tao
“sehunnie!” panggil seorang yeoja berchikara dari balik gerombolan orang itu

          Mereka berlima menoleh. Dan seketika mata mereka ingin keluar dari tempatnya.

“ah sepertinya aku mengganggu kalian...” kata Yeoja itu, Jung Jaejin
“a.. aniaa..” kata Sehun

          Jaejin mengeluarkan eye smile terbaiknya. Tangan dari balik punggungnya menyodor di hadapan Sehun.

“aku membuatkan sehunnie bekal pagi ini, aku harap sehunnie suka..” kata Jaejin

          Wajah Sehun memerah. Terutama saat Jaejin memanggilnya dengan sebutan ‘SEHUNIE’. Sehun bisa saja terbang menjauhi keempat temannya.
          Sehun menerima kotak bekal itu.

“ah gomawo..” kata Sehun
“kau tidak ada panggilan sayang?” bisik Luhan
         
          Sehun menatap Luhan dengan deathglarenya dan membuat Luhan terdiam kaku.

“sehunnie, besok temani aku ke toko buku, ya?” tanya Jaejin
“nae.. jaejinnie..” kata Sehun mengangguk ragu

          Jaejin tersenyum dan menampakan ­eyesmile nya lagi.

“kalau begitu aku ke kelas dulu nae! sampai jumpa sehunnie!” Jaejin melambaikan tangannya pada Sehun dan pergi

          Semua teman Sehun menatap Sehun kaget.

“kau. Benar. Berkencan. Dengan. Wanita. Itu.?” Tanya Tao terputus putus

          Sehun mengangguk malu.

“DAEBAK!!” kata ketiga teman lainnya sambil mengacungkan 2 jempol tangan mereka

          Sehun menyeringai kecil. Dalam hatinya ia berteriak girang mengingat Jaejin memanggilnya dengan sebutan ‘Sehunnie’.

-Naman Sarangbwajo-

“JAEJIN!!” panggil Sehun
         
          Jaejin menoleh

“gomawo kau sudah sangat membantuku tadi..” kata Sehun
“gwenchana..” kata Jaejin
“e, apa kau mau ku traktir es krim?” tanya Sehun

          Mendengar kata es krim. Wajah Jaejin merekah, sedetik kemudian dia mengangguk cepat tanpa ragu.

“kalau begitu gajja..” kata Sehun

          Mereka berdua menikmati es krim di kedai es krim langganan Jaejin. semangkuk besar penuh es krim coklat kini sudah di hadapan Jaejin. Matanya begitu terlihat bahagia.

“makanlah yang banyak..” kata Sehun

          Jaejin tak menggubris kata kata Sehun dan mulai memakan es krimnya. Sehun hanya meminum bubble teanya.

“apa setelah taruhanku selesai, kau akan berkencan dengan orang lain?” tanya Sehun
“tidak. Aku tidak pernah mau berkencan.” Kata Jaejin
“tapi sekarang kau sedang berkencan denganku..” kata Sehun
“aku tidak pernah mengatakan kalau ini kencan. Aku hanya taruhan.” Kata Jaejin dan tepat mengenai sasaran

          Hati sehun tertusuk. Mendengar kata ‘taruhan’.

“Jaejin, aku tidak bermaksud untuk..” perkataan Sehun terpotong
“harga diriku jatuh!” kata Jaejin masih sibuk dengan es krimnya
“Jaejin..” panggil Sehun
“aku seperti wanita murahan, bukan?” tanya Jaejin
“Jaejin aku tidak menganggapmu seperti itu..” kata Sehun
“aku sudah terlalu dalam mengubur harga diriku. Wanita sastra yang selalu berdiam di perpustakaan! Yang selalu marah ketika seseorang salah menggunakan bahasa! Dan tidak punya harga diri! Aku murahan!” kata Jaejin
“Jaejin berhentilah mengatakan hal itu..” kata Sehun
“tapi semua yang kulakukan ini memang sedikit berguna untukku..” kata Jaejin menatap Sehun
“maksudmu?” tanya Sehun

          Jaejin hanya tersenyum kecil, mengusap bibirnya dengan tissue.

“terima kasih atas semuanya, kuharap kau masih ingin mentraktirku es krim! Bye!” Jaejin pergi begitu saja

          Mulut Sehun ternganga lebar. Apa ada yang salah dengan otak gadis itu? Sepertinya lama lama membaca buku tebal tebal memang membuat otaknya kacau.

-Naman Sarangbwajo-

          2 minggu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari ulang tahun Luhan. Malam di awal musim semi.
          Sehun sudah menunggu Jaejin di depan rumahnya. Dengan dress putih selutut berenda.
          Sehun tersenyum kecil. Make up tak terlalu mendominasi wajah Jaejin. Masih terlihat natural dan sangat cantik. Walau masih monoton. Karena chikara yang masih saja menempel di kepalanya.

“gajja..” ajak Jaejin
“nae, gajja..” Sehun membukakan pintu mobilnya untuk Jaejin

          Setelah itu, mobil Sehun melesat cepat menuju rumah mewah milik Luhan.
          Baru satu langkah mereka memasuki ruangan besar itu. Jaejin pergi berpamitan untuk ke toilet sebentar. Sedangkan Sehun sudah berkumpul dengan empat temannya.

“dimana teman kencanmu, sehun?” tanya Tao
“sedang ke toilet..” jawab Sehun
“masih pakai chikara?” tanya Luhan sambil membentuk kuping dengan jemarinya(gerakan wolf)

          Sehun mengangguk kecil.
          Tiba tiba suasana menjadi ribut. Sehun menoleh, mengikuti arah keributan. Ternyata sumber keributan itu adalah seorang yeoja cantik yang berjalan ke arah Sehun.
          Langkah yeoja itu semakin dekat. Dan jantung Sehun semakin berdegup kencang. Bahkan wine yang baru saja ia minum keluar begitu saja dari mulutnya. Semua pasang mata menatap yeoja itu kagum. Atau. Heran.

“j.. jae.. jin?..” panggil Sehun terbata

          Jaejin datang menghampiri Sehun dan mengapit lengan Sehun manja.

“ke.. kemana chikaramu?” bisik Sehun

          Ia baru sadar bahwa teman kencannya itu tak lagi mengenakan chikaranya. Itulah salah satu alasan kenapa dia menjadi pusat perhatian semua orang di pesta itu.
          Sementara keempat teman Sehun benar benar seperti baru saja di sengat listrik beraliran tinggi.

“persetan kau Oh Sehun! Bagaimana caramu mendapatkan hal seluar biasa ini?” lirih Chanyeol kesal
“ahh.. e! sebaiknya, bagaimana kalau kita mulai acaranya!” kata Luhan memecah keheningan di ruangan yang luas dan mewah itu

          Pesta pun di mulai. Sangat meriah dan ramai. Mulai dari pemotongan kue dan bla bla bla. Acara terakhir adalah pesta dansa. Dimana semua orang boleh berdansa dengan pasangan mereka di aula itu.
          Ketika music sudah menyala, dan banyak pasangan yang turun ke dance floor. Jaejin hanya diam di sudut aula sambil memperhatikan sekelilingnya .
          Jujur saja, ini pertama kalinya untuk Jaejin menghadiri acara seperti ini. Lalu, dimana Sehun? Namja itu baru saja datang menghampiri Jaejin.

“kau mau?” tanya Sehun menyodorkan segelas wine pada Jaejin
“ania, aku tidak minum wine..” kata Jaejin

          Sehun duduk di samping Jaejin.

“aku tidak tahu bahwa kau akan melakukan hal seperti ini..” kata Sehun
“ini berguna..” kata Jaejin
“mwo?” Sehun menolehkan wajahnya pada Jaejin
“ania..” kata Jaejin sambil tersenyum sekilas
“em, kau mau.. berdansa?” tanya Sehun takut takut
“mianhae, tapi aku tidak suka hal ini..” jawab Jaejin
“sepertinya banyak hal yang kau benci? Hujan, dansa, kopi, wine, kamera. dan..” perkataan Sehun menggantung
“kau..” sambung Jaejin

          Sehun menoleh lagi, kemudian mereka berdua tertawa lepas.

-Naman Sarangbwajo-

          Angin malam yang berhembus pelan itu menemani keheningan yang tercipta antara Sehun dan Jaejin. Mereka berdua melangkahkan kaki di jalanan aspal, menuju rumah Jaejin. Menuju rumah Jaejin memang tak jauh, tapi Jaejin mengajak Sehun untuk berjalan jalan terlebih dahulu di taman dekat rumahnya.

“em Jaejin-sii..” panggil Sehun
“hm?” Jaejin hanya menyambutnya dengan deheman
“aku sangat berterima kasih padamu, kau mau membantuku! Yah, aku kira akan sangat sulit melakukan ini sebelumnya..” kata Sehun
“nae, gwenchana..” kata Jaejin
“ah, jaejin-sii, ngomong-ngomong aku benar benar sangat berterima kasih padamu, entah kenapa kau begitu baik padaku..” kata Sehun
“entahlah kenapa aku mau membantumu, padahal kau terlalu sering mengganggu dan mengusik kehidupanku..” kata Jaejin

          Sehun menoleh

“setiap aku bersamamu, jantungku terus berdegup begitu kencang dan wajahku terasa sangat panas. Entahlah kenapa, maka dari itu, aku mencoba menerimamu sebagai teman kencan untuk mengetahui ada apa denganku ini?!” kata Jaejin

          Sehun diam, Jaejin diam. Mereka saling kalut dengan pikiran masing-masing.

“Jaejin-sii..” panggil Sehun
“nae?” tanya Jaejin
“kau pernah jatuh cinta?” tanya Sehun
“jatuh cinta? Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa itu..” kata Jaejin
“kau benar benar tidak pernah jatuh cinta?” tanya Sehun
“sepertinya iya..” jawab Jaejin
“kau terlalu sibuk dengan buku buku tebalmu, sampai kau melupakan hal yang perlu kau ketahui. CINTA.” Kata Sehun penuh penekanan
“aku tidak terlalu memikirkannya..” kata Jaejin
“kau mempelajari sastra, kan? Harusnya kau tahu apa arti cinta itu dengan lebih spesifik..” kata Sehun
“Cinta ya? Ahh entahlah aku tidak tahu apa itu cinta dan jatuh cinta, lalu bagaimana denganmu?” tanya Jaejin balik

          Sehun tersenyum. Angin malam yang dingin masih setia menemani kedua orang yang sedang menapaki jalan sempit beraspal itu.

“aku tahu apa itu cinta, dan aku pernah jatuh cinta..” kata Sehun
“jinjja? Menurutmu apa itu cinta?” tanya Jaejin
“cinta ya? Saat jantung kita berdegup kencang ketika melihat seseorang, saat wajah kita memerah dan panas saat bertemu dengan orang itu, dan rasa sakit dan marah ketika mendengar orang itu jatuh cinta..” kata Sehun
“sulit di mengerti. Lalu kapan kau jatuh cinta?” tanya Jaejin
“sekarang.” Jawab Sehun tegas

          Jaejin menoleh, entah kenapa hatinya sedikit sesak. Wajahnya merah.

“kau kenapa?” tanya Sehun
“aniaa, gwenchana..” jawab Jaejin
“apa kau merasa hatimu sakit atau terasa sesak?” tanya Sehun

          Jaejin memiringkan kepalanya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“ya, sedikit..” jawab Jaejin

          Sehun berhenti dan menahan tangan Jaejin. Ia membalikan tubuh Jaejin sehingga mereka berdua saling berhadapan.

“se.. sehun?”
“kau merasa jantungmu berdetak sangat kencang ketika melihatku?”
“ya..”
“kau merasa wajahmu panas ketika bersamaku?”
“ya..”
“kau merasa hatimu sesak ketika aku jatuh cinta?”
“..em.. ya..”
“apa kau mengerti apa itu cinta?”
“ani..”
“tapi kau sekarang sedang jatuh cinta..”
“mwo?”
“kau jatuh cinta, bukankah aku sudah mengatakan bahwa jika seseorang jatuh cinta itu dia akan merasa jantungnya berdegup kencang dan wajahnya panas ketika bersama orang lain, dan merasa hatinya sesak ketika orang lain itu jatuh cinta..”
“aku.. aku jatuh cinta?.. maksudmu.. padamu?”

          Sehun tersenyum mendengar pertanyaan Jaejin yang terkesan polos dan . NAIF.

“kau masih belum bisa mendiskripsakannya, nona Jung?” tanya Sehun
“belum..” Jaejin menggeleng

          Sehun meraih sesuatu dari balik jaket tebalnya. Sebuah topi chikara berbentuk panda. Kemudian ia memakaikannya pada Jaejin.

“aku suka dirimu yang menggunakan chikara..” kata Sehun
“wae?” tanya Jaejin
“karena aku hanya ingin kau menjadi milikku, dan tidak boleh ada orang lain yang menyukaimu selain aku..” kata Sehun
“mwo?” tanya Jaejin kaget

          Sehun menyentuh kedua pipi Jaejin, mendekatkan wajahnya pada Jaejin.
5 cm..
4 cm..
3 cm..
2 cm..
          Ketika bibir Sehun nyaris menyentuh bibir Jaejin, Sehun membuka matanya. Melihat Jaejin yang tengah terpejam takut. Sehun tersenyum kecil dan mengecup kening Jaejin lembut. *kissnya ngga jadi :D#ketawa jahat

“saranghae..” bisik Sehun

          Jaejin menatap mata Sehun tak percaya. Mencari kebohongan di mata coklat Sehun. Nihil.

“naman sarangbwajo! Hanaman saranghanika, Jung Jaejin, saranghae..” ungkap Sehun akhirnya
“oh sehun?”
“kau berjanji hanya akan mencintaiku?”
“aku.. aku..”
“kau berjanji?”
“aku..”
“kau telah berjanji padaku untuk mencintaku seorang saja, saranghae..”
“nado..”
         
          Sehun menarik tengkuk Jaejin dan mengecup bibir chery itu lama. Dan merengkuh tubuh kecil Jaejin ke dalam pelukan hangatnya.


-Naman Sarangbwajo-

Jika semua orang menutup telinga dan matanya, maka hanya akulah yang akan membuka telinga dan mataku untuk mendengar dan melihatmu. Dan jika semua orang menutup hatinya, maka hanya akulah yang akan membuka hatiku untuk membawamu bersamaku, untuk mencintimu sampai akhir nafas ini. Dan cintailah aku seorang sebagai orang yang akan selalu mencintaimu seorang pula.


-THE END-

Gimana endingnya? Gaje bukan? Aduuh author juga agak bingung mau di apakan nanti endingnya waktu author bikin nih FF. Tapi makasih aja buat semuanya yang udah baca FF gaje ini.
Silahkan di tunggu FF selanjutnya..

*soal poster, nei pinjem tubuhnya hyonnie, coz yang mirip ama gue :D #digaplok hyohunnies*
bye! SEE YOU NEXT FF!!


Salam kecup dari istrinya EXO’S panda

Taofu-tea <3